Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Tumbal berikutnya


__ADS_3

Sesungguhnya setan dan iblis adalah musuh nyata bagi mu, semua hal yang di janjikan mereka dengan segala iming-iming kepalsuan. Meski permintaan itu terkabulkan namun di balik semuanya mengambil nyawa di dalam permainan penuh tipuan belaka.


Dia mengatakan akan memberikan segala ilmu dan keinginan si dukun. Melalui jiwa Jaka yang sebenarnya kini di incar si makhluk si penunggu jin raksasa. Harum darah bayi sudah di tunggu-tunggu, Transo tanpa sadar akan menumbalkan anak kandungnya sendiri.


“Mana janji mu wahai tuan ku? Ini sudah genap empat puluh hari tapi kau tidak bisa membunuh Wijaya!” ucap Transo.


“Hah? Bagaimana bisa aku mengabulkan semua permintaan mu itu sedangkan kau belum memberikan tumbal untuk ku!” gema suara makhluk tersebut.


“Baiklah, aku akan membawa kan mu tumbal. Tapi ingat, jangan sampai anak ku Jaka terluka setelah aku menabur mantra di udara ke tubuh nya.”


Perkataan Transo terakhir kali tidak di beri balasan apapun. Kumpalan asap itu langsung menghilang di udara bersama sisa serpihan kulit manusia yang tertinggal. Transo berjalan pulang menaiki jurang, pandangan posisi memantau ke sekeliling. Dia memanggil pak Kasim untuk berjaga selagi dia sampai ke atas.


“Hei Kasim pastikan jangan sampai ada yang melihat ku atau aku akan membunuh mu!” bentak Transo.


Di dalam hati Kasim ingin sekali melawannya. Transo pria kasar, berhati iblis dan tidak berperikemanusiaan. Setelah semua kejahatan yang dia lakukan pada para warga kampung. Tapi Kasim harus menekan hati dan perasaannya karena untuk menafkahi ke empat anaknya yang masih kecil dan istrinya. Kasim hidup di salah satu gubuk yang menempel di pinggir jurang. Biasanya mereka mengisi perut tiga hari sekali dan meneguk segelas air sehari dua kali. Hampir saja Kasim kehilangan istrinya yang sakit-sakitan karena tidak kuat menanggung beban ekonomi dan kelaparan yang melanda setiap hari.


Ijah terkadang menelan nasi tiga kepalan tangan saja untuk melewati lima hari. Setelah Kasim bekerja dengan Transo, hidup mereka sedikit berubah dan kini Ijah dapat mengkonsumsi obat demi kesembuhannya. Di balik pekerjaan itu, Ijah tidak mengetahui hal apa saja yang di lakukan suaminya. Kasim telah berbohong dan mengatakan bahwa dia di terima di salah satu perusahaan Karta Jaya. Tempat kerja Transo dahulu sebelum dia di PHK.


“Tuan Transo, sepertinya tidak ada satupun warga yang melintas” ucap Kasim.


“Tetap berjaga sebelum aku sampai!” kata Transo bernada keras.


Transo berlari menuju rumahnya, Kasim ikut berlari mengikutinya dari belakang dengan posisi berjaga. Si dukun iblis itu terkejut melihat rumahnya habis terbakar tersisa hanya puing reruntuhan dan beberapa kepala tengkorak manusia. Mata merah penuh amarah mengumpat di dalam hati akan orang-orang yang sudah membakar rumahnya itu.

__ADS_1


“Sialan! Kurang ajar kalian warga kampung!” ucapnya lantang.


“Stthh tuan jangan menjerit seperti itu! Bagaimana jika ada yang mendengarnya?” ucap Kasim.


“Diam kau! kenapa hal sebesar ini tidak memberitahu ku? Cepat! Bantu aku masuk ke dasar jurang lagi!” perintah Transo.


Dia menampar dan memukul kasim, semua rasa amarah yang dia rasa itu di tumpahkan ke pria yang tidak bersalah itu. Wajah lebam dan luka perih di rasakan oleh Kasim, dia tidak berani melawan dan hanya pasrah atas semua perlakuannya.


“Maling! Maling!” jeritan warga kampung.


Transo menyeret Kasim bersembunyi di salah satu pohon dekat rumah warga. Dia memerintahkan Kasim membantunya untuk memanjat pohon kemudian menyuruhnya lagi agar Kasim ikut naik ke salah satu dahan paling tinggi.


“Kau harus berpegangan kuat, jangan sampai terjatuh atau aku akan melepaskan kepala mu! warga kampung sepertinya sedang menuju kesini” ucap Transo.


Sosok pria yang di kejar oleh beberapa para warga berhasil di tangkap hingga beberapa di antaranya menghajar sampai babak belur. Gemetar tubuh Kasim dari atas pohon, karena tidak bisa menyeimbangkan tubuh sedikit lagi dia terjatuh jika Transo tidak segera meraih kakinya.


Ranting dan pohon yang berguguran membuat salah satu warga menoleh ke atas, suasana malam yang gelap gulita dan kesibukan para warga meringkus si pencuri membuat warga tadi yang berusaha mencari sumber suara mengurungkan niat dan ikut pergi bersama warga lain membawa si pencuri.


“Tuan, tampaknya sudah aman. Ayo kita turun” ajak Kasim.


Dia sudah tidak kuat berpegangan pada dahan yang penuh duri, perlahan Kasim melompat terlebih dahulu di susul Transo dari atas yang menginjak tubuhnya. Kasim kesakitan, dia menahan suaranya lalu menutup mulut rapat-rapat. Mereka mengendap-endap berjalan menuju jurang, setelah berhasil mencapai dasarnya maka Kasim meminta berpamitan pergi kepadanya.


“Tuan, apakah saya sudah bisa pulang? Anak dan istri ku sudah menunggu di rumah” ucap Kasim.

__ADS_1


“Apa? Anak? Kau punya berapa anak?” tanya Transo sambil tersenyum menyeringai.


“Keempatnya masih balita dan salah satunya sedang sakit. Aku juga harus melihat keadaan istri ku yang masih menjalani perawatan” ucap Kasim menerangkan.


“Ckckck, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal pada ku? Aku mempunya obat penyembuh untuk anak mu itu. Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya untuk mu.”


Transo menuju pohon raksasa, dia meneteskan cairan getah pada pohon iblis itu lalu. Tiga tetesan air dari pohon tubuh iblis dan setan masuk ke dalam botol bercampur air mantra. Kasim penuh rasa percaya dengan sabar menunggu Transo kembali membawa obat untuk anaknya.


“Nah, cepat minumkan air berkhasiat ini untuk anak mu yang sakit. Oh iya, siapa nama anak mu?”


“Namanya Dana. Terimakasih banyak atas kebaikan tuan” ucap Kasim.


“Ya, ini ada satu batang emas untuk mu. Kau sudah sangat bekerja keras hari ini.”


Uang dari hasil pemberian jin, terasa panas terasa di dalam darah, sampai membuat penyakit aneh atau si pemakai menjadi haus akan hasrat mendapatkan lebih banyak lagi walau bagaimanapun caranya. Ketika sampai di rumah, kasim menuangkan air tadi ke dalam secangkir gelas. Dia masih tidak percaya bahwa si dukun memberikan satu batang emas lagi untuknya. Raut wajahnya penuh kebahagiaan tidak sabar menukar emas dengan tumpukan uang yang sudah dia bayangkan. Kasim membangunkan Dana yang masih tertidur dengan dua selimut tebal yang dia kenakan.


“Nak, habiskan air ini. Mudah-mudahan engkau lekas sembuh” ucap Kasim sambil mengusap kepalanya.


Air pemangsa jiwa manusia, Transo sudah mencapai target sasaran untuk dia tumbal kan. Tulang rawan dan daging muda nan segar, air terkutuk yang sudah masuk ke dalam tubuh anak itu sudah mulai tercium oleh sosok jin penunggu pohon raksasa.


“Hahahah! Bagus sekali Transo!” gema suara si iblis.


Transo ikut tertawa lalu duduk di depan meja ritual memanggil nama Dana berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2