Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Mantra Setan


__ADS_3

Berkali-kali anak di dalam kandungannya berusaha dia bunuh namun tetap saja janin itu tetap kuat tanpa mengalami sakit apapun. Di dalam ruangan Lisa sudah sadar menatap langit-langit kamar. Di sudut pelupuk mata tanpa henti berderai membasahi bantal.


Salah satu suster yang merawatnya kini membantunya menyeka air matanya. Dia memeriksa keadaan Lisa, memastikan segala hal apapun yang di perintahkan oleh Wijaya. Sementara suster Sese berlari mencari Wijaya, akan tetapi di dalam ruangan sang dokter tidak berada di tempat. Dia pun berbalik arah, berjalan mencari suster kepala yang tampak sedang sibuk bercengkrama dengan salah satu pasien.


“Permisi sus, pesan dokter Wijaya agar segera memberitahunya jika pasien bu Lisa sudah siuman. Tapi dokter Wijaya tidak berada di tempat” ucap suster Sese.


“Laporan suster sudah saya terima. Saya akan segera memberitahu dokter” jawab suster kepala.


“Terimakasih sus.”


Di ruangan Lisa menyengat aroma anyir yang menusuk rongga hidung. Suster Ara menyibak tirai dan menyalakan AC, namun malah semakin tercium olehnya. Tidak sampai di situ, kini aroma kemenyan sangat menyengat hingga dia tidak tahan dan berlari mengeluarkan isi perutnya ke kamar mandi.


Melihat tidak ada seorangpun di dekatnya, Lisa buru-buru melepaskan jarum infus , dia berusaha meraih benda tajam yang berada di dekat tempat tidurnya.


Hasratnya tidak akan goyah untuk membunuh janin setan yang hidup di dalam perutnya. Di tangannya sudah mengepal kuat bersiap menusuk kembali perutnya sendiri. Tidak perduli belasan jahitan itu masih basah, dia tetap harus melenyapkannya. Suara jeritan suster Sese ketika membuka pintu. Dia menahan tangan Lisa yang sudah mencapai sedikit kulit luar. Jahitan terbuka, darah bercucuran membanjiri tempat tidur.


“Lepas! Jangan halangi aku membunuh bayi ini!” teriak Lisa.


Suster Ara buru-buru keluar dari kamar mandi begitu terkejut melihat Lisa yang kembali merontah-rontah. DIa menghidupkan alarm ruang operasi darurat yang sudah di persiapkan Wijaya sebelum menitipkan Lisa kepada mereka. Dokter Pram, dokter bedah lainnya dan para suster sudah siap siaga di dalam ruang operasi. Lisa kembali menjalani operasi kedua.


...----------------...


Kring, kring ( Bunyi telepon rumah)


“Halo dengan siapa ini?” tanya bi Teti.


Jaka menggeliat di dalam gendongannya. Di dalam panggilan, bi Teti tidak jelas mendengar suara yang masuk sampai dia menutup kembali telpon itu. Saat bi Teti berjalan memutar haluan, telpon kembali berdering hingga raut wajahnya sedikit marah. Tangannya belum sempat meraih gagang telepon, Jaka sudah menangis dan kembali kejang-kejang hingga bi Teti menjadi sangat panik.


“Pak Rian!” panggilnya dari jendela.

__ADS_1


“Ada apa bi?”


“Tolong ambilkan ponsel yang di titipkan tuan Sen pada ku di dalam kamar Jaka. Bayi ini kejang-kejang lagi pak, lihatlah!” ucap bi Teti.


“Tunggu sebentar bi.”


Udara di dalam rumah semakin terasa dingin, tirai di setiap jendela terbang tinggi di luar kaca jendela menampakkan penampakan makhluk aneh menatap bi Teti. DI dalam hati dia mengucapkan istighfar sambil memeluk erat Jaka. Pundaknya terasa sangat berat, saat dia menyentuh dahi Jaka terasa sangat kasar hingga kulit bayi itu terkelupas mengeluarkan nanah dan belatung.


“Argghh! Arghh!” jerit bi Teti ketakutan.


Hampir saja dia melemparkan Jaka ke lantai. Namun saat dia akan membuka ikatan simpul kain gendong Jaka, dari arah belakang telah berdiri Wijaya menahan tangannya. Penampilan sang majikan yang sangat menyeramkan membuat bi Teti jatuh pingsan. Wijaya berhasil meraih Jaka, di tengah tubuhnya yang masih gemetaran.


Sebelum Wijaya di kembalikan oleh iblis kera hitam.


Perjanjian dengan setan dan iblis telah di sepakati, darah merah dan hitam bercampur di lapisi darah para tumbal yang di mandikan di patung kera raksasa. Pertempuran sengit melawan Transo nyatanya dialah pemenang pada malam bulan merah yang telah termakan kabut gumpalan ilmu hitam itu. Meskipun belum bisa membunuh Transo, tampak Wijaya bisa menghajar si dukun gila hingga dia kembali sekarat.


“Ahahah dasar manusia serakah. Kau sudah lihat kekuatan mu begitu besar! Ingatlah Transo, kau bisa masuk ke dalam tubuh bayi mu dan melenyapkan pria kera hitam itu!” ucap jin penunggu pohon raksasa.


“Aku akan mencobanya!” jawab Transo.


Setelah ritual selesai, di gubuk kera hitam telah pria bertopi blangkon melepas kepulangan Wijaya di balik sosok iblis kera hitam. Dia melihat sisi lain pada Wijaya, di dalam hati berbisik akan hal mengerikan yang akan terjadi. Pria bertopi blangkon itu mengumpulkan seluruh anggotanya untuk meneruskan ritual kembali.


“Tampaknya pria itu tidak akan selamat” gumamnya.


...💀💀💀...


...Sengaja nimbali wali setan kethek, nampi sedaya sesaji menika. Mbantu nggayuh niyat nulungi sang wijaya. Paringi kekuatanmu, setan kethek ireng. ...


...💀💀💀...

__ADS_1


Mantra pemanggil kera iblis hitam, pisang emas dan segala sesajian di persiapkan , mereka melangsungkan upacara ritual itu sepanjang hari.


...----------------...


Wijaya menggendong bayi Jaka ke dalam kamarnya, dia memeriksa anak angkatnya yang sangat dia sayangi selama berjam-jam. Segala upaya yang dia punya untuk menyembuhkan Jaka, suhu tubuh bayi itu perlahan kembali normal seperti sedia kala. Setelah itu, WIjaya memeriksa bi Teti di ruang tamu. Pak Rian hanya bisa menunduk sesekali melirik Wijaya yang tampak lusuh dan berpenampilan kumal.


“Kenapa bi Teti bisa pingsan. Aku juga penasaran dari mana tuan Wijaya hingga keadaannya seperti itu?” gumam pak Rian.


“Pak Rian, tolong jaga sebentar selagi saya masih memeriksa bi Teti” kata Wijaya.


“Ya den. Oh iya ini ponsel yang tadi di minta oleh bi Teti.”


“Ya letakkan saja di meja pak.”


Sekujur tubuh Wijaya terasa sangat sakit, dia memaksakan diri untuk tetap tegak meskipun sekarang dia merasakan hawa lain yang menyelimuti dirinya. Ketika dia bercermin, dia melihat kelopak matanya cekung, bibir yang pucat dan kulit mengering. Menyadari akan hal lain yang sudah duduk bersemayam di dalam tubuhnya, Wijaya membasuh wajahnya berulang kali lalu dengan lahap menikmati pisang yang tersedia dia atas meja makan.


Pak Anton berlari mendobrak pintu, di pundaknya ada cangkul yang dia bawa. Bola matanya memerah, nafas memburu menunjukkan sebuah bungkusan hitam kepada Wijaya. Bungkusan itu adalah kepunyaan Wijaya, beberapa hari yang lalu dia meminta Sen untuk mengubur benda dari gubuk kera hitam. Raut wajah datar Wijaya menerimanya, dia tidak membuka isinya di depan Anton.


“Gawat tuan, pasti ada orang yang sengaja ingin berniat buruk pada kita!” ucap Anton.


“Dari mana bapak menemukan bungkusan ini?” tanya Wijaya.


“Dari halaman belakang den, bapak semula akan melakukan pembibitan tanaman sayur-sayuran” jawabnya.


“Biar nanti saya saja yang membuangnya” ucap Wijaya.


“Apa yang terjadi dengan bi Teti den?” tanya pak Anton.


“Bi Teti hanya kelelahan saja.”

__ADS_1


__ADS_2