
"Ternyata firasat ku tidak salah kembali lagi ke rumah! " bentak Transo memutar haluan mobil setelah melihat Dadang pergi dari kejauhan.
Transo membanting tubuh Lisa masuk ke dalam rumah. Dia tidak mengijinkan mengizinkan agar Lisa menyentuh bayinya. Dia di kurung kembali di dalam kamar, selama berjam-jam Lisa berusaha meminta transo agar membukakan pintu untuknya.
“Mas, tolong buka pintunya. Hiks” lirih suara Lisa serak basah menahan rasa dahaga dan sakit pada lahir dan batin yang dia rasa.
“Ini adalah hukuman karena kau selalu ingin pergi dari rumah!” teriak Transo.
Suara lantang itu membuat bayi Jaka menangis dan merasa tidak nyaman. Aroma tubuh Lisa yang seharusnya setiap saat berada di dekatnya. Bahkan sedetik pun dia seolah tidak mengetahui lelaki jahat itu adalah ayah kandungnya sendiri. Tangisan bayi Jaka sangat keras, dia tidak benar-benar tidak menyukai Transo sekalipun telah di berikan susu.
“Hei anak kecil, kenapa kau tidak berhenti menangis” ucap Transo kesal.
“Mas, kasihanilah Jaka. Buka pintunya! hikss" ucap Lisa.
...----------------...
__ADS_1
Setelah pergi dari gubuk, Wijaya dan Sen melajukan mobil menuju rumahnya.
“Sen, kau harus pergi membawa mobil ini menuju rumah Lisa. Kau harus melihat segala gerakannya dan membantunya jika terjadi masalah. Aku akan datang ke esokan harinya setelah semua urusan ku di kantor dan rumah sakit selesai” ucap Wijaya.
“Baik tuan” jawab Sen.
Pria muda yang seharusnya menjalankan tugas sebagai dokter itupun merelakan tugas dan tanggung jawabnya hanya untuk melindungi orang yang dia cinta. Di dalam benaknya nama wanita itu masih terukir dan menjadi tanggung jawabnya sekalipun bukan miliknya. Wijaya adalah lelaki sejati yang selalu memegang teguh perkataannya sejak pertama kali berhasil mendapatkan hati Lisa dan jatuh cinta dengannya.
“Lisa, aku akan selalu menjagamu walau apapun yang terjadi.”
Kata-katanya tidak pernah berubah, bahkan sampai hari ini. Tanggung jawab di hidupnya bertambah dengan kehadiran sosok anak angkat yang dia sayangi. Wijaya mengutus beberapa orang kepercayaan untuk membantu mengurus kantor dan rumah sakitnya.
“Tapi tuan, jarak anda ke kota pusat masih sangat jauh. Biar aku saja yang cari kendaraan untuk ke rumah ibu Lisa” ucap Sen.
“Di perbatasan sini jarang sekali kendaraan melintasi arah perkampungan. Cepat jalankan tugas mu, aku tidak ingin Lisa dan anaknya terluka” kata Wijaya lalu keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Sen melajukan kendaraan dengan cepat sedangkan Wijaya mencari angkutan untuk sampai ke kota. Kekhawatirannya kepada kedua sosok yang dia sayang sama hal nya dengan kerisauan memikirkan nasib arwah ayahnya.
“Pasti ayah tidak tenang di alam sana. Aku harus memanggil Kyai atau ustadz untuk memberikan do’a dan acara tahlilan di rumah” gumam Wijaya.
“Apa yang tuan muda pikirkan? Dia bahkan tidak memikirkan lagi keadaan dirinya sendiri. Siapa sebenarnya ibu Lisa ini” ucap Tuan sen berbicara sendiri di dalam mobil.
Saat dia memasuki wilayah perkampungan, hari sudah petang. Dia sangat terkejut melihat sosok pocong yang masih terikat bagian kepalanya berdiri tepat di tengah jalan. Sen menggerakkan mobilnya untuk mundur, namun kendaraannya itu seperti tertahan oleh sesuatu.
“Kenapa tiba-tiba mobil ini mogok!” ucap Sen.
Dia menyembunyikan kepalanya agar berharap sosok pocong berkain kafan penuh darah itu tidak mengetahui keberadaannya.
Beberapa jam berlalu, Sen tidak lagi melihat sosok penampakan itu. Dia mencoba menyalakan kendaraannya lagi dan membunyikan suara klakson sambil meminta ijin melewati wilayah tersebut.
“Mbah, jangan ganggu. Saya numpang lewat” ucap Sen ketakutan.
__ADS_1
🌿Salam dari penulis. Terimakasih telah singgah di sela waktu kesibukan para pembaca. Jangan lupa tinggalkan dukungannya ya. Terimakasih banyak, berkah selalu~
🌿Ig @arsyalfaza