
Riwayat penyakit kesengsaraan mengakibat fatal ketenangan merasakan nikmat hidup di mulai dengan ketenangan menghirup udara dan oksigen di muka bumi. Para pencari ilmu hitam memanfaatkan ritual pemanggil setan yang mereka kuasai untuk menaklukkan dan mengendalikan siapa saja yang di kehendaki.
Putaran karma akan menuju si pemberi penderitaan. Dia akan merasakan berkali-kali lipat rasa sakit bahkan mengakibatkan hidup tidak tenang.
...🌿🌿🌿🌿...
Yuno tertegun, dia mengingat perkataan Rara dan keanehan yang terjadi pada anaknya. Yuno mengusap punggung Denta, rasa dingin dan tulang punggung sangat keras terasa di kulitnya.
"Kita harus menyembuhkan Denta, aku akan mencari ustadz untuk meruqyah nya" ucap Wijaya.
Yuno mengangguk kepala, pandangan beralih lagi melihat Denta berwajah pucat dengan bibir kehitaman.
...----------------...
Sore berangin sepoi-sepoi, Wijaya tampak sibuk menimang buah hati yang sangat dia sayangi dengan senyuman ceria.
"Engkau akan aku beri nama Jaka" ucap Wijaya melanjutkan ayunan bayi mungil itu di lengan tangannya yang kokoh.
__ADS_1
"Mas Wijaya, biar aku yang merebahkannya di kasur" ucap Lisa.
"Tidak, aku masih ingin berlama-lama dengan anak mu."
"Mas! dia adalah anak mas Transo!"
Lisa tidak memperdulikan perkataan Wijaya yang masih melayangkan beberapa asumsi dan pertanyaan untuknya. Dia masuk ke dalam kamar, mengganti popok anaknya dengan mengerutkan dahinya.
"Lisa, lusa akan mas adakan acara pemberian nama anak kamu. Dia juga harus melakukan beberapa acara adat. Kita juga harus mendoakannya" pungkas Yuno.
"Lisa, kenapa kamu tidak sadar bahwa dia suami tidak bertanggung jawab. Dia di pecat dari pekerjaannya, dia juga menelantarkan anak istri. Kenapa kamu masih saja menunggu nya?" ucap Yuno mengguncang lengannya.
"Hiks, mas!"
Yuno meninggalkan Lisa, ingin sekali dia menceraikan sang adik dari Transo. Dia melihat layar handphone, SMS yang dia kirim sudah di terima dan di baca orang tuanya.
"Haruskah lelaki bajingan itu di laporkan ke pihak berwajib? tapi kalau kedua orang tua ku tau, pasti akan mengganggu kesehatan mereka" gumam Yuno duduk di pinggir kasur sambil melamun.
__ADS_1
"Ayah, hihii.."
Nyaring suara anak kecil memekik telinga. Yuno menoleh ke arah Denta. Matanya membesar menatap Yuno. Suara mengerang, dengus nafas beradu lebih cepat menaik turunkan pundaknya.
"Denta, Denta sadar ini ayah!" ucap Yuno panik.
Seorang ustadz yang di panggil oleh Wijaya datang ke apartemennya. Dia adalah sahabat karib Wijaya, meskipun berbeda fakultas keduanya saling berkomunikasi dengan baik.
"Assalamualaikum. Selamat sore, Saya hadir menjawab panggilan mendesak dari pak Wijaya" ucap seorang pria berpenampilan muslim dengan penuh kewibawaan.
"Walaikumsalam, silahkan masuk pak. Saya akan memanggil tuan Wijaya" ucap sang suster.
Beberapa menit kemudian Wijaya menyambut kehadiran ustadz Hendra. Mereka saling berjabat tangan dan gelak tawa sangat akrab. Setelah nostalgia mereka selesai, perlahan perbincangan mereka mengarah pada permasalahan Denta. Wajah Yuno berubah murung, dia mencoba tegar dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan dari Hendra.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin membantu" ucapnya lalu mengucap dzikir dengan tasbih hitam kecil yang dia pegang.
Denta berjalan mendekati Hendra, lingkar mata menghitam gerakan jalan lurus dengan kedua tangan di arahkan ke depan seperti akan mencekik dirinya. Yuno menahan anaknya tapi sedikitpun langkah maju Denta berhenti. Ustad Hendra mengucapkan do'a sambil berdzikir. Denta berteriak sampai memecahkan kaca jendela rumah disapu oleh angin yang menerbangkan benda-benda ringan di sekelilingnya.
__ADS_1