Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Goyah


__ADS_3

Pemulihan tubuh Transo yang begitu cepat setelah terkena pepatah yang mengatakan senjata makan tuan. Akibat memilih jalan sesat maka dia pula yang menuai perbuatan yang dia lakukan. Luka yang di kulitnya sudah mengering, perlahan dia naik ke dataran tinggi dari dalam jurang. Tubuhnya sangat segar bugar. Dia berjalan sambil merasakan hawa panas di tubuhnya dan stamina yang semakin membaik.


“Aku lah Transo yang tidak terkalahkan!” ucapnya berjalan menuju rumah.


Kediaman yang semula menjadi sarang hantu itu kembali di tempati oleh manusia. Segala perabotan dan harta masih utuh tidak di curi atau di sentuh oleh satu orang pun. Meskipun begitu, Dita tetap mengintai segala gerak gerik transo, dia menutupi wajahnya dengan kain dan masker. Ternyata pria itu mengetahui siapa yang sudah memata-matainya, Transo menyeret Dita dari balik pohon yang berada dengan Nafsunya bagai binatang liar yang tidak terkendali berniat menanam benih di perut wanita itu agar melahirkan bayi untuk menjadi calon tumbuh selanjutnya.


“Arggh! Tolong!” teriak Dita.


"Hahah! " tawa Transo.


Seluruh pakaiannya sudah terlepas dari tubuhnya. Dari arah depan rumah, terdengar suara klakson mobil dan ramai suara orang. Belum sempat Transo melarikan diri, dari belakang kepalanya di pukul oleh batu dengan Ferdi. Melihat keadaan Dita yang polos, Ferdi menutupi wajahnya dengan tubuhnya lalu bergegas membuka jaket untuk di berikan padanya.


“Terimakasih, hiks” ucap Dita menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Lisa menyusul bersama Yuno, alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan tidak senonoh yang di lakukan oleh sang suami. Aib yang besar yang harus dia Terima di depan semua orang. Hampir saja bayi yang berada di tangannya terjatuh, Yuno dengan sigap menopang tubuhnya dan meraih bayi Jaka.


“Kuatkan diri mu” bisik Yuno.


Lisa mendekati Dita lalu memeluknya begitu erat, dia membawa Dita masuk ke dalam kamar dan memberikannya baju ganti.


“Apa yang sedang terjadi mas? Kenapa Transo pingsan disini?” tanya Wijaya.


“Tidak terjadi apapun, ingat lah ini adalah urusan rumah tangga Lisa dan kita tidak berhak ikut campur terlalu dalam” ucap Yuno.


Wijaya dan Ferdi mengangkat Transo memasuki rumah. Tubuh yang beratnya seperti besi itu membuat mereka berdua kewalahan hampir tidak bisa stabil untuk berjalan.Terlebih lagi aroma kemenyan menyengat membuat indera penciuman menjadi mati rasa. Ferdi merasakan sesak buru-buru pergi tanpa memperdulikan posisi kedua kaki Transo yang masih menggantung di kursi sofa. Bekas pukulan itu seolah tidak mengeluarkan darah. Ferdi mengernyitkan dahulu memperhatikan.


“Sus, cepat periksa pak Transo” perintah Wijaya.

__ADS_1


“Baik tuan.”


Selagi suster memeriksa Transo, Wijaya membantu Yuno dan Ferdi membersihkan rumah. Hal ini adalah kali kedua kejadian yang terulang kembali untuk membersihkan rumah berhantu itu. Rara enggan beranjak dari tempat duduknya. Dia memeluk erat Saci dengan memasang pandangan waspada.


“Saci, ingat pesan ibu agar kau jangan pergi kemanapun” ucap Rara.


“Ya bu” jawabnya.


Rara yang tidak tega menempatkan anaknya bahkan sampai menempatkan anaknya di tempat yang mengancam jiwa. Dia tidak mempunyai pilihan lain selain pasrah akan keputusan yang di ambil oleh suaminya Ferdi. Saat melihat Ferdi sendiri di depan rumah, Rara menggendong Saci menemuinya.


“Mas, aku tegaskan sekali ini pada mu. Kau harus memilih anak kandung mu atau adik mu. Anak mu ini masih kecil, dia tidak bisa berlama-lama tinggal disini” ucap Rara.


“Ayah ayo kita pulang” ucap Saci.

__ADS_1


Ferdi menghela nafas, dia sangat sulit untuk memilih. Terlebih lagi hubungan rumah tangga adiknya sedang berantakan. Ferdi menggendong Saci melihat suasana di perkampungan yang sepi sambil memikirkan jalan keluar atas masalahnya.


__ADS_2