
Gelagat Fredi sangat berbeda dari biasanya, setelah kepulangan dari rumah sakit dia sesekali menggerakkan leher seolah akan mematahkannya. Rara mengernyitkan dahi sambil meletakkan sebuah piring untuk Fredi, Saci dan Denta. Pagi ini mereka sarapan bersama, Fredi mengambil lima butir telur rebus, lahap memakan kunyahan sampai habis. Dia enggan menyentuh nasi goreng yang sudah di sediakan.
“Mas, kau kenapa?” tanya Rara.
“Aku tidak apa-apa. Hari ini aku lembur, jaga anak-anak di rumah” jawan Fredi singkat lalu meraih tas kerja dan pergi berlalu.
Rumah terasa dingin, Saci memasang wajah ketakutan melihat Denta. Jarak duduk mereka sangat jauh, Setelah pindah posisi ke ruang tengah, Denta memamerkan perilaku aneh sampai Saci menangis ketakutan.
“Hiks, hiks. Ibu!” teriak Saci.
Piring yang sedang di cuci di atas wastaple pecah tergelincir dari tangan. Rara panik, dia meninggalkan pecahan yang masih berserakan di atas lantai. Ketika menghampiri Saci, dia memeluk anaknya memperhatikan apapun yang menyakitinya.
“Ada apa?”
“Ibu, aku takut. Aku tidak mau bermain dengan mas Denta lagi” ucapnya.
Brugh. Pragh (Suara gaduh dari ruangan lain).
Rara terkejut, semua benda berserakan begitupun perabotan yang berjatuhan. Sofa di penuhi tumpukan daun kering di atasnya.
__ADS_1
Rara menurunkan Saci di dekat Denta.
“Denta, tolong jaga Saci ya. Tante mau membersihkan rumah.”
Denta membalas dengan anggukan lalu menarik tangan Saci ke tempat lain. Dika menarik tangannya meminta di lepas olehnya. Anak kecil yang sudah di isi makhluk lain itu memiliki wajah wajah yang lain di bagian kepala belakangnya. Berdiri di dekat pinggir kolam, Denta mendorong Saci masuk ke dalam air yang kedalamannya berukuran delapan meter itu. Denta menutupi atas Teratai yang rusak dengan Teratai lain. Dia tersenyum menyeringai.
...----------------...
Yuno mencari Wanita yang dia tabrak tanpa sengaja tadi, sebelum sang fajar tiba. Dia di sesatkan oleh penghuni ghaib perkampungan siluman. Manik mata Yuno hanya mengetahui waktu masih menunjukkan tengah malam.
Dia turun dari mobil menyalakan senter ponsel mencari jejak penerangan. Tempat asing, tidak ada jalan lintas dan yang lebih aneh adalah mobilnya terdampar di jalan sempit dan berliku.
Suara jeritan menggema, dari udara melayang sosok hitam terbang ke arahnya. Yuno mematikan sorot senter, dia membungkukkan tubuh bersembunyi di antara semak-semak.
“Hiihihi” nyaring tawa makhluk melaluinya.
Karena takutnya, dia tergelincir dan terjatuh berguling-guling di tanah dataran tinggi. Sekujur tubuh penuh luka terkena batu dan dahan pohon. Yuno menegakkan tubuh, dia kehilangan ponsel yang terlepas saat jatuh tadi. Hanya cahaya rembulan yang tertutup setengah kabut malam membuat dia bisa samar melihat sekeliling.
“Aku harus tetap kuat” gumamnya meneruskan jalan.
__ADS_1
“Hei sedang apa kau disini?” ucap salah satu pria bertubuh gemuk memikul cangkul di Pundak.
“Pak, apakah kau tau arah jalan lintas. Tolong bantu aku keluar dari sini” ucap Yuno.
Mata pria itu membelalak, dia menurunkan cangkul mengayun ke bagian depan Gerakan mengusir sebelah kiri Yuno.
“Hussh! Pergi!” teriaknya.
“Ayo ikut aku" ucap pria itu lagi.
Mereka menuju ke sebuah rumah tua yang terbuat dari bambu dan anyaman sebagai penutup atapnya. Sekeliling luar dan dalam rumah di kelilingi lilin kecil.
"Pak, jalannya jangan terlalu cepat. Kaki ku sakit sekali" kata Yuno meringis.
“Kau sudah memancing amarah salah satu penghuni perkampungan siluman ini sehingga dia menipu pandangan mu dan menyesatkan. "
“Tolong bantu aku pak, aku sedang terburu-buru mencari adikku yang tinggal di perkampungan yang rumahnya dekat pohon raksasa” kata Yuno.
Pria itu melotot, dia menghela nafas Panjang kemudian menepuk kepalanya sendiri.
__ADS_1
“Manusia iblis itu ada disana. Transo” ucapnya mengguncangkan tubuh Yuno sangat keras.