Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Akibat bersekutu dengan setan


__ADS_3

Histeris suara jeritan para suster yang membawa Wijaya masuk ke dalam ruang operasi. Dokter Pram bergerak melangkah mundur. Dia menjatuhkan sarung tangan operasi yang akan dia kenakan. Melihat hal itu, para dokter lain meminta bantuan pada dokter muda yang baru di angkat oleh Wijaya sebagai dokter bedah. Di depan ruangan, Sen berdiri menunggu hasil operasi berharap tidak terjadi sesuatu menimpa Wijaya.


Di dalam keheningan menunggu sendiri, dia melihat sosok anak kecil berlari samba membawa boneka di tangannya. Dia teringat akan cerita dari para suster yang sering mendapatkan gangguan bahkan berujung kematian. Sen melotot mengeluarkan senjata api dia mengarahkan posisi ke sosok yang kini berhenti di dekat pilar.


“Cepat pergi atau aku akan menembak mu!” ucap Sen.


“Hihihihh!” tawa sosok anak perempuan itu melengking.


Di dalam alam bawah sadar pria itu melihat cahaya yang begitu terik menyilaukan mata. Di sampingnya ada siluman iblis kera hitam mengulurkan tangan. Perlahan Wijaya menggapai tangan berbulu itu lalu berjalan berbalik arah menjauhi cahaya.


Tubuhnya terbangun menatap para tenaga medis sedang melakukan operasi. Dia keluar dari badannya berjalan menjauh bahkan bisa menembus pintu. Tampak ada Sen yang sedang ketakutan di ganggu sosok makhluk anak kecil. Sosok itu langsung menghilang saat mengetahui Wijaya mendekati Sen.


“Arggh!” jerit Sen lalu membuka mata.


“Sen, apa kau bisa melihat ku?” tanya Wijaya.


Dia memukul sekujur Sen hingga menjerit tepat di telinga akan tetapi Sen tidak mengetahui atau merasakan kedatangannya. Keanehan sosok sukma yang sedang bergentayangan itu melihat sosok kera hitam masuk ke dalam tubuhnya yang sedang tertidur.


“Dok, detak jantung pasien kembali normal” ucap salah satu suster.


“Cepat kita segera selesaikan operasi ini.”

__ADS_1


Wijaya tidak terima dengan si siluman kera hitam yang kini berada di dalam tubuhnya. Sosok sukma itu naik ke atas tubuhnya sendiri namun dia terhempas jatuh terbanting dinding. Perlahan lantai berubah menjadi sebuah lubang hitam, dia terperosok masuk ke dalamnya.


Sekarang dia berada di dua tuggu kera hitam, tempat pertama kali dia mendapatkan ilmu. Susasana orang-orang menyembah dua patung berhala seperti biasanya tersusun sesajian sampai tetesan darah sebagai tumbal. Mereka menatap tajam Wijaya, wajah delapan orang berbaju hitam menjadi pengikut Transo yang telah meninggal pada saat dia dan ustadz Ali melawan Transo.


“Kembalikan tuan kami!” pekik mereka melempar tulang dan kepala tengkorak manusia.


Salah satunya menusuk perut Wijaya, dia berlari menghindari lalu bersembunyi di balik salah satu pohon pisang bagian belakang gubuk. Wijaya menekan perutnya, darah berwarna hitam mengalir sehingga dia terpaksa merobek baju untuk mengikat luka.


“Tuan, anda tidak bisa pulang karena aka nada ritual yang harus di jalankan” ucap salah satu pria berbaju hitam.


Perkataan itu pernah dia dengar sebelumnya, tepat saat tubuhnya di pindahkan sendiri oleh si siluman kera hitam. Wijaya kaget bukan kepalang, dia berlari ke masuk ke salah satu gubuk. Semula dia berpikir akan berda di dalam suatu tempat kosong tanpa penerangan atau hanya ada pisang dan tikar di dalamnya. Tapi saat membuka pintu, sukma itu sampai di kamar ritual pemujaan rahasianya.


“Ayah! Ayah! Aku takut sekali.”


“Kau bukan Jaka anak ku! Pergi!” jerit Wijaya.


WIjaya di serbu oleh sosok lainnya, jelmaan iblis menyerupai Lisa berjalan mendekat sambil menyeret akar pohon yang mengantung pada tubuhnya. Akar itu mengikat tubuh Wijaya, terasa erat hingga terlepas sendiri saat terdengar suara lantunan ayat suci menggema di udara.


“Argghh!”


Wijaya tersadar membuka mata, nafasnya tidak stabil lalu memperhatikan sekeliling bukan tempat mengerikan yang dia alami tadi. Ada banyak orang yang mengelilinginya, salah satunya ustadz Ali yang masih membacakan ayat di dekatnya. Ingin sekali dia meminta pak ustadz itu berhenti melantunkan ayat suci, namun dia berpikir jika semakin dia melawan maka tubuhnya akan semakin hangus dan meninggal menjadi debu yang bertebaran.

__ADS_1


Sekujur tubuh pria itu di penuhi dengan perban, hanya tampak sepasang bola mata, telinga, rongga hidung dan mulutnya. Sen mengetahui kegelisahan dan keadaan Wijaya yang tampak rishi mendengar lantunan ayat suci itu. Dia bergelagat seperti orang kesakitan memegang tenggorokan lalu terbatuk-batuk dekat sang ustadz.


“Ustadz tolong saya, sepertinya saya merasakan ada hal yang mendekat” ucap berjalan menjauh dari Wijaya.


Dia keluar duduk di di depan kursi tunggu melirik melihat sang ustadz yang mengikutinya. Ustadz Ali yang tidak mengetahui maksud tersembunyi darinya dengan khusyuk membacakan ayat. Berselang beberapa menit kemudian, dia meminta ijin agar kembali ke ruangan Miftah melihat keadaan anaknya.


“Terimakasih banyak ustadz, maaf saya merepotkan ustadz di saat ustadz sedang mengalami musibah. Kalau saya boleh menjenguk, di ruangan berapa Miftah di rawat?” tanya Sen.


“Di ruangan 03 lantai dua dekat koridor sebelah kanan. Tidak apa-apa pak semoga dokter Wijaya segera lekas sembuh.”


...----------------...


Di luar kota pada tempat yang berbeda, Yuno menunggu kabar baru mengenai hasil penyakit yang di derita Denta. Di depan ruangan High Dependy Unit dia duduk termenung memikirkan nasib anaknya. Yuno melupakan sebuah hal penting yang kini menjadi kewajiban di hidupnya. Pernah dia mencari kekuatan hitam untuk melumpuhkan adik iparnya demi menjaga Lisa.


“Aku sangat lapar sekali!” gumam Yuno.


Rasa perut keroncongan, haus dan dahaga akan daging mentah segar yang tidak tertahankan. Dia berlari menuju mobil menuju pasar. Terihat para penjual sudah sibuk mengemasi barang-barang dagangan. Yuno berlari ke salah satu penjual ayam meminta agar si penjual mengeluarkan seekor ayam untuk dia beli.


“Maaf pak kami sudah tutup, kembali lah esok hari” ucap si penjual buru-buru berkemas.


Do perbatasan kampung itu para pedagang was-was saat matahari sudah mulai terbenam. Di tengah melalui perjalanan pulang mereka juga harus berkeluh kesah mendapatkan gangguan mistis. Yuno gemetar tidak sabar hingga dia merampas sebuah kandang yang berisi dua ekor ayam.

__ADS_1


“Pak! Apakah engkau tuli? Cepat pergi!” bentak si penjual.


Yuno mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah di dalam dompet lalu pergi membawa kandang yang terbuat dari bambu berisi ayam tersebut. Dia tidak ingin membalas perbuatan kasar si penjual. Di tengah perjalan pulang, Yuno menepikan kendaraan lalu turun ke sisi kiri lintas. Dia menikmati darah dan daging ayam mentah dengan rakus sampai terdengar suara cabikan mengecap menetes membasahi bajunya.


__ADS_2