
Lily bingung melihat Ezra yang menghalangi jalannya dan Angga, mereka akan pulang ke rumah.
"Gue minta maaf sama lo soal soto tadi" Ezra menggaruk tengkuknya karena merasa bersalah.
Lily tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan "Bukan salah kakak kok, lagian memang anak SHS itu kan yang lakukan."
"Tetap saja, soto itu punya gue"
"Tidak apa kak, serius!"
Angga menepuk lengan Ezra dia juga mengatakan kalau tidak apa apa, Angga tahu teman sekelasnya itu gampang merasa bersalah meski suka main kasar saat bercanda bersama.
"Udah ah, lo ngehalangin jalan!" Seru Angga, dia menimang nimang kunci mobil di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memainkan ponselnya.
"Woi kita nebeng napa?" Niel dan Hari berlari menyusulnya "Hai Lily"
Lily mengangguk sopan, Niel ingin menepuk kepalanya tapi di tahan Angga "Ya elah posesif banget lo." Dia melihat Lily "Luka lo bagaimana?"
Sebelum menjawab Lily melirik Ezra dengan ekor matanya takut jawabannya makin menambah rasa bersalah kakak kelasnya itu. Lily tersenyum
"Tidak apa apa."
"Anak SHS kebangetan, apa perlu di ba-" Kalimatnya terhenti saat mendapati Angga melirik ke arahnya. Lily langsung menoleh ke arah Angga karena Hari berhenti bicara, tapi Angga sekarang sibuk dengan ponsel sama seperti tadi. Hari menghela nafas dan bertanya pada Ezra "Dia sudah minta maaf?"
"Boro boro" Niel yang menjawab "Baru juga gue masuk dia sudah pergi dengan kelompoknya."
"Ban*ke memang!" Hari mendengus "Ejrak, lo gak papa kan?"
Ezra menunjuk celananya yang masih ada noda kuning dibagian paha. "Kayaknya melepuh"
"Hahahaha.... Hampir kena adek lo noh, hampir lo gak ada keturunan." Tawa Hari berbarengan dengan Niel.
"Kenapa bukan adek lo? Seru tuh berasa kek sunat dua kali"
Ezra menendang dua temannya dan mengumpat kasar "Anji*g memang!"
Angga menghela nafas dia menutup telinga Lily dan menuntunnya ke mobil, dia tidak akan membiarkan istrinya yang masih di bawah umur mendengar teman sekelasnya mengabsen isi kebun binatang.
"Ga! Kita nebeng woi" Teriak Niel, Angga mengacungkan jari tengahnya ke arah mereka tanpa menoleh.
"Gue laporin kak Seto, lo pacaran sama anak di bawah umur!"
Angga menoleh sambil memasang smirk yang sangat menyebalkan.
Angga menjalankan mobil dengan pelan karena Lily tidak memasang sabuk pengaman karena akan sakit saat mengenai lukanya.
"Mau ke apotik beli salep gak?"
__ADS_1
"Tidak usah, kakak yang tadi udah ngasih" ucap Lily dia mengeluarkan salep yang dimaksud dari saku seragamnya.
"Emang cukup?" tanya Angga, Lily menganggukkan kepalanya toh hanya di pakai sampai lepuhannya mengering.
"Art yang bakal bekerja akan datang besok" Beritahu Angga, dia menginjak rem perlahan karena motor tiba tiba menyalip mobil mereka.
"Kenapa cepat sekali?" Lily membuka bungkus coklat yang sempat dia beli di kantin sekolah. "Kakak mau?"
Angga menggelengkan kepalanya "Aku minta om Tio yang cari, beliau mengenal banyak orang jadi aku minta tolong beliau" Jelas Angga dia mengetuk ngetukkan jari di kemudi. Tak lama dia kembali berdecak karena sekali lagi pengendaran ugalan menyalip mereka. "Ini mereka kenapa sih?"
"Sibuk mungkin" timpal Lily, dia melihat keluar kaca mobil membaca satu persatu spanduk di setiap toko yang di lewati.
"Mau cari makan?" tawar Angga saat melewati jejeran pedagang kaki lima
"Kakak mau makan?" Gadis itu melihatnya dan balik bertanya. Angga menggelengkan kepalanya
"Lily?" Lily juga menggeleng dia hanya ingin cepat sampai di rumah untuk tidur. "Ya sudah kakak antar kamu pulang"
"Kakak mau langsung ke kantor?" Angga menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa harus mengantar Lily pulang?" serunya, Lily takut mengganggu jadwal Angga.
"Kakak mau memastikan kamu aman sampai di rumah juga kakak mau ambil berkas penting."
Mendengar penjelasan Angga, Lily menghela nafas lega.
"Ya Pak?" Suara dari seberang langsung terdengar setelah deringan kedua.
Angga melihat ke kaca spion mobil memastikan tidak ada kendaraan yang dekat dengan mobilnya karena dia akan menyebrang.
"Apa rapatnya bisa di undur?" Dia menginjak gas mobil setelah jalan lurus
"Bisa pak!"
"Undur satu jam" perintahnya
"Tapi kalau boleh tahu, apa anda memiliki hal mendesak."
"Urusan sekolah" Jawab Angga, setelah memastikannya sekali lagi kalau rapat bisa di undur Angga memutuskan sambungan telfonnya.
Sambil menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya dia gunakan membuka kancing seragamnya melepaskannya menyisakan kaos biru bertuliskan kalimat bahasa inggris.
Dia kembali mencari nomor untuk dia hubungi.
"Apa?" Suara ketus Niel langsung terdengar, sepertinya masih kesal karena tidak diberi tumpangan olehnya.
"Dimana?" tanya Angga dia membelokkan mobilnya lagi.
__ADS_1
"Siapa?"
"Lo dimana?"
"Di rumah."
"Gue ke sana. Sekalian kasih tahu Ezra dan Hari."
Angga melepaskan earphonenya setelah memutuskan teleponnya dengan Niel.
Angga menghentikan mobilnya di depan rumah Niel. Dia keluar dari mobil sudah dengan pakaian santai padahal tadi saat masuk mobil dia masih memakai seragam lengkap kecuali topi.
Dia melihat Niel sudah di depan terasnya bermain dengan saudara kesayangannya yang suka berkicau
"Halo.halo.halo" Angga mendongak ke burung nuri kesayangan Niel "Halo.halo.halo."
"Balas kek!" kesal Niel karena Angga hanya diam tidak mengubris "tidak beres otak lo!"
"Otak lo yang tidak beres!" Angga berseru ke arahnya, dia berjalan ke kursi rotan, menempelkan pantatnya di sana. "Ezra sama Hari belum datang?"
"Eh bambang, lo ngasih tahu mau ngumpul pas lo sudah di jalan, bagaimana bisa mereka sampai duluan di sini sebelum lo." Omel Nie, dia menunjuk dirinya sendiri "Gue bahkan belum lepas seragam."
Angga tidak mengatakan apa apa lagi, dia mengambil rokok dari sakunya dan mulai menyebatnya.
Niel hanya meliriknya, Angga sedang merokok. Mungkin kalau orang yang baru kenal mereka akan berfikir itu hal biasa dengan cara Angga menyesap rokoknya. Tapi, Niel dan beberapa teman dekatnya sangat mengenal Angga dengan baik. Angga bukan perokok aktif, dia merokok hanya pada saat ingin mau saja dan pada saat pikirannya kalut. Dan saat ini adalah opsi kedua melihat dari cara dia memegang rokok.
Angga yang hanya ingin merokok pasti selalu meletakkan rokoknya di antara jari telunjuk dan tengah seperti orang pada umumnya. Sedangkan Angga yang banyak pikiran selalu memegang rokok di ibu jari dan telunjuknya.
Sekarang Angga memegang batang rokok di antara ibu jari dan telunjuknya.
Niel melemparkan pemantik ke arahnya setelah melihat Angga yang celingak celinguk melihat ke meja.
Tidak butuh waktu lama deru motor Hari dan Ezra muncul.
"Lama!" protes Niel.
"Lama kepala bapak lo" dengus Hari bersamaan dengan Ezra.
"Gue bahkan belum makan, njirrr" ucap Hari menggosok perutnya yang sama sekali tidak ada kotaknya.
Ezra mengulurkan hpnya ke Angga, Angga menatap isi pesan yang dikirim kepadanya.
Angga berdiri mematikan rokok dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
"Ayo pergi" Ucap Angga, mereka saling pandang
Mereka tidak di aniayakan?
__ADS_1
******