Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Menyelamatkan Lisa dari Pasungan


__ADS_3

Setan dan iblis yang selalu berbisik merajai hati manusia yang layu.


Sen tersadar menekan kepalanya perlahan beranjak dari kasur. Dia berlari mencari Wijaya, sampai kakinya berhenti melihat sang majikan tampak berantakan. Satu langkah memasuki ruang kerja, kaki Sen terasa seperti menginjak bara Api. Ruangan itu anyir di tambah aroma kemenyan menyengat dengan suara aneh yang keluar dari Wijaya.


“Pergi kau!” ucap Wijaya.


Dia sudah kerasukan makhluk halus Kera hitam, Wijaya mengeluarkan gigi taring bertingkah seperti Kera dengan gerakan aneh menatap tajam Sen. Antara masih setengah sadar, Wijaya membanting pintu, dia mengunci dirinya di dalam berharap agar terjaga kembali dengan jiwa aslinya.


“Tuan! Buka pintunya tuan!” panggil Sen dari luar.


...----------------...


Hari indah telah pergi, janin yang tertanam di perut Lisa menggerogoti darah dagingnya dari dalam. Cekung matanya, pucat bibir dan pandangan buram. Wanita menyedihkan itu menangis meminta seteguk air dari Transo.


“Mas, aku haus sekali. Berikan aku seteguk air” ucap Lisa merintih.


“Apa? Aku sudah muak dengan mu. Anak yang di dalam kandungan mu itu harus di jadikan tumbal! Setelah selesai ritual maka aku akan melepaskan pasungan mu!”


Transo berkomat-kamit, dia menabur tubuh Lisa dengan air bunga. Tangan-tangan setan sudah siap meraih jiwanya, Lisa pasrah akan akhir hidupnya. Ketika salah satu kuku setan berhasil menembus kulit Lisa, seekor Kera besar dari arah belakang membanting Transo.


“Arghh! Kurang ajar! Siapa yang berani menantang ku!”


Transo mengeluarkan keris dari balik bajunya, dia menyerang makhluk ghaib menggunakan semua kekuatan yang dia miliki. Saling menyerang, beradu kekuatan ilmu hitam hingga Transo kewalahan mengeluarkan muntahan darah. Perlawannya tidak hanya sampai disitu, Transo menyayat ujung jari memandikan keris dengan darahnya sendiri. Dia menusuk perut sosok Kera hitam, mata merah menyala penuh amarah melempar dan membanting tubuh Transo tanpa henti.


“Argh! Ampun! Arggh!” jerit Transo kesakitan.


Karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit, sosok kera hitam menghilang meninggalkan asap putih. Di sisi lain, Transo setengah sadar bergerak mengesot tangan meraih gagang pintu. Dia tidak percaya bahwa hari ini dapat di kalahkan oleh sosok hewan siluman jadi-jadian. Selama ini penuh percaya diri, sosok penganut setan itu berpikir bahwa dirinya tidak terkalahkan.


Lisa hanya menangis menyaksikan kejadian itu, dia mencari benda apa saja di sekitarnya berusaha melarikan diri. Tidak ada yang bisa melepaskannya, sekalipun dia sudah berusaha. Malam larut, dia sendirian di rumah berhantu mendengat nyanyian suara kuntilanak melengking di atas rumah.


“Lisa, Lisa” gema suara parau berbisik di telinganya.

__ADS_1


Lisa menoleh ke kanan dan kiri, dia menutup telinga berkali-kali menggelengkan kepala. Gangguan silih berganti, penampakan sosok penunggu pohon raksasa kini mengincar.


“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Lisa.


...----------------...


Wijaya memfokuskan diri, dia membaca kembali isi mantra di dalam gulungan, Ada beberapa persyaratan yang harus dia berikan demi melancarkan aksi peniupan sihir dan ilmu dari makhluk Kera hitam. Meski keadaannya sudah kacau, dia membuka pintu lalu menarik tangan Sen.


“Tuan, saya sedari tadi menunggu anda. Apakah tuan baik-baik saja?” tanya Sen.


“Cepat bawakan aku kepala kambing dan satu tandan pisang emas” ucap Wijaya.


“Kenapa tuan membutuhkan semua itu?” Sen menoleh ke arah meja kerja sang majikan yang di atasnya telah berdiri sosok mengerikan.


“Tuan, apakah tuan sudah melihatnya?” tanya Sen lagi.


“Sudah, kau jangan banyak tanya. Cepat kembali dan bawa benda itu secepatnya dan katakan pada Bi Teti untuk menjaga Jaka sampai aku selesai dengan pekerjaan ku.”


“Aku tau kau baru saja melawan si dukun gila itu, bagaimana cara menyembuhkan luka mu?” ucap Wijaya mencoba melakukan interaksi meskipun penuh rasa takut.


“Berikan aku tiga tetes darah manusia agar luka ini sembuh” ucap sosok kera hitam.


Wijaya menusuk ujung jarinya sendiri, dia tidak mau membawa orang lain atau orang-orang yang berada di delam rumahnya ikut di dalam masalahnya. Tiga tetes darah Wijaya berhasil menyembuhkan lukanya.


“Wahai manusia, dia akan kembali menuntut balasan malam ini. Apakah kau siap menanggung segala resiko jika aku kalah darinya?” tanya sosok kera hitam.


“Ya, aku siap. Sekarang bantu aku menyelamatkan Lisa.”


Sosok kera hitam iblis itu menghilang menuju Lisa, kali ini dia membantu wanita yang di katakan oleh Wijaya. Sosok raja jin setan penunggu pohon Raksasa beringas posisi membunuhnya. Gerakan si kera hitam lincah menghindari bala setan yang keluar dari setiap dahan pohon untuk menyerbu.


Sementara itu di sisi lain, gubuk kera hitam di balik pemujanya telah tersusun rapi barisan pria berbaju hitam menghembuskan mantra. Mereka membantu sosok kera hitam iblis itu dengan menumbalkan seorang pria muda. Anggota tubuhnya di potong-potong lalu di persembahkan di depan dua patung keras raksasa.

__ADS_1


“Mati! Transo harus mati!” ucap Wijaya.


Dendam dan amarah sudah tidak terkendali, dia mendengar semua penderitaan Lisa yang tanpa henti. Perbuatan Transo yang tidak termaafkan baginya adalah ingin menumbalkan istri dan anaknya sendiri demi ilmu dan kekayaan yang ingin dia miliki.


Tok, tok, tok (Suara ketukan pintu).


“Tuan, saya sudah membawakan semua pesanan” ucap Sen.


“Letakkan saja di depan pintu dan pergi lihat bagaimana keadaan Lisa kini.”


“Baik tuan.”


Suara petir menggelegar, langit murka menyaksikan kematian jiwa yang tidak bersalah. Transo menyayat pergelangan tangannya, darahnya di usapkan ke pohon raksasa di dalam jurang. Penyatuan dirinya mengakibatkan manusia setengah gila itu berubah menjadi sosok monster.


“Argghh!” jerit Transo.


Dubragh (Suara pintu terbuka).


Tami membawa beberapa warga membantu melepaskan pasungan Lisa dan membawanya keluar. Menyadari resiko itu terlalu besar untuk di ambil, tiga pria penjaga pos siskamling hanya berani membawa Lisa sampai di depan halaman rumahnya saja. Ketakutan mereka mendengar suara dan segala makhluk aneh berterbangan.


“Kami pamit pergi!” teriak salah satu pria berlari di ikuti lainnya.


“Hei! Mau kemana kalian!” panggil Tami.


“Mbak Tami, cepat pergi! Transo akan membunuh mbak jika melihat mbak” ucap Lisa.


“Tidak, aku sudah berjanji pada Almarhumah mbak Dita untuk menyelamatkan mu.”


“Tidak, hidup ku sudah di tangan mas Transo.”


“Apa kau tidak memikirkan anak mu?”

__ADS_1


__ADS_2