
"Li!"
Lily yang hendak membuka pintu kamarnya menoleh, Angga mengulurkan semua paperbag yang dia bawa ke arah Lily. Gadis itu melihat ke Angga sebentar lalu ke tangan Angga, dia sedikit bingung kenapa harus menerima paperbag dari Angga.
"Tadi kakak lewat ke pusat perbelanjaan, sekalian saja" jawab Angga melihat kebingungan Lily
Lily mengambilnya "Terimah kasih, tapi kenapa banyak sekali?" tanyanya.
Angga menggaruk tengkuknya yang tiba tiba gatal, dia sedikit malu "Itu... Tidak banyak"
Lily menunduk menatap paperbag di tangannya, dia tersenyum ke arah Angga. "Kakak sudah makan? Mau aku masakin?"
"Boleh?"
Lily menganggukkan kepalanya "Kakak mandi dulu, bau asam!"
"Mana ada."
Lily tertawa, dia dengan cepat masuk ke kamarnya. Menyimpan paperbag paperbag di atas kasur, dia sebenarnya merasa tidak enak menerima tapi lebih tidak enak lagi kalau menolak.
Mengingat nasehat orang tua angkatnya, Lily memutuskan kalau mulai sekarang dia akan belajar bersikap tidak canggung. Mereka menikah, seperti kata Angga, hubungan mereka bukan main main.
Selesai ganti baju, Lily dengan cepat turun ke dapur. Dia membuka kulkas memilih bahan yang akan dia masak, semenjak bekerja kemampuan masak Lily meningkat. Bukan hanya banyaknya jenis yang dia bisa, tapi juga waktunya bisa lebih cepat dari sebelumnya.
"Loh Ibu! kenapa tidak minta saya saja yang masak" Seru Bu Sum, sepertinya dia keluar dari kamar karena suara yang di timbulkan Lily.
"Tidak apa apa, Bi! Saya yang mau masak kok." jawab Lily. "Bibi istirahat saja, pasti capek seharian."
"Tidak kok Bu, saya tidak mengerjakan banyak hal ini." Bi Sum mengambil piring dari lemari piring, dia merapikan diatas meja.
Tak lama Angga turun. Dia sudah menggunakan pakaian yang nyaman, kaos oblong dan celana pendek kaos. Dia mendekati Lily setelah menyapa ART yang juga ada di sana.
"Bau!" seru Angga
"Apanya?" Lily menoleh bingung, dia menciumi masakannya tidak gosong.
"Kamu!" Lily meliriknya tajam, Angga tertawa "Hahahaha... Bercanda cantik!" Dia menoel dagu Lily.
Dia dengan cepat menghindar karena Lily mengangkat spatula ke arahnya. Bi Sum yang melihat majikannya yang saling bercanda, berlahan meninggalkan dapur diam diam.
"Kakak duduk sana, Lily masak. Jangan ganggu!" Dia mendorong punggung Angga ke arah meja makan "Duduk. Jangan ganggu lagi."
"Siap nyonya." Lily menghela nafas sebelum berbalik melanjutkan masaknya, Angga hanya tertawa.
Selesai memasak dia menyajikannya, menatanya dengan rapi di depan Angga. Lily menjilat lidahnya, dia semangat melihatnya.
Lily menarik kursi dan duduk di depan Angga, menatap Angga yang makan. Senyumnya merekah, merasa senang karena masakannya dimakan dengan lahap.
"Lain kali jangan lambat makamnya. Meski kerja tapi makan penting" Lily memindahkan piring kecil berisi udang lebih dekat dengan Angga. "Pelan pelan, ngak bakal ada yang ngambil."
"Enak Li"
"Terimah kasih" ucap Lily sungguh sungguh.
Setelah makan malam, Angga mengajak Lily menonton karena besok juga mereka libur.
"Di kamar kamu itu ada tv loh" kata Angga, Lily kaget.
"Kok Lily tidak pernah lihat?" tanyanya, Angga menyeringai.
Dia meraih tangan Lily, mereka naik ke atas menuju kamar Lily. Begitu masuk, Angga menuju lemari buku. Dia menarik sebuah buku membuat lemari berputar dan memperlihatkan tv.
Angga sangat tahu seluk beluk kamar itu, karena dia adalah pemilik sebelum Lily datang. Lily hanya bisa menatap tidak percaya, kalau saja dia tahu dia tidak perlu turun ke bawah.
__ADS_1
Angga berbalik, dia melihat paperbag di atas kasur "Kamu belum coba ini?"
Lily menoleh, Angga menunjuk barang yang dia belikan untuk Lily. Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Tadi langsung masak."
Angga mengangguk mengerti "Coba kamu pakai, kakak mau lihat. Takutnya ada yang kebesaran, kakak akan tukar ke tokonya."
"Eh?"
Lily mau tidak mau manut, dia mengeluarkan pakaian itu dari paperbag, matanya membulat besar.
"Kakak, ini banyak sekali. Pasti mahal" serunya, dia menyentuh pakaian itu memeriksa kualitasnya.
"Tidak kok, Kamu tidak perlu memikirkannya" ucap Angga, dia meraih salah satu setelan pakaian dan menyodorkannya ke Lily "Coba ini, kakak tadi paling srek sama baju itu."
...
...
"Bagus" Angga mengacungkan jempolnya "Bisa di pakai ke acara formal sekolah" Angga mangguk mangguk. Lily hanya menggaruk lehernya salah tingkah.
Lily mengambil setelan yang lain.
...
...
"Bagus di pakai ngemall." Ucap Angga, dia memberi yang lain
...
...
"Kakak ih" ucapnya malu.
Angga kembali memberikan pakaian untuk dicoba, masih ada sekitaran enam setelan lagi. Lily langsung tumbang, mencoba pakaian ternyata cukup melelahkan.
Angga terkekeh, dia bangkit menyalakan tv. Lily bangun dan memasukkan baju bajunya ke dalam lemari, untung semua baju yang dibelikan Angga semuanya ukuran Lily.
Dia kembali naik ke kasur Lily, menumpuk bantal dan menyalakan ac sebelum berbaring dengan nyaman.
"Kakak mau tidur sini?" Lily menyodorkan selimut miliknya, Angga tidak menjawab tapi hanya menganggukkan kepalanya. "Katanya tidak mau sering sering tidur sama Lily."
"Mau ngedrakor" Jawab Angga enteng, tawa Lily langsung meledak.
"Cie yang ketagihan nonton drakor!" ledek Lily, Angga mendelik "Cie kan... "
"Ceweknya cantik si-aduh" Angga mengelus paha yang dipukul Lily, gadis itu sekarang memang duduk di sampingnya. "Dosa tau mukul mukul"
"Tangan Lily kepeleset." jawabnya. Angga hanya bisa menghela nafas gemas.
"Mana ada kepeleset"
Lily tidak mengatakan apa apa lagi, dia mengangkat semua kakinya naik ke kasur dan mulai serius dengan drama yang mereka putar.
Angga menarik tangan Lily agar tidur di sampingnya, dia melingkarkan tangannya di pundak Lily. Lily sendiri karena sudah memutuskannya untuk bersikap layaknya pasangan, jadi saat Angga memeluknya dia tidak risih lagi seperti sebelumnya.
"Itu nanti kenapa? Mati gak?" tanya Angga, Lily menoleh ke arahnya
__ADS_1
"Ntar kalau Lily kasih tau, jatuhnya spoiler!"
Angga diam, tapi dia tidak tahan dan kembali terus bertanya. Lily menghela nafas panjang, saat Angga bertanya lagi dia langsung memukul tangannya yang masih memeluk Lily.
"Iya iya gak tanya" ucap Angga. "Tapi aku penasaran Li"
"Yaudah. Lily kasih tahu, tapi habis itu kakak nonton sendiri."
Angga menggaruk kepalanya "Ya udah aku diem." Kata Angga. Lily mengangguk puas "Tapi kakak ngomongin yang lain boleh?"
"Boleh"
"Kamu masih sering chat-an ya sama Melanie?" tanya Angga, dia sering mendapati Lily soalnya.
"Iya, tapi kenapa Kakak tanyain soal Kak Melanie?" Lily mengubah posisinya menjadi telentang, kepalanya dia arahkan ke Angga.
"Sepertinya kamu hubungin dia lebih sering daripada Kakak" ketus Angga, Lily mengangkat alisnya.
"Kan Kakak dan Lily serumah, kenapa harus selalu di chat?" tanya Lily bingung.
"Jadi kalau kakak ngak di rumah entar kamu sering chat kan?"
Lily meluruskan pandangannya ke arah langit langit, keningnya mengkerut seolah berfikir keras. Angga yang menatap ekspresi Lily yang menyebalkan, mengangkat tangan dan memencet hidung Lily
"Apa maksud ekspresi itu hah?"
Tawa Lily langsung meledak, meski terdengar aneh karena hidungnya dipencet. Angga melepaskannya, dia kembali memeluk Lily.
"Dua minggu lagi, pengumuman kelulusan akan dilakukan." beritahu Angga, dia menenggelamkan wajahnya di bantal Lily.
"Kakak jadi, mau ngekosnya?" Lily membalikkan badannya menghadap Angga, cowok itu menganggukkan kepalanya. "Bareng siapa nanti?"
"Sendiri" Angga mengubah posisinya menjadi duduk, dia menatap Lily yang terdiam "Kan kakak sudah bilang, tiap ada libur kakak usahain pulang, atau ngak kamu bolehk ke tempat kakak."
Lily ikut duduk, sepertinya mereka lupa kalau sedang nonton tadi. Angga meraih tangan Lily
"Setelah kamu lulus, kita tinggal bareng lagi. Oke?"
Mendengar kalimat Angga, Lily mendongak menatapnya.
"Kakak ngehindarin Lily ya?"
Angga terhenyak, dia balas menatap Lily. Harusnya dia sadar, gadis di depannya cukup sensitif dan peka.
Angga tersenyum kecil kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Takut kakak apa apain Lily sebelum lulus?"
Angga menghela nafas, dia mencari posisi duduk yang nyaman. Tangannya kembali meraih tangan Lily, mengelusnya dengan ibu jarinya.
"Li, jangan goyah kan pertahanan Kakak ya, kakak benar benar berusaha." Tangan Angga terangkat, dia mengusap bawah mata Lily yang menyendu "Kakak juga tidak ingin ngapa ngapain kamu sebelum kakak memastikan perasaan kakak."
Lily menatap mata Angga, cowok itu tersenyum kecil.
"Li, laki laki itu bereng*ek! Mereka bisa melakukan apapun pada perempuan bahkan tanpa perasaan apapun, tapi Kakak tidak mau jadi bagian dari mereka."
"Kakak bukan kok" cicit Lily
"Itu karena kakak nunjukin yang baik baik saja." Angga terkekeh pelan, dia menunduk memainkan jari Lily "Kakak juga mau kamu memastikan perasaan kamu."
"Tapi Lily tidak masalah."
Angga menarik nafas, dia mengangkat wajahnya menatap Lily. "Hanya sampai kamu lulus oke? Kakak mau kita sama sama berusaha, kakak akan belajar lebih dari suka pada Lily, Kakak harap Lily juga."
__ADS_1
Lily hanya menganggukkan kepalanya, kemudian bergumam sebagai jawaban permintaan Angga.
"Iya. Lily akan berusaha dengan baik."