
"Kamu mau makan apa?" Atar bertanya saat mereka tiba di tempat di mana penjual pinggir jalan gerobak berkumpul. "Aku bayarin!"
"Apa saja" jawab Lily "Aku akan bayar sendiri, Kak Angga ngasih uang bulanan lumayan banyak."
Atar mendecih membuat Lily tertawa.
"Bagaimana kalau aku yang mentraktirmu? Jarang jarang loh" goda Lily
"Aku ada duit" ucapnya ketus.
Lily terkekeh sambil berjalan ke arah gerobak "Jangan salahkan aku kalau dompet kamu kosong, aku sekarang boros!"
Sambil menunggu pesanan, Lily mendekati pedagang yang lain. Seperti katanya, Lily benar benar memesan banyak makanan.
Dia memesan beberapa porsi seblak, dia juga membeli beberapa jajanan lainnya. Atar hanya bisa menggelengkan kepalanya, gadis itu sepertinya balas dendam padanya.
Hei... Yang menahan suami mu itu orang di rumah, bukan gue! Ingin rasanya Atar meneriakkan itu pada Lily.
Lily berjongkok di depan penjual sapu tangan, tangannya memilih beberapa. Meski murah, Lily harap Angga mau memakainya.
"Ini di sulam sendiri ya, Nek?" tanya Lily pada penjualnya, dia melihat bordiran pada sapu tangan itu.
"Iya, Nak! Dari pada polos saja." Nenek itu terkekeh, sepertinya dia malu.
Lily tersenyum "Cantik Nek."
"Terimah kasih."
Lily menunduk menatap sapu tangan sapu tangan itu, dia memilih beberapa yang cocok untuk di selipkan di jas. Dari yang dia perhartikan, Angga tipekal yang tidak peduli dengan penampilan.
"Banyak amat, Na?" Atar yang berada di belakang Lily bertanya.
"Ini untuk Kak Angga, dia pakai setiap hari jadi harus beli banyak." jawab Lily masih terus memilih.
"Aku mana?"
Lily menoleh "Kamu mau?
Tapi sejak kapan kamu pakai sapu tangan?"
"Sejak sekarang!"
Lily menggelengkan kepalanya, kenapa Atar bersikap seperti itu. Tapi, Lily tetap memilihkan untuknya, dia memberi Atar tiga. Dia berkata agar Atar bisa menggantinya kalau kotor.
"Kalian pacaran ya?" tanya si nenek.
"Tidak!" dua remaja itu berkata bersamaan. "Kami saudara kembar" jawab Atar.
"Pantas saja, kalian sekilas mirip" ucap si nenek.
Atar dan Lily sudah biasa mendengar kan ucapan seperti itu. Mereka percaya itu, karena menurut banyak orang, orang yang tinggal lama bersama itu lama lama mereka akan mirip. Sahabat pun, kalau selalu bersama, lama lama akan terlihat mirip.
Lily dan Angga dibesarkan bersama layaknya saudara kembar, jadi itu sangat wajar.
__ADS_1
Atar mengekori Lily yang sekarang berjalan ke arah pedagang pakaian, dia mencari kemeja.
"Kan banyak di toko, Na!" keluh Atar.
Lily menghela nafas "Tar, Aku tahu itu." Dia memilih satu kemeja memperhatikannya seksama "Tapi kamu tahu Tar? kak Angga itu selalu memberitahuku, Sebelum mensejahterakan orang berduit tidak ada salahnya membantu orang yang kurang mampu dari kita."
Atar melihat Lily, pemilik punggung kecil itu dulu selalu mengikutinya kemanapun. Sekarang dia terlihat lebih dewasa, tapi sayang dia sudah direbut pria lain, suami.
Ingin rasanya dia marah, tapi sadar dia tidak berhak. Lily dan Angga setuju dengan pernikahan itu, jadi tidak ada alasan orang lain memprotesnya.
Atar hanya menyayangkannya.
Setelah puas, mereka kembali untuk mengambil pesanan mereka, Atar memandang jajanan Lily sambil menelan ludah.
Siapa yang akan menghabiskannya?
"Loh Tar, cewek baru nih?" Lily menoleh mendengar pertanyaan itu, seorang menghampiri Atar.
"Cot lo" Atar mengambil kresek yang pasti lumayan berat.
"Cantik!" dia berkata sambil memperhatikan Lily.
"Jangan ngadi ngadi lo" Dia berdiri depan Lily "Masih ada lagi gak yang mau kamu beli?" tanyanya pada Lily, gadis itu menggelengkan kepalanya.
"YANAAA....!"
Atar memutar bola mata jengah, kapan mereka akan pulang? Abel dan yang lainnya, kenapa malah di sini juga?
Lily tertawa karena teman temannya langsung memeluk, mereka memang lama tidak berjumpa.
"Ngak ada, anak presiden yang belanja" Atar menjawab dengan menggerutu.
Anis tertawa, mereka sangat tahu kalau Atar tidak pernah bisa menolak perintah Lily. Bukan rahasia lagi diantara mereka, Lily adalah princess keluarga Atar.
"Gue gak di traktir nih Tar?" Sera bertanya, dia mencubit pipi gemas
"Bokek gue "
Lily menyipitkan mata ke arahnya, dia tidak setuju dengan ucapan Atar.
"Kamu yang maksa mau bayarin, tadi aku mau bayar kamu tolak."
"Iya deh iya" Kata Atar sambil mengibaskan tangannya "Ayo pulang!"
Lily pamit pada temanya, dengan sedikit berlari dia mengikuti Atar yang berjalan lebih dulu. Dia hendak mengambil bawaan yang di bawa Atar karena pasti berat, tapi Atar menjauhkannya.
Sesampainya di rumah, Atar membawa semua jajanan di dapur. Naya syok melihatnya, dia memelototi putranya. Atar menunjuk ke arah Lily
"Noh biangnya, jangan salahkan Atar"
Lily menyengir "Hehe... Lily kalap mata, Ma"
"Ya sudah, sajikan mumpung belum dingin" Naya hanya menghela nafas.
__ADS_1
"Ok"
Lily dengan gesit mengambil mangkuk di lemari, dia mengatur jajanan di meja makan.
Setelah selesai, Lily memanggil mereka. Tapi saat ini dia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Angga.
"Kak Angga mana?" tanyanya, apa cowok itu pulang? Kenapa tidak memberitahukannya?
"Noh" Afiq menunjuk Angga yang ada di teras samping, melihat dari gerak geriknya, sepertinya dia menelfon.
Angga yang sedang bicara dengan Asistennya menoleh ke arah pintu yang terbuka, Lily muncul dari sana. Lily mendekatinya tanpa mengatakan apa apa, dia hanya menatap Angga.
Angga melambai kearahnya, memberi isyarat agar dia mendekat. Lily dengan patuh menuruti.
"Siapkan saja apa yang saya katakan!" Dia mengulurkan tanganny, menyampirkan anak rambut Lily yang sudah di depannya. "Cukup! Lakukan sesuai intruksi saya."
Angga mematikan telfonnya, meski sudah membuat perubahan yang besar, Angga masih harus sabar karena masih banyak yang memandang rendahnya sebagai anak anak.
Lily memperhatikan Angga yang hanya diam, matanya memandang lurus ke depan. Lily ingin bertanya, tapi saat ini dia masih belum percaya diri untuk melibatkan dirinya ke urusan cowok di depannya.
"Kak!" Lily menggoyangkan lengan Angga
"Hah?"
"Makan seblak yuk, tadi Lily sudah beli" beritahunya, Angga menganggukkan kepalanya.
Angga menepuk kepalanya, dia menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk mengikuti Lily yang masuk lebih dulu.
Mereka semua makan bersama layaknya keluarga. Angga hanya bisa menarik nafas pelan dan menghembuskannya, sudah sejak lama dia tidak merasakan makan bersama satu keluarga.
"Makan, jangan sungkan" Naya menepuk pelan bahu Angga, cowok itu menganggukkan kepalanya.
"Iya tante, terimah kasih."
Lily diam diam mendorongkan kecap ke arah Angga, dia sudah memperhatikannya beberapa bulan ini, Angga sangat suka kecap. Dia mengucapkan terimah kasih dengan nada yang hanya mereka berdua saja bisa mendengarnya.
"Jadi kalian tinggal bersama sekarang?" Suara berat kepala keluarga rumah itu bertanya.
"Iya, semenjak hari pertama" Jawab Angga.
"Kalian satu kamar?" Afiq bertanya, memikirkannya membuatnya merasa kesal. Lily adiknya okey!
"Tidak!" ucap Angga, semua langsung menatap ke arahnya.
"Kenapa nak? Pamali loh suami-istri pisah ranjang." ucap Naya. Lily hanya bisa melihat ke arah Angga.
"Saya juga sempat mendengar hal seperti itu" ucap Angga, dia meletakkan sendoknya "Tapi saat ini kami masih SMA, saya tidak bisa menjamin diri saya untuk tidak ngapa ngapain Lily. Lily masih kelas satu SMA, kalau terjadi sesuatu yang tidak direncanakan, Lily tidak akan bisa melanjutkan sekolahnya."
deg deg deg
Tanpa sadar, Lily menyentuh dadanya yang tiba tiba berdegup kencang, dia juga merasakan wajahnya memanas.
Apa ini? Lily bertanya dalam hatinya. Dia berlahan melirik Angga, dia bisa melihat kalau cowok itu seserius itu.
__ADS_1
"Saya hanya mencegahnya, meski kedepannya saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi saat ini, saya hanya bisa melakukan semampuku" jawab Angga jujur.