Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 68


__ADS_3

"Selamat datang!"


Angga tertegun sebentar, entah sudah berapa lama dia tidak merasakan disambut oleh sosok yang seperti ini. Naya menatapnya bingung karena Angga hanya berdiam diri di pintu.


"Angga?"


"Ah iya." sambil menggaruk kepalanya dia berjalan masuk, dia menyalami dua tetua itu. "Lily mana tante?"


"Dia di atas sama Atar."


Angga mengangguk mengerti, dia pun pamit untuk berganti pakaian. Setelah mandi dan membersihkan diri, sebelum turun kembali dia mendatangi kamar Lily lebih dulu.


Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah dua Lily di kasur dan Atar yang tampak pusing di meja belajar, mereka berdua menoleh bersamaan saat pintu terbuka.


"Kak!"


Angga tersenyum berjalan ke arah mereka, hal pertama yang dia lakukan adalah memeriksa suhu badan Lily. Dia menghela nafas lega saat merasakan suhunya turun, dia mengambil duduk di tepi ranjangnya.


"Sudah makan?" tanya Angga,  Lily hanya menganggukkan kepala


"Makan apa? Bayi saja makannya lebih banyak dari dia." cibir Atar, Angga menatap Lily "Dia belum minum obat juga."


"Kamu mau makan apa? Kakak pesankan." tanya Angga, Lily menggelengkan kepalanya dan menjawab kalau dia tidak nafsu makan "Tapi kamu harus tetap makan, Li!"


"Lily sudah makan tadi." jawabnya lemas, Angga menggaruk belakang telinganya.


"Ya sudah minum obat kalau begitu."


Lily menatap obat tablet di atas nakas, dia enggan memakannya karena rasanya yang pahit. Angga meraihnya sekaligus dengan air yang memang ada di sana juga, menyerahkannya ke Lily.


Angga membiarkan gadis itu istirahat setelah memakan obatnya, setelah memastikan Lily tidur dia menyeret Atar keluar dari kamar itu. Atar melepaskan diri dari Angga mengatakan kalau dia bisa jalan sendiri.


"Lily?" tanya Naya saat dua remaja itu turun.


"Tidur habis minum obat." Angga duduk di sofa, dia duduk di samping Ayah Atar. "Tar, Rudi itu umur berapa?"


Mereka menatap Angga, mereka tidak menduga akan menanyakan hal itu.


"Seletingan lo." jawab Atar "Ngapain lo nanya soal anak genderuwo itu?"


"Tidak apa apa hanya penasaran." Angga mengambil camilan di atas meja "Kali aja ketemu, pengen gue sapa." Angga tersenyum ke arah mereka.


Atar berkata "Jangan macam macam lo, setauku dia gabung geng sekarang! Bisa mampus lo dikeroyok."


"Geng ap-" dia mengambil hpnya yang berdering "Oh Kar, gimana?" Dia berdiri dan berjalan menjauh "Anak gengnya Bryan?... Ngak ini urusan pribadi."

__ADS_1


Atar menyipitkan matanya ke arah Angga yang baru saja bergabung dengan mereka, dia sedikit menyimpan kecurigaan.


"Tadi lo tanya kan, Rudi geng mana?" tanya Atar, Angga mengangguk


"Temanku sudah kasih tau." Angga menjawab dia berdiri dan berjalan ke dapur, sebenarnya dia belum makan dari siang karena ingin menyelesaikan pekerjaannya.


Dia mendekati bude Sum dan Mamanya Atar, bertanya apa ada yang bisa dia makan.


"Kamu belum makan?" tanya Naya, Angga menggelengkan kepalanya "Ya udah kamu duduk dulu, tante buatkan makan malam."


Angga mengangkat kepalanya saat kursi di depannya di tarik, Atar duduk di depannya dengan tampang menyelidiki. Angga mengangkat sebelah keningnya, dia bertanya apa arti tatapan Atar.


"Lo jangan main main dengan Rudi."


Angga menopang dagunya di meja. "Gue tidak ada niat main main."


"Apa maksud lo nanyain geng Rudi?"


"Menyapa." Angga mengetukkan telunjuknya di meja "Sapaan biasa."


Atar menghela nafas "Biar gue kasih tahu, bahkan Afiq di pukulnya. Dia juga pengecut! Lo bisa saja dikeroyok." Atar berkata dengan gemas "Terlebih dia anggota geng!"


Angga menatapnya lurus, dia tidak pernah takut di keroyok. Selama ini Angga membereskan beberapa geng geng kecil semuanya beresiko di keroyok, tapi meski demikian sekalipun dia tidak pernah kapok, mungkin ini karena dia memang selalu nekat.


"Memang kenapa kalau dia anggota geng? Toh dia juga masih delapan belas tahun kek gue." Angga berkata dengan malas "Dia yang mulai duluan."


"Gila lo!"


plak


Naya yang hanya mendengar putra bungsunya menyumpai orang, memukul lengannya dengan keras.


Atar mengelus lengannya "Sakit, Ma. Doyan banget nabok anak sendiri, heran!"


Naya tidak menghiraukan, dia meletakkan makanan di depan meja di depan Angga. Melihat itu Atar kembali protes, bagaimana bisa dia tidak di buatkan?


"Tadi kamu bilang sudah makan." ucap Naya begitu mendapat protesan Atar "Mana Mama tahu kalau kamu belum makan."


"Mama selalu begitu, anak sendiri selalu dilupakan!" Naya menyentil keningnya "Aduh!"


"Kalau Mama selalu lupa sama kamu, mungkin kamu sudah di panti asuhan sekarang atau gak di kolong jembatan!"


Angga yang mendengarnya, tetap makan dengan tenang. Sudah lama sekali rumah itu tidak terdengar omelan seorang Ibu, dulu dia yang selalu diomeli Ibunya seperti itu.


Ah Angga merindukan masa lalu yang tidak akan pernah terulang lagi.

__ADS_1


"Menginap di sini kan tante?" tanya Angga begitu dia selesai minum "Ada banyak kamar kok."


"Memang rencananya begitu." jawab Naya, dia bisa melihat senyum anak laki laki yang ada di depannya "Melihat kamu begitu, kamu terlihat seperti Ibumu."


Angga menarik tisu mengelap mulutnya "Tante orang pertama yang bilang saya mirip ibu.


Selesai makan malam, Angga bergabung di ruang keluarga. Meski kadang ketus Ayah Atar tidak pernah tidak menjawab pertanyaannya, Angga memakluminya karena dia akan seperti itu saat ada yang akan mengambil putrinya kelak


Kalau dia punya anak perempuan!


"Om boleh saya tanya sesuatu?" Akbar menatap Angga yang serius, dia hanya mengangguk kecil "Apa hubungan Lyz dan Lily?"


Akbar tertegun, dia tidak menyangka Angga menanyakan hal itu. Dia memperbaiki letak kacamatanya, kemudian bersandar.


"Kenapa kamu tidak tanya Lyz saja?" Angga terdiam "Om yakin kamu pasti sudah menebaknya sendiri kan?"


Angga mengangguk jujur "Tapi kenapa?"


"Ceritanya panjang." Naya menimpali ucapan mereka "Nah itu orangnya datar!"


Mereka menoleh melihat Azka dan Lyz yang masuk bersama, mereka mengkerutkan keningnya saat mendapat tatapan orang di ruang tamu.


"Sebenarnya melihat mereka selalu sama sama, aku curiga dengan hubungan mereka berdua." Cetuk Atar tapi dengan suara pelan.


"Sama!" jawab Afiq lalu mereka berdua tertawa terbahak.


Naya memukul kepala mereka, melotot ke arah mereka berdua yang mengaduh. Dia yakin kalau anak tertuanya itu mendengar apa yang mereka berdua katakan, Naya tidak yakin bisa menahan Azka untuk tidak menjitak kedua adiknya.


"Kenapa?" Azka bertanya, dia mengambil camilan di atas meja, Lyz mengikutinya.


Angga juga melirik mereka dia masih bercerita bersama dengan Ayah Atar, mereka sedang membahas bisnis saat ini. Awalnya Akbar hanya bertanya kondisi pekerjaan Angga, setelahnya mereka membahas banyak hal.


"Kamu berencana membangun bisinis baru?" tanya Lyz setelah dari tadi hanya menjadi pendengar.


"Ya, Lily sepertinya tertarik dengan kuliner." jawab Angga


Angga selalu bisa melihat wajah berbinar Lily saat membahas pekerjaannya, gadis itu beberapa kali mengatakan kalau dia bercita cita punya resto sendiri seperti Angga.


"Kamu berencana menjadikannya owner?"


"Iya." Angga menjelaskan ide bisnis yang ada di kepalanya saat ini.


"Tapi Lily ingin menjadi dokter." Atar menimpali tapi tangannya memainkan balok yang kebetulan dia temukan di samping sofa.


"Tidak masalah, owner tidak harus bekerja kan? Saya akan membiarkan orang lain mengurusnya, Lily hanya perlu melakukan apa yang dia sukai."

__ADS_1


__ADS_2