Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Setan


__ADS_3

Nyanyian- nyanyian dan seruan setan semakin keras menggema bersorak memecah garis iman menghitamkan segumpal hati yang tidak pernah di isi dengan Asma Allah, Tuhan yang Maha Esa. Tidak bisa di sangkal dan bukan menjadi rahasia umum. Manusia penyembah berhala dan makhluk sesat, jiwanya tergadai bersama jasadnya kekal di dalam api Neraka.


Tepat pukul 02:00 WIB dini hari, Anton menghentakkan tubuh terbangun dari tidurnya. Dia mengalami mimpi buruk, keringat masih bercucuran deras membasahi dahinya. Dia melihat Dodon berubah menjadi sosok pocong terbang mendekatinya. Kain kafannya berlumpur, ada cacing, belatung dan hewan melata lain menggeliat di dalam rongga hidung dan matanya.


Anton menyalakan layar ponsel, dia mencari kontak nama Dodon lalu melakukan panggilan namun tidak terjawab. Hawa dingin menusuk kulit, suara aneh di dekat kursinya menghembus aroma busuk. Anton melotot menoleh ke sisi kirinya.


“Arggghh!” jeritnya.


Dia keluar dari pos satpam lalu berlari kea rah belakang rumah. Anton mengetuk pintu, berharap Riana tau bi Teti mendengar teriakannya. Karena tidak ada yang membuka pintu, dia keliling kea rah pintu lain bahkan sampai mengetuk jendela bagian depan.


“Pak Anton, ada apa?” ucap Wijaya berdiri di belakang menatapnya tajam.


“Tuan, ada hantu di pos” jawab Anton.


Pintu depan terbuka, Rian mengerutkan dahi melihat Anton tampak seperti berbicara sendiri. Dia berteriak memanggil namanya namun dia seperti tidak mendengar.


“Pak Anton!” teriaknya sambil melemparkan sandal sebelah kiri ke arahnya.


“Duh, tidak sopan sekali kau pak melempar sandal seperti itu padahal ada tuan Wijaya disini” ucap Anton.


“Aku tidak melihat ada tuan disana” kata Rian.


“Aku baru saja menjawab pertanyaannya tadi” Anton terkejut melihat Wijaya menghilang di dekatnya.


Bulu kuduk masih merinding, Anton menceritakan mimpi dan penampakan yang dia alami tadi. Dia memutuskan untuk pergi menemui Dodon untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Perjalanan ke perkampungan siluman itu menempuh jalan terjal dan berliku. Sudah tiga jam dia di dalam bus angkutan sampai pada halte pemberhentian di perbatasan kampung.

__ADS_1


“Bapak mau kemana? Sepertinya bapak bukan orang sini” ucap pria tua memakai jaket coklat tersenyum padanya.


“Saya akan menuju alamat ini. Apakah bapak tau tempatnya?” tanya Anton.


Wajah pria itu berubah lalu meletakkan kertas di tangannya, dia menjawab pertanyaan Anton dengan nada berbisik pelan. Sebelumnya dia menarik Anton ke arah sudut halte, pandangan menoleh ke sekitar posisi berjaga.


“sebaiknya bapak segera tinggalkan kampung ini jika bapak ingin selamat. Saya tidak berani ke alamat ini karena orang yang bapak cari sudah meninggal beberapa hari lalu” ucapnya lalu buru-buru pergi.


“Ya ampun. Dodon! Pantas saja firasatku tidak menentu setelah mimpi tadi malam. Aku sudah terlanjur kesini, aku ingin tau semua kabar mengenai kepergian mu dan melihat tempat peristirahatan mu untuk yang terakhir kalinya” gumam Anton.


Dia berjalan kaki memasuki perkampungan, di sore hari berhias langit jingga berselimut kabut putih. Anton sudah berjalan sampai bermil hingga melihat sebuah perumahan di sisi bagian timur. Dia berlari menghampiri namun seluruh pintu jendela dan pintu terkunci rapat. Dia mencoba mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari dalam.


Anton menoleh ke perumahan lainnya, tampak sepi seolah tidak ada penduduk yang tinggal disana. Dia hanya mendengar suara jangkrik, serangga, burung hantu dan burung gagak yang berterbangan tanpa henti. Api obor yang menyala di sepanjang jalan dan setiap halaman rumah.


“Kenapa kampung ini sangat sepi dan terkesan angker? Aku haru segera mencari penginapan sebelum malam tiba” gumam Anton.


Pintu rumah terbuka sedikit dari dalam, mbok Ida memasang wajah marah melotot melihatnya. Dia memperhatikan penampilan Anton dari atas sampai bawah. Memastikan pria itu tidak membawa senjata tajam atau gelagat aneh, dia pun membuka pintu sedikit lebih lebar lagi.


“Anda cari siapa?” tanya mbok Ida.


“Apakah ini rumah pak RT? Saya ingin menanyakan tempat penginapan kepada beliau. Saya datang dari kota untuk mencari sahabat lama” jawab Anton.


“Pak RT sudah meninggal beberapa hari lalu. Sepertinya anda harus kembali pulang karena tidak ada penginapan di kampung ini” ucap mbok Ida ketus.


“Siapa yang datang mbok?” tanya Parsih.

__ADS_1


“Ini bu ada tamu yang mencari Almarhum bapak dan penginapan.”


“Persilahkan saja dia masuk, saya sebentar lagi akan menemuinya” teriak Parsih dari dapur.


Anton duduk di ruang tamu sambil menatap dinding rumah yang terpajang foto-foto dan berbagai macam hiasan antik. Parsih datang membawa sebuah nampan yang berisi secangkir kopi di atasnya. Mbok Ida mengambil alih benda yang di dalam tangannya membantu meletakkan di meja.


“Mengapa bapak mencari suami saya?” tanya Parsih.


“Semula saya hanya ingin menanyakan alamat ini dan sekalian mencari penginapan” ucap Anton menyodorkan kertas.


“Suami saya meninggal di dalam jurang raksasa begitu pula anak saya yang menghilang disana. Saya masih belum percaya mereka telah pergi selamanya. Dodon juga sudah meninggal pak. Kemudian hiks___” ucap Parsih tidak kuasa meneruskan perkataannya.


Mbok Ida mengusap pelan pundak bu Parsih, dia menggelengkan kepala ke arah Anton seolah memberi kode agar pria itu segera pergi. Ketika Anton akan berpamitan, dia melihat sosok bayangan hitam berdiri di depan pintu. Anton berjalan mundur hingga tanpa sengaja menjatuhkan sebuah guci besar melukai kaki dan tangannya.


“Arghhh! Hantu!” jerit Anton.


“Hantu? Tidak salah lagi ini adalah ulah ilmu Transo!” gumam Parsih.


Bu Parsih dan mbok Ida membantu Anton berdiri dan mengobati lukanya. Di tengah ringisannya menahan rasa sakit, Anton mulai membuka pembicaraan. Dia masih ingin mengetahui dimana alamat Dodon berada dan tempat peristirahatannya.


“Bu Parsih, dengan segala kerendahan hati. Tolong bantu saya, beritahu saya dimana alamat Dodon saja bu. Saya akan mencari tau sendiri mengenai pohon raksasa itu” ucap Pak Anton memohon.


“Baiklah kalau begitu. Mbok Ida akan memberikannya nanti pada bapak. Tapi pesan saya sebaiknya bapak jauhi pohon terkutuk itu” ucap Parsih.


“Sepertinya hal berbau mistis, apakah ibu tidak mencari tau dengan menemui orang pintar atau dukun? Saya mempunyai kenalan untuk membantu ibu memecahkan masalah ibu” ucap Anton.

__ADS_1


Melihat mbok Ida berjalan sambil membawa sebuah alamat untuknya, Anton meminta dia untuk memberikan sebuah kertas dan pulpen. Alamat dukun Aes yang kini sudah dia tulis. Parsih menerima seperti orang yang memiliki harapan di dalam sebuah rencana yang sudah persiapkan demi mendapatkan keluarganya kembali.


“Terimakasih pak. Bapak bisa menginap di rumah Karjo. Petugas ketua siskamling yang jaraknya beberapa kilo lagi dari sini. Bawa saja salah satu obor yang terpasang di depan jalan itu sebagai penerangan” ucap Parsih menjelaskan.


__ADS_2