Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Resah dan pengisi kelam


__ADS_3

Takkan ada yang perlu di sesalkan. Semua pilihan ini dan rasa sakit masih terus menggerogoti jiwa.


Di pagi hari, wajah pak Hery sangat pucat. Mereka sudah memutuskan untuk pulang dan mengemasi semua barang-barangnya.


“Bapak hendak kemana?” tanya Lisa menyuguhkan secangkir teh hangat.


“Lisa, penyakit bapak kamu kambuh. Ibu akan membawanya ke rumah sakit” ucap bu Hani.


“Pak, biar aku yang mengurus semuanya” ucap Transo sambil mendongakkan kepala.


Pak Hery menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, uang bapak sudah cukup. Bapak berharap kamu bisa jaga Lisa dan Jaka” ucapnya.


Alangkah terpukulnya Lisa, batin sangat tersiksa. Lisa melepaskan kepergian kedua orang tuanya di depan pintu. Semua kabar itu telah di sampaikan oleh Dino kepada Wijaya.

__ADS_1


“Pria itu, selalu membuat masalah!” ucap Wijaya setelah menutup layar ponselnya.


...----------------...


Kekayaan yang di dapat dengan cara instan ibarat uang jin di makan setan. Semua pendapatan di keluarkan tanpa sadar dan cepat sepat habis. Transo menghabiskan beberapa batas emas untuk membeli rumah dan tanah milik perusahaannya. Selain itu, untuk menyambut kelahiran bayi Jaka. Dia menyiapkan sebuah pesta megah dan menyembelih belasan ekor lembu. Wijaya mengamati dari kejauhan segala persiapan pesta megah itu.


“Wahai anak angkat ku Jaka, untung saja ayah sudah mendoakan dan menamai mu terlebih dahulu. Pesta megah sekalipun tidak akan berkaromah jika tidak di landasi dengan tiang agama. Ayah akan selalu menjaga mu walau dari kejauhan” gumam WIjaya.


Lisa dan Transo duduk di kursi bagian atas panggung. Bayi Jaka di tempatkan di dalam keranjang bayi yang di atasnya di gantung mainan beraneka jenis. Para wanita memakai sanggul dan tusuk konde, baju kebaya dan selendang berpadu menari mengikuti iringan musik. Ada wanita di tengah-tengahnya menari seolah terlepas rasa sadar dengan penuh semangat. Dia seperti seolah sudah kerasukan setan, mata tajam menuju ke arah keranjang bayi Jaka. Pandangan Lisa menyadari bahwa anaknya di lirik oleh wanita yang sudah kerasukan itu, membuat gerakan tubuh menggendong bayinya menjauh dari kerumunan para penari.


“Lisa, mau kemana kau?” panggil Transo.


Suara musik yang kuat, para tamu undangan yang ramai membuat suara Transo tenggelam oleh kebisingan. Lisa berlari menuju pinggir jalan. Dia hampir tidak bisa melihat jalan karena kegelapan dan kabut menutupinya. Dengan kuat di memeluk bayi Jaka.

__ADS_1


“Apakah suamiku ini sudah gila? Secara tiba-tiba di menggelar pesta meriah tanpa memperdulikan perasaan ku” gumam Lisa.


Dia hampir terjatuh, sebuah sentuhan tangan menopang tubuhnya. Ciri aroma khas yang sangat familiar, lelaki yang selalu ada di saat dia terdesak dan kesulitan.


“Mas Wijaya?” ucap Lisa.


Wijaya membantunya berjalan, basah tangan Lisa keringat dingin. Wijaya mengangkat bayi Jaka dengan kecupan dan pelukan rasa rindunya.


“Anak ku” ucap Wijaya.


“Mas, aku harus kembali. Mas Transo mencari ku” ujar Lisa memperhatikan wajah lesu Wijaya.


“Ya, mas sangat paham akan keputusan mu. Mas akan mengantar mu sampai mendekati rumah” Wijaya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2