
Wanita itu akhirnya pergi tentunya setelah mengatakan beberapa hal yang tidak enak di dengar. Lily mendongak menatap Angga yang menyeringai ke orang yang baru saja pergi itu, rasa puas terlihat jelas di wajahnya
"Emang iya, Ayah punya hutang ke keluarga kakak?''
Seringai Angga hilang mendengar pertanyaan konyol Lily, dia menundukkan kepalanya menatap gadis dengan pipi kemerahan karena kulitnya yang putih.
"Tidak ada" dia berbalik membuka kembali pintu yang sempat tertutup "tapi kamu tidak apa apa?"
Lily menggelengkan kepalanya "Lily sudah biasa"
"Memang tante tadi siapanya Lily?"
"Tante, adik tirinya Ayah" jawab Lily dia mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan yang sudah dua minggu dia tinggalkan.
Lily melangkah ke kamar Ayahnya, kamar yang jarang di tempati Ayahnya semenjak sakit tapi aroma sang Ayah masih terasa sekali.
Sambil berusaha menahan tangis, Lily masuk mengumpulkan barang barang yang harus dia rapikan, dia memisahkan barang barang yang mana harus dia simpan dan mana yang sudah tidak layak simpan.
Tidak cukup sepuluh menit dia terduduk tidak kuat lagi menahan air matanya, dia merindukan Ayahnya.
Angga hanya berdiri di ambang pintu kamar Ayahnya Lily memperhatikan bahu gadis yang duduk di lantai bergetar dengan hebat karena tangis yang tertahan.
Dia tidak berniat menghibur Lily karena tahu bagaimana perasaan sakit yang dirasakan gadis itu, dia merasakannya juga.
Angga membalikkan tubuhnya menuju ruang tamu sambil menghapus air matanya yang terjatuh, Dia akan memberi Lily waktu sendiri dulu.
Hampir 2 jam Lily keluar masih sangat kentara kalau baru saja menangis melihat pipi dan hidungnya makin memerah, wajahnya masih sangat sembab.
"Lily gak ngehambat waktu kakak kan?" Tanya Lily dia sadar diri kalau dia terlalu lama di kamar Almarhum Ayahnya.
Angga menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau Lily bisa melakukannya sampai seharian pun dia tidak masalah.
Lily mengangguk dan kembali ke kamar Ayahnya dengan kardus yang memang selalu ada di ruangan yang Ayahnya jadikan gudang.
"Butuh bantuan?" Tanya Angga berjalan masuk ke kamar Ayah Lily
Lily menggelengkan kepalanya, dia sedang mengumpulkan koran bekas dan majalah bisnis yang sudah lama, dia berniat membakarnya karena hanya menjadi sampah kalau terus di simpan.
"Mau Lily apakan koran bekas itu?"
"Bakar!"
Angga berjongkok di sampingnya melihat koran koran yang terlihat masih sangat bagus itu
__ADS_1
"Jangan dibakar"
"Kenapa?"
Angga tersenyum ke arah Lily yang sudah melihatnya, Angga makin jelas melihat jejak air mata Lily
"Karena banyak pengumpul sekarang kesusahan menemukan koran lagi, lebih baik kasih ke mereka"
Lily berfikir sebentar, kenapa dia tidak memikirkan itu? Membakarnya hanya menambahkan polusi udara karena asapnya.
"Oke"
Lily meminta bantuan Angga mengumpulkan koran koran yang bertumpuk di bawah meja samping tempat tidur Ayahnya sedangkan Lily membuka lemari sang Ayah untuk merapikan isinya.
Lily mengatur kembali pakaian sang Ayah dengan hati lapang karena perasaan kehilangannya yang besar. Lily mengkerutkan keningnya melihat brankas besar di balik laci paling bawah yang tidak pernah lihat sebelumnya, atau dia tidak pernah memperhatikan kalau benda itu ada?
Lily menariknya keluar beruntungnya tidak tersambung langsung ke lemari hanya saja memang cukup berat. Dia memindahkan ke kasur yang seprainya dia sudah ganti.
Dia memperhatikan berankas itu dengan kening mengkerut, apa sertifikat yang dimaksud tantenya ada di sana?. Dia menatap kode pembuka berankas dengan ekspresi bingung, dia penasaran tapi tidak tahu berapa kodenya.
Karena penasaran Angga mendongak menatap Lily yang hanya berdiam diri, senyumnya mengembang melihat ekspresi Lily yang menurutnya lucu.
"Ada apa?" Dia berdiri sambil bertanya, matanya juga melihat ke berankas.
"Coba tanggal lahir kamu" usul Angga, Lily mencobanya tapi tidak bisa "Tanggal lahir Ayahmu" tetap tidak bisa bahkan Lily memasukkan beberapa angka secara acak yang menurutnya mendekati tanggal lahirnya juga orang tuanya tapi tetap saja tidak bisa.
"Sudahlah" Lily duduk di kasur menyerah, rasa penasarannya pudar dan memilih mengerjakan yang lain saja.
"Ini sebaiknya Lily bawa pulang ke rumah kita" ucap Angga masih menatap berankas itu, meski tidak yakin kalau masih ada isinya karena semua sertifikat di beri kepadanya tapi akan lebih baik kalau berankas itu tetap pada Lily.
Lily tertegun di tempatnya, 'Rumah Kita', entah kenapa perasaannya hangat mendengar seolah sekali lagi dia punya tempat pulang selain Ayahnya.
"Lily? Kamu baik baik saja?"
"Ah iya kak."
Selesai membereskan di kamar sang Ayah, dia berjalan ke kamarnya sendiri. Angga mengikut dibelakangnya dan merasa masuk ke dunia lain saat masuk ke kamar Lily, dia seperti melihat kamar barbie yang sempat dia lihat saat menemani adik Niel menonton.
Semua serba merah muda!
Tapi Angga tetap takjub, selama ini Lily menghabiskan banyak waktu di rumah sakit tapi rumahnya tetap tertata rapi.
Lily keluar dari kamar dan kembali masuk dengan beberapa kardus di tangannya.
__ADS_1
Lily meminta Angga memasukkan komik dan novelnya karena takut akan rusak kalau hanya dibiarkan begitu saja. Sedangkan dia merapikan meja dimana semua pernak pernik kebutuhan menulis.
Angga mengangkat sebelah keningnya melihat banyaknya kertas yang di tempel di depan meja belajar Lily semuanya materi pelajaran, dia melirik Lily sebentar dengan ekor matanya
Pantas dia mendapat nilai tertinggi di ujian masuk.
Sebelumnya dengan posisinya sebagai mantan ketua osis dia bisa dengan muda mengakses informasi tentang siswa yang ada di sekolahnya. Saat tahu Lily adalah Siswi cerdas dia merasa kaget karena jujur saja dia tidak mengharapkannya karena waktu Lily habis di rumah sakit bersama almarhum Ayahnya. Melihat catatan catatan di depannya sekarang dia tidak heran lagi, Lily belajar dengan sangat keras.
Angga mencopot satu persatu catatan Lily dan menyimpannya dengan rapi di dalam box sepatu kosong yang dia temukan di bawah meja Lily.
Angga menggelengkan kepalanya takjub melihat buku buku Lily yang disampul rapi dengan kertas berwarna pink di lapisi lagi dengan plastik agar tidak basah saat terkena air. Tangannya memegang buku paketnya, dari kertasnya yang sudah lecet menandakan kalau buku itu sering dibuka, banyak kertas kecil berwarna warni di dalamnya dengan catatan.
Ini kah perbedaan laki laki dan perempuan?
Angga juga termaksud rajin belajar tapi tidak ada catatan di dalam buku paketnya semuanya dia salin di buku catatan biasa. Angga juga dengan iseng membuka buku catatan Lily dan ya seperti dugaannya semua di catat dengan rapi dan diorganisir dengan baik.
"kakak!"
"Hn?" Angga mengalihkan pandangan dari buku melihat Lily "kenapa?"
"Itu... Sertifikat, apa benar ada sama kakak?" Tanyanya ragu, dia merasa tidak enak menanyakan ini
"Iya" jawab Angga, menarik kursi dia duduk di atasnya meletakkan catatan Lily di meja "Ayah ngasih ke kakak sehari sebelum kita nikah."
Mata Lily membulat kaget dia tidak tahu, terus kenapa ke Angga bukan ke dia?
"Ayah menyuruhku menyimpannya sampai Lily umur 20 tahun, sertifikat sekaligus biaya sekolah Lily" jelas Angga
"Bukan untuk bayar hutang?''
Tawa Angga lepas mendengar pertanyaan konyol Lily, padahal tadi dia sudah berkata tidak.
"Aduh" dia memegang perutnya yang sakit karena tertawa. Dia menatap Lily lagi yang sepertinya kesal "ah kakak minta maaf!"
Dia berdiri mendekati Lily menariknya agar gadis itu yang duduk di kursi.
"Kakak mengatakan hal seperti tadi karena merasa tante kamu kurang baik, maaf." Ucapnya lagi "kalau kakak mengaku sudah menikahi kamu, menurutmu gosip apa yang akan muncul? Kamu akan di tuduh yang tidak tidak"
Lily mengangguk mengerti, yang dikatakan Angga benar kalau dia mengaku pada tantenya tadi pasti akan mendengar kata kata yang jauh lebih pedas
Karena menikah muda kebanyakan terjadi karena kecelakaan bukan? Meski tidak semua.
"Iya, Lily mengerti Kak"
__ADS_1
*****