
Meski terasa berat, Lily tetap berusaha membuka matanya karena sinar matahari sudah terlihat dari celah gorden yang masih tertutup, ini semua karena dia begadang semalam.
Dia terkejut saat mengeliat tangannya menyentuh wajah Angga yang masih pulas
"Astagfirullah" Dia bergerak mundur untungnya tidak jatuh.
Sekali lagi dia menatap wajah Angga yang tidur, sama seperti saat membuka matanya wajah Angga sama tenangnya saat tidur.
Lily buru buru membuka selimut melipatnya, dia berdiri dan merapikan sekitarnya. Bungkus snack berserakan di mana mana bahkan ada beberapa bantal yang sudah di lantai. Lily melihat hp yang sempat dia taruh di atas meja, sudah jam setengah sembilan?
Lily buru buru mengambil selimut membawanya ke kamar. Dia buru buru turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Masak yang gampang saja, nasi goreng! Setidaknya untuk mengganjal perut menunggu makan siang.
Selesai memasak sambil menunggu Angga bangun dia mengambil penyedot debu karena menyapu sedikit merepotkan di rumah besar.
Angga mengkerutkan keningnya mendengar suara penyedot debu.
Dia meregangkan tubuhnya, dia masih sangat mengantuk.
Siapa yang menduga kalau dia akan sanggup menonton sampai beberapa episode, tapi dia akui apa yang dia nonton cukup menarik terlebih pemeran utama wanitanya cantik dan konyol.
Angga berdiri kembali meregangkan tubuhnya, dia berlahan membuka tirai yang masih tertutup. Sepertinya Lily sengaja tidak membukanya karena takut mengganggunya.
Anak itu masih saja tidak enakan padanya.
Angga menyugar rambutnya ke belakang, wajahnya terasa panas saat menyadari kalau semalam adalah pertama kalinya mereka tidur di tempat tidur yang sama.
"oh, kakak sudah bangun!" Angga menoleh dan mendapati Lily dengan alat penyedot, terlihat menggemaskan. "Kakak cuci muka, Lily sudah membuat sarapan."
"Iya."
Tidak lama dia dan Lily sudah duduk berhadapan di meja makan, seperti biasa... Masakan Lily selalu sesuai dengan seleranya.
"Besok kamu mau lihat cerdas cermat SHS dan sekolah kita? Anggap saja referensi" kata Angga, dia mengambil kerupuk
"Di mana?"
"Di Aula sekolah." jawab Angga.
"Kalau Lily tidak ada kelas, Lily bakal mampir" ucap Lily
"Ada kok, jam istirahat".
Selesai sarapan Lily kembali merapikan rumah dan karena tidak ada kerjaan Angga ikut membantu dengan menyiram tanaman di halaman.
Memiliki rumah yang lebih kecil sepertinya bukan pilihan buruk. Dia mendongak menatap rumahnya yang besar itu. Atau haruskah dia menyewa asisten rumah tangga? Tapi bagaimana kalau Lily tidak nyaman dengan keberadaan orang lain di dalam rumah?
Dia masuk ke dalam rumah setelah selesai di halaman, saat masuk dia mendapati Lily yang sepertinya juga sudah selesai jadi mereka masuk di dalam kamar masing masing untuk membersihkan diri dari keringat yang menempel.
Mereka berdua duduk berdampingan di depan tv sambil menikmati minuman masing masing, Angga dengan kopi dan Lily dengan teh manis. Mereka berdua menonton si kembar botak yang disetel oleh Angga.
__ADS_1
"Pengen punya anak kembar, seru kayaknya!" Angga mencetuk tiba tiba, Lily menyesap tehnya
"Memang kakak punya turunan kembar?"
Angga berfikir tentang keluarganya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ngak ada"
"Kalau begitu kakak kemungkinan sulit punya anak kembar"
"Memang kamu tidak punya?" Angga menoleh ke arah Lily, gadis itu tersedak teh karena mendengar pertanyaan Angga. "Kenapa?"
Lily menggelengkan kepalanya "Lily juga tidak tahu."
Sorenya mereka masih di sana tapi dengan buku masing masing, Angga mengerjakan tugas untuk tugas beberapa hari lagi sedangkan Lily hanya belajar biasa karena tugasnya sudah selesai sejak semalam sebelum mereka keluar bermain.
"Di sekolah, sudah tidak ada yang gangguin kan?" tanya Angga "Jangan sembunyikan kalau kamu di ganggu"
"Tidak, mereka yang sering gangguin sudah dikeluarkan sekolah" jawab Lily, dia mengkerutkan keningnya karena merasa kurang paham dengan soal di depannya.
"Kak!"
Angga mengalihkan pandangannya ke buku yang baru saja disodorkan Lily.
"Lily kurang pahan dengan soal ini" Lily menunjuk pertanyaan yang dia maksud dengan pulpennya.
Angga melihatnya sebentar "Oh, kamu harus pakai rumus yang ini, lalu...," Angga menjelaskan bagaimana penyelesaiannya yang langsung dipahami Lily
Angga menyadari kalau Lily lebih banyak bicara saat kalau menyangkut pelajaran, terlihat bagaimana dia sangat aktif bertanya, tipe siswa ambis.
Kepalanya serasa mau pecah sekarang.
Mengurus semuanya seorang diri bukanlah hal yang mudah.
"Mau Lily buatin kopi?" Lily menawarkan karena melihat Angga yang terlihat banyak pikiran.
"Boleh" kata Angga, Lily meletakkan pulpennya dan berlari ke dapur.
Angga menatap punggung kecil itu, seandainya Lily tidak bersamanya mungkin Angga tidak bisa menjaga kewarasannya, mungkin dia akan lari ke hal hal negatif untuk menghilangkan rasa frustasi di kepalanya. Beruntung dia memiliki gadis kecil itu, Ayahnya mengenal dirinya terlalu baik makanya memberi Lily sebagai hadiah perpisahan.
Lily meletakkan gelas di depan Angga, tapi saat dia ingin menjauh tangannya di tangkap Angga sampai dia jatuh menimpa Angga.
"Kak?" cicitnya, Angga tidak bergeming dia melingkarkan tangannya di pinggang Lily.
Lily yang tidak pernah sedekat ini dengan laki laki bergerak ingin melepaskan diri tapi Angga tidak melepaskan
"Sebentar saja" Bisiknya "Pikiran kakak kacau, jadi sebentar saja."
Lily berhenti bergerak dia berlahan mendongak menatap Angga yang telentang dibawahnya, Angga menutup wajahnya dengan lengan yang baru saja dia lepaskan dari pinggangnya.
Lily dengan jelas melihat wajah lelah Angga, memang semua yang terjadi setelah meninggalnya orang tua mereka dipikul Angga, Angga sepertinya enggan membuatnya kepikiran.
__ADS_1
Lily menyingkirkan lengannya dari wajahnya, dia menunduk saat merasakan nafas teratur Lily
Gadis itu ketiduran?
Angga terkekeh sepertinya efek begadang masih mempengaruhinya karena Angga juga sama.
Salahkan dramanya!
Tapi karena tidak lama lagi maghrib jadi Angga membangunkannya, kata orang dulu tidur jam segitu pamali.
Ya meski tidak tahu pamalinya apa.
Merasa malu Lily dengan cepat menjauh dan untungnya Angga melepaskannya.
Angga menopang dagunya melihat Lily yang sibuk sendiri mencuci piring.
"Li! Kemari, kakak mau ngomong!"
Lily meletakkan piring di rak piring untuk di keringkan, sambil mengelap tangan di celemek dia berjalan mendekati Angga.
"Ya?"
"Duduk dulu"
Lily menarik kursi dan duduk, dia melihat Angga.
"Kakak mau mempekerjakan Art, bagaimana menurut Lily?"
"Kenapa?"
Angga mengetukkan jarinya di meja "Rumah ini terlalu besar, terlebih kamu tidak mau lagi menyewa pembersih yang selalu datang."
"Tap-"
"Lily!" Angga memotong kalimat gadis itu "Aku menikah bukan untuk menjadikanmu babu di rumah." Angga menepuk tangan Lily yang ada di depannya "Kakak mau cari satpam sebenarnya, tapi mau sekalian dengan ART. Kakak juga tidak tenang kalau kamu sendirian di rumah."
Lily masih diam, mendengar penjelasan Angga dia juga merasa itu masuk akal dan memang rumah itu terlalu besar.
"Kamar juga banyak yang kosong tidak di tempati."
Lily mengangguk pengertian
"Tapi Lily ada permintaan."
"Apa?"
"Tolong cari yang suami isteri"
Angga mengangkat alisnya, melihat kebingungan Angga Lily menjelaskan kenapa.
Lily menjelaskan kalau dia beberapa kali mendengar dari beberapa orang, beberapa pekerja akan melakukan hal hal yang tidak senonoh saat majikan mereka tidak di rumah. Lily tau tidak semua seperti itu tapi apa salahnya mencegahnya, Lily hanya bersikap waspada.
__ADS_1
Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya "Baiklah."
*****