
Manusia asalnya dari tanah, tidak oleh bersifat langit. Bahkan ketika kita mencapai gunung tertinggi sekalipun. Orang-orang dari bawah yang melihat kita terlihat sangat kecil di mata mereka. Pencapaian kesuksesan sekalipun sudah berada di atas gunung, akan tetap merasa kurang puas pada manusia yang haus akan kekuasaan atas kehendak yang dia paksa sendiri. Sosok pria penipu yang menenggelamkan wanita yang sudah dia tipu dan khianati itu semakin merajalela dengan berbagai kejahatan dan kekasarannya.
Tidak ada lagi cinta dan kasih sayang setelah menjadikannya sosok suami di mata Lisa. Bahkan sampai hari ini dia tega menampar wajah istrinya sendiri.
Alangkah malangnya nasib Lisa, dia harus menanggung beban berat di setiap hari yang penuh kesengsaraan. Di dalam kamar, dia membasuh air mata yang masih belum bisa berhenti. Dia mengamati lagi buah hati yang kini sedang menatapnya. Lisa berusaha tegar demi Jaka dan harus tetap hidup untuk menjaga anaknya dari kejahatan ayahnya sendiri.
Tiba-tiba tempat tidur Lisa bergerak sendiri, dia sangat panik menaikkan tubuh menuju ke dekat dinding sambil menggenggam erat anaknya. Sosok wanita yang sedang memutar kepalanya keluar dari bawah kasur dengan sorot pupil putih dan merangkak mendekatinya.
“Pergi!” ucap Lisa.
Dia mengucap ayat di dalam hati berharap makhluk itu tidak menyakitinya dan anaknya. Hawa panas, sekujur tubuh begitu merinding. Beberapa menit berlalu, suara ketukan pintu memanggil namanya.
“Mbak Lisa!”
Ketika Lisa membuka pintu, ada Kabaya yang tersenyum langsung mengganggu bayi Jaka. Gelak tawanya terhenti setelah melihat Lisa, Dadang langsung mengerutkan dahi memperhatikan Lisa.
__ADS_1
“Mbak, kenapa wajah mu lebam? Siapa yang berani melakukannya?” tanya Dadang.
“Tidak apa-apa. Mbak hanya terjatuh di kamar mandi, apakah engkau tidak melanjutkan praktek kuliah?” tanya Lisa mengalihkan pembicaraan.
“Mbak, aku membawakan bibit tumbuhan daun kelor. Ijinkan kau menanamnya di halaman rumah” ucap Kabaya begitu bersemangat.
Lisa menunjuk halaman rumah yang Kabaya maksud, tanah gersang tanpa ada bunga yang hidup atau pun rumput liar di atasnya.
“Baiklah nanti siang aku akan kembali membawa teman-teman untuk membantu membuat pekarangan rumah.
“Walaikumsalam” jawab Lisa.
Dia menyimpan bungkusan bibit tumbuhan itu di dalam lemari yang jarang sekali di buka oleh Transo. Lisa teringat akan perkataan si mbah dahulu. Salah satu tumbuhan daun kelor berkhasiat sebagai salah satu obat-obatan herbal dan juga bisa di manfaatkan sebagai tumbuhan pengusir makhluk halus.
“Transo pasti tidak menyukai ini, tapi dengan cara apapun tumbuhan ini harus tetap hidup” gumam Lisa.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat lain, Wijaya menyimpan foto yang dia temukan di atas meja sesajian. Percakapannya dengan Sen berhenti ketika mendengar suara seretan langkah menuju ke dalam gubuk.
“Kau lagi” ucap lelaki tua yang penampilannya sangat menyeramkan itu.
“Pak, dia adalah tuan muda Wijaya. Putra tuan besar Admaja yang tempo hari datang bersama saya” ucap Sen sambil menunduk.
“Ayah mu sudah mengorbankan diri demi keselamatanmu. Untuk apa kalian datang kesini?” tanya lelaki tua tersebut.
“Katakan kepada ku” Wijaya memohon dengan berlutut di hadapannya.
“Tuan muda, apa yang engkau lakukan?” tanya Sen menarik badan Wijaya untuk berdiri tegak.
“Hahahah, baiklah aku akan menceritakan semuanya” jawab lelaki tua itu.
__ADS_1
Dia menggiring mereka menuju belakang gubuk. Lelaki yang digelar dukun sakti itu memberitahu segalanya kepada Wijaya. Mata Wijaya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar terasa begitu lemas sampai terjatuh tidak sadarkan diri.