Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 84


__ADS_3

Angga menatap gedung di depannya, akhirnya hari ini dia ke kampus dan resmi mengkuti ospek. Kemarin dia seharian di rumahnya, bermain dan jalan jalan dengan Lily.


Dia kembali memarkiran motornya di parkiran motor, sama dengan saat naik sepeda kali ini Angga merantai motornya. Kalau ini pindah tempat, berarti mereka kurang kerjaan dan terlalu niat.


Angga mengeluarkan atribut dari kresek yang di jadikan tas, memakai ***** bengeknya yang memperlihatkan dirinya seperti orang gila. Padahal sebelumnya dia yang ketua panitia ospek, sekarang malah dia yang jadi pesertanya.


Tapi sebelum ke lapangan, Angga menuju fakultas bisnis. Dia mencari orang yang meminjamkannya uang untuk membayarnya kembali.


"Heh, ngapain lo di sini?" salah satu mahasiswa menegur Angga, dia memakai pakaian lengkap dan rapi, sepertinya panitia ospek "Sana ke lapangan! Kalau ada urusan sama mahasiswa lain, nanti setelah ospek."


Mau tidak mau Angga mengikut, meski merasa bersalah karena terlalu lama berhutang. Dengan diikuti senior itu, dia berjalan ke arah lapangan yang memang banyak Maba sepertinya.


Langkah Angga terhenti saat mendengar suara dentuman keras, tapi saat hendak melihat pundaknya di tepuk kakak senior itu.


"Jangan ikut campur, lo jalan saja."


Dari nada suara senior itu, Angga menebak ini bukan hal tabu lagi. Dia melirik ke samping dan sekilas melihat mahasiswa tersungkur di lantai, dia tanpa di beritahu pun tahu kalau Mahasiswa itu di bully.


"Lo bakal dapat masalah." Suara senior itu terdengar lagi "Lo masih Maba, jangan sampai berurusan dengan kelompok itu."


Angga menoleh ke seniornya itu, "Kenapa? Banyaknya mahasiswa di sini, kenapa diam saja?"


Senior itu mengangkat alisnya "Dan terkena masalah? Sudahlah, lo mending diam dan belajar dengan tenang."


Angga diam sebentar, ekor matanya melirik ke arah gang kecil di sana. Dia menarik nafas berlahan dan melangkah maju, benar! Cukup di SMA saja dia berurusan dengan berandalan.


Sudahlah!


Dia kembali ke lapangan, tapi kepalanya terpenuhi dengan kejadian tadi. Senior itu melihatnya dan memberi isyarat dan memberi isyarat agar dia tidak mengatakan apa apa.


Ini semua karena pak Juan! Kalau saja dia tidak di jadikan osis, dia pasti akan diam saja.


Sial!


Sebaiknya dia harus apa? Dia juga tidak ingin diam saja, tapi tidak mau terlibat juga!


Plak!


Angga memegang kepalanya karena di pukul tiba tiba, dia menoleh dan mendapati Ezra yang hanya menyeringai.


"Lo kehabisan obat, ya?" Ezra bertanya tanpa dosa "Makanya rajin rajin ke psikiater!"


"Lo saja yang ke sana!" Angga mendengus.


Jam setengah delapan, semua peserta ospek sudah berkumpul. Karena terbiasa dengan suasana tenang, Angga sekarang sedikit pusing karena suara riuh.


"Kapan ini kelarnya?" Angga memegang kepalanya, dia mengangkat kepalanya ke depan.


Segerombolan senior baru datang, mereka berpenampilan sedikit urakan. Tapi bukan itu fokus Angga, melainkan salah satu dari mereka tampak memar dia terlihat menunduk sambil memegang perutnya.


Dia orang yang dia lihat tadi!


Ezra menyenggolnya "Itu kenapa bonyok begitu?" dia bertanya sambil berbisik

__ADS_1


"Stt... Diam saja!"


Ezra kembali berbisik "Lo gak penasaran? Biasanya lo paling kepo soal beginian!"


Angga hanya berdecak tapi tidak mengatakan apa apa, dia memang penasaran tapi tidak berniat melakukan apa apa.


Akhh.. Sial!


Bayangan Lily muncul di kepalanya, bayangan gadis itu dibully dan tidak ada yang membantunya. Apa dia hanya akan menonton saja? Tapi Angga sama sekali tidak tahu situasinya.


"Lo penasaran kan?" bisik Ezra, Angga hanya mendelik kearahnya membuat Ezra merapatkan bibirnya. Tapi dia kembali mencetuk "Tapi muka lo gak bisa bohong!"


"Diam gak lo! Gue pusing sekarang, pekerjaan gue numpuk."


Mereka berdua bertepuk tangan bersama dengan yang lainnya, salah satu dosen baru saja menyelesaikan amanatnya.


"Oh!" Angga tersentak melihat ketua BEM. Ezra melihatnya


"Lo kenal sama ketua BEMnya?"


Angga mengangguk kepalanya "Pernah ketemu."


Ketua BEM itu yang meminjamkannya uang beberapa minggu lalu, dia yang Angga cari pagi tadi. Karena sudah tahu, Angga tidak perlu repot repot mencarinya nanti. Berbeda dengan yang dia temui, sekarang dia terlihat lebih berwibawa dengan almamaternya.


"Ingat, lo sudah ada Lily! Jangan sampai lo kesemsem sama ketua BEM." goda Ezra, Angga menendang kakinya kesal.


"Gue normal!"


****


"Lo lagi?" Senior yang dia temui tadi tidak sengaja berpapasan dengannya. "Lo mau apa?"


"Gue nyari kak Indra." jawab Angga


"Ngapain nyariin Indra? Kalau lo berfikir lapor soal pagi tadi, lupain saja." dia bersedekap sambil menatap Angga, dia menghela nafas "Lo jangan macam ma-"


"Gue cuma mau bayar hutang!" ucap Angga, dia malas mendengar larangan senior itu "Beberapa minggu lalu, gue minjem duit!"


"Kenapa?"


Mereka menoleh dan mendapati Indra yang baru datang, dia sepertinya dari ke ruang salah satu dosen.


"Dia nyariin lo, Ndra!" senior itu menunjuk Angga.


Indra menoleh ke Angga dan berseru "Oh kamu, kenapa?"


Angga tidak mengatakan apa apa, dia merogoh sakunya dan mengambil uang di sana. Setelah menemukannya, dia mendekati Indra dan menyerahkannya.


"Terima kasih." ucap Angga, Indra hendak menolak tapi Angga kembali berkata "Gue berhutang bukan meminta."


Di belakang mereka, senior yang tadi hanya mengkerutkan keningnya. Dipikir bagaimana pun, Angga sedikit berbeda dari Maba pada umumnya.


Biasanya Maba akan gugup saat bertemu dengan senior, tapi Maba ini sama sekali tidak ada gugupnya. Auranya juga sangat menonjol, berdiri di samping Indra pun yang terkenal berwibawa tampak biasa saja.

__ADS_1


"Siapa anak ini?" gumamnya.


"Oke gue ambil." Indra mengambil uang dari Angga.


Sekali lagi Angga mengucapkan terima kasih, dia hendak pamit tapi berhenti saat mendengar suara berisik dari samping gedung. Angga berdecak dan membalikkan badannya, Indra yang ada di sampingnya hendak mencegah tapi gagal.


Angga berjalan ke samping dan mendapati siswa tadi berlutut, di depannya beberapa mahasiswa tertawa tawa sambil merokok. Angga mendekat dan menarik orang yang berlutut itu untuk berdiri, dia menatap para senior yang sepertinya kaget.


Sepertinya mereka tidak pernah diintrupsi sebelumnya.


"Wow.. Wow.. Siapa pahlawan ini?" Dia mendekat dan menarik kerah baju Angga "Lo jangan sok jadi pah-akhh..hh!"


Angga memutar tangannya agar terlepas dari kerahnya, dia memegang kepala senior itu dan menariknya untuk membungkuk padanya.


"Woi bangs*t! LO GAK TAU GUE SIAPA HAH?"


"Tidak penting!" ucap Angga


"Akhhh..." Dia makin menjerit saat Angga makin memelintir tangannya.


Angga paling benci Pembully!


Mereka yang melihat itu terkejut, terutama senior yang terus melarangnya. Angga menyeringai ke arah senior pembully lainnya, siapapun melihatnya akan merasa kesal.


"Le...lepaskan dia, uhuk!" Senior yang dia tolong tadi menahan tangan Angga. "Kalau sampai terdengar sama... Sama... Dero, lo bisa jadi sasar-" Angga melihatnya


"Apa gue peduli?"


"Lo bilang begitu karena baru!" Indra mendekati mereka, dia menarik tangan Angga agar melepaskannya "Dia anak dari orang penting! Lo bisa dapat masalah!"


"HAHAHAHAHA... lo dengar itu? Lo gak bakal lep-ugh!" Orang yang Angga pelintir tersungkur ke tanah karena lututnya di tendang.


Angga jongkok di depannya, dia mengeluarkan rokok menyalakan api dan menyesapnya. Dia menarik rambut seniornya itu sambil menyeringai, tak lama dia meniupkan asap rokok yang dia hisap ke wajah sang senior.


Sekarang siapa yang terlihat seperti penjahat?


"Apa jabatan Ayahnya? Menteri? Anggota DPR? DPRI? Mahkamah agung? Ketua konstitusi?" Angga menepuk pipi seniornya "Menurut lo, apa yang bisa dilakukan Ayahnya, kalau kelakuan anaknya tersebar? Sebaiknya lo diam."


Angga melepaskannya dan kembali berdiri, dia mematikan rokoknya dan membuangnya di tempat sampah. Dia menoleh ke arah yang lainnya.


"Maaf mengatakan ini pada kalian, tapi senior... Kalian terlalu pengecut. Dia hanya seorang diri, apa yang kalian takutkan? Apa dia punya geng?"


Indra menghela nafas "Dia punya aliansi di luar kampus. Lo sebaiknya hati hati."


"Aliansi? Apa dia bagian dari Anjing Gila?"


"Lo.. Bagaimana lo tau itu?" Mereka tampak kaget, bahkan senior yang membully itu.


Sepertinya itu tabu untuk di sebutkan di sini!


Angga hanya menggelengkan kepalanya. "Mereka hanya kumpulan kriminal pengecut yang mengandalkan anak muda." Ada nada tidak senang dari suaranya.


Dia mendengus tidak habis fikir, apa dia masih harus berurusan dengan mereka?

__ADS_1


Dia bosan!


__ADS_2