Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Silap mata


__ADS_3

Luka Fredi di tutup dengan kain, dia menekan berlari mencari kotak P3K. Karena darah tidak berhenti mengalir, dia mencari kunci mobil pergi menuju ke puskesmas terdekat untuk mengobati lukanya. Hari ini sudah bertekad mencari anak dan istrinya. Dia melajukan kendaraan menuju dukun yang pernah dia datangi, perjalanan melewati hutan menempuh perjalanan selama dua jam. Saat dia memasuki wilayah tersebut, langit sudah gelap diiringi suara hewan liar malam di sekitarnya.


“Seingat ku dahulu bahwa ini adalah jalan ke rumah si dukun. Kenapa ada banyak obor di sepanjang jalan?” gumam Fredi.


Dia berjalan diantara obor yang di tancapkan di tepi jalan, para warga tidak terlihat satu pun batang hidung atau berlalu lalang seperti baisa. “Kemana semua orang? Padahal waktu masih menunjukkan pukul 20:00 WIB” gumamnya meneruskan langkah.


Sosok mayat terbang melewati kepalanya, Fredi gelagapan berlari ke salah satu rumah warga mengetuk pintu sangat keras. Tidak ada satupun warga yang membukakan pintu, sampai Fredi memutuskan bersembunyi kandang sapi untuk menghindari penampakan mayat yang mengejar.


“Arggh!”


...----------------...

__ADS_1


“Den bangun!” tepukan pria memakai topi capit menatapnya.


Fredi sayup-sayup membuka mata, dia melihat seluruh tubuhnya masih utuh. Dia di ajak oleh pria yang sangat ramah dan sopan itu menuju ke rumahnya. Disana Fredi di minta untuk menenangkan diri, mereka menyiapkan pakaian ganti dan menyuguhkan makanan juga minuman. Keanehan perilaku warga di malam hari yang hanya melihat dirinya dari balik jendela tapi di pagi hari sambutan warga berbalik begitu hangat.


“Den, apakah den melihat makhluk itu tadi malam? Sebelumnya perkenalkan nama saya Joko. Saya tinggal sendiri disini” ucapnya sambil meneguk air.


“Saya Fredi, saya kesini untuk menemui dukun yang tinggal di bagian sisi hutan. Tapi saya malah menemukan perkampungan dekat hutan ini. Saya juga di kejar makhluk yang mengerikan” ucap Fredi masih dalam keadaan bingung.


Dia tidak tau memulai cerita dari mana, Joko mengerutkan dahi lalu membisikkan sesuatu di dekatnya.


Fredi melotot kepala berputar memikirkan jalan kepastian dari misi awalnya menemukan dukun yang dia cari. Tanpa basa-basi lagi, Fredi berpamitan dan mengucapkan terimakasih. Dia menyodorkan beberapa lembar uang kepada Joko. Tapi pria itu menolak dan tersenyum,dia membukakan pintu rumah sangat lebar dan mempersilahkan Fredi untuk pergi.

__ADS_1


“Den, saya ikhlas membantu, pesan ku adalah jangan pernah kembali ke kampung ini” ucapnya.


“Terimakasih banyak” jawab Fredi menjabat tangan.


Rasa dingin pada telapak tangan pria itu terasa nyata, tersadar sudut pandang Fredi melihat kaki Joko tidak terlalu menapak ke tanah. Dia mempercepat langkah meninggalkannya, di susul lari kecil menolah ke segala arah memastikan ingatan dimana letak rumah dukun yang dia cari.


“Ketemu” gumamnya.


Pria tua membungkuk duduk di bawah pohon, Fredi memastikan dia adalah dukun yang pernah memberikan ilmu kepadanya. Penampilan berubah semakin lusuh dan ringkih.


“Pak, hormat ku pada mu. Aku datang kembali untuk menanyakan dimana keberadaan anak dan istri ku” ucap Fredi berlutut.

__ADS_1


“Manusia terlalu serakah dan lupa akan janji yang dia katakan. Apakah kau lupa pernah menggadaikan darah mu untuk adik mu Lisa? Bagaimana kau mengatakan ingin menyelamatkan yang lain? Pergi! Aku sudah memberikan ilmu ku pada mu, kau harus menjalani sebab akibat dari jalan yang kau pilih” ucap pria tersebut lalu menghilang.


Pandangan tipuan mata hal dunia ghaib, sekeliling Fredi berubah menjadi tanah tandus yang kosong sejauh mata memandang. Begitupula jarak rumah warga yang dia tinggalkan seakan rata dengan tanah.


__ADS_2