Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Sakit tiada tara


__ADS_3

Ketika Kabaya pergi, Lisa terlihat sosok bayangan tinggi besar sedang melayang. Dia langsung cepat-cepat menutup pintu, jendela begitu rapat-rapat. Dia menggendong bayi Jaka, tanpa melewatkan detik menit yang berlalu meninggalkan bayi yang semakin dia cinta dan sayangi itu. Meskipun bersusah payah mengangkat dan memindahkan barang. Salah satunya tetap memegang posisi gendongan bayi Jaka sedang tangan lainnya melakukan aktivitas.


Hawa dingin semakin menusuk tulang, Lisa mencari selimut bayinya untuk membungkus agar tetap hangat. Dia mengunci kamar kosong milik Transo. Semasa dia mengandung bayi Jaka telah terhitung puluhan kali dia membuang benda-benda mengerikan itu. Namun tetap saja Transo meletakkan di tempat semula. Dalam benak Lisa bertekad, suatu hari nanti tidak ada lagi benda tersebut dan berharap Transo dapat menyadari semua kesalahannya.


Tok,tok (Suara ketukan pintu).


Dita memasuki rumah membawa semangkuk bubur hangat, dia meletakkan di ruang makan lalu tersenyum melihat bayi Jaka.


“Tidak usah repot-repot mbak, saya sudah masak” ucap Lisa.


“Tidak apa-apa. Aku sangat kesepian” jawabannya.


“Hari mulai petang, apakah mbak tidak takut keluar sendiri?” Tanya Lisa sambil mengambilkan segelas air putih untuknya.


“Aku rasa waktu ku sudah tidak lama lagi.” Dita membungkukkan tubuh, dia terlihat semakin lemas. Tangannya meraih tangan Lisa, terasa dingin dan bergetar membuat pikiran Lisa tidak menentu.


“Mbak sakit?” Tanya Lisa.

__ADS_1


“Tidak, tadi malam aku melihat Dodo dan Didi sedang menangis di samping sosok makhluk mengerikan. Aku berteriak berusaha ingin menyelamatkannya tapi makhluk itu berkata, jika ingin menyelamatkan anak ku maka aku harus mengorbankan diri.”


“Jangan mbak setujui permintaan iblis itu, Dodo dan Didi pasti sudah tenang di alam-Nya” ucap Lisa.


“Tidak, harta berlimpah yang aku punya adalah hasil dari pesugihan suamiku. Anak-anak ku jadi tawanan iblis. Aku harus menyelamatkannya” pungkas Dita.


Dia menangis menekan bagian jantung. Lisa mengusap punggungnya, dia paham betul apa yang di rasakan olehnya.


“Aku ingin sekali ke rumah yang pernah aku temui Dodo dan Didi, tapi aku tidak bisa meninggalkan Jaka sendiri” ucap Lisa.


“Tidak, kamu harus menjaga Jaka. Bayi merah yang harum ini sangat rentan pada hal-hal ghaib yang ngin mengganggu. Ini adalah masalah ku” kata Dita.


Dita hanya membalas menggeleng kepala lalu memeluknya. Pesugihan yang di lancarkan oleh suaminya Dita telah menjadi rantai ikatan tumbal. Karena umpan yang di beri setelah beberapa bulam purnama. Setan yang bersarang menjadi lapar akibat tidak menerima lagi sesembahan yang seharusnya di berikan melalui ritual.


“Aku merasa sekarang adalah perjumpaan kita yang terakhir” ucap Dita.


“Tidak! Mbak Dita!” jerit Lisa menarik tangan Dita agar tidak pergi.

__ADS_1


Wanita itu berlari meninggalkannya, Lisa secepatnya menutup pintu sambil memeluk bayi Jaka.


“Maafkan aku mbak Dita, aku tidak bisa menolong mu” batin Lisa berkecamuk.


Tidak seharusnya Lisa tinggal disini,di perkampungan Jin yang di kelilingi para makhluk gentayangan dan iblis pengganggu.


...----------------...


Setelah mengurus mayat Dino, Wijaya menjaga Lisa dari dalam mobil. Dia memarkirkan mobilnya berjarak sedikit mendekat dari rumahnya. Dia memperhatikan Transo berjalan compang-camping mengenakan baju hitam dengan obor di tangannya.


“Lisa!” panggilnya dari luar rumah.


“Mas kamu dari mana?” Tanya Lisa


mengerutkan dahi.


Transo hanya membalas dengan tawa, dia menuju kamar mandi tanpa memperdulikannya. Ketika Lisa akan mengambilkan handuk untuknya. Tercium aroma anyir bercampur bunga yang menyengat.

__ADS_1


“Mas, kamu di dalam sedang apa?”


__ADS_2