Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Salinan penting


__ADS_3

Hanya beberapa orang saja yang melihat pemakaman Miya. Warga lainnya tidak tahan mencium aroma amis dan busuk menambah kesan derita di hidup Yuno. Disampingnya telah berdiri Fredi dan Rara, mereka tanpa henti menangis sambil mengusap bahu Yuno secara perlahan.


“Abang, semoga kau tabah dan bersabar dengan semua cobaan ini” ucap Fredi.


“Mas, kalau saja kita tidak pergi ke perkampungan iblis itu maka kita akan baik-baik saja” ucap Rara.


“Jaga bicara mu Rara! Lisa masih disana, dia lebih menderita” kata Fredi.


“Aku akan belajar bersabar dan mengikhlaskan kepergian istriku agar dia tenang di alam sana. Kini aku harus mengurus Denta seorang diri” ucap Yuno memegang batu nisan sang istri.


Hari mulai gelap, petir menyambar di langit yang hitam. Kilatan mengiringi hujan lebat sehingga mereka memutuskan untuk pulang. Suasana di rumah duka terasa dingin dan sepi.


“Mas, kami pulang. Besok kita akan melakukan acara tiga harinya mbak Miya. Aku yang akan persiapan segalanya” kata Fredi menepuk bahunya.


“Terimakasih dik.”

__ADS_1


“Tapi, dimana Denta? Dari tadi aku tidak melihatnya” Pandangan Rara tertuju pada salah satu pot bunga raksasa.


Disana seperti ada sosok anak kecil posisi duduk membelakangi memakai baju hitam. Rara berjalan mendekatinya, perlahan langkah kakinya terhenti dengan tangan meraih tubuhnya. Sosok anak kecil mirip sekali menyerupai Denta berbalik badan bermata merah membalas pandangan Rara sampai dia menjerit lalu jatuh pingsan.


“Arrggghhh!”


“Rara!” Fredi mengguncang tubuhnya.


Sosok yang di lihat Rara tadi berubah menjadi Denta berlari memeluk Yuno bertingkah sangat ketakutan.


“Mas, dia itu bukan Denta.” Fredi menunjuk ke arah sang anak kecil yang tersenyum melihatnya.


“Apa maksud mu? Ini adalah Denta anak ku” ucap Yuno menggendong Denta masuk ke dalam kamar.


Fredi mengangkat tubuh Rara menuju ke dalam mobil. Dia berpamitan kepada Yuno kemudian melajukan kendaraan begitu cepat meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Sementara Yuno di dalam rumah mencari mbok Darsih, pembantu rumah tangga yang di pekerjakan lebih dari tiga tahun itu hari ini menghilang.


“Dimana mbok Darsih? Aku sudah mencarinya kemana-mana” gumam Yuno.


Malam ini Yuno mengunci pintu rumah sangat rapat, tanpa memikirkan kejadian Rara atau menanyakan ke Fredi. Dia fokus mengurus Denta, Yuno tidur di dekat anaknya akan tetapi malam itu dia merasa bahwa sosok yang berada di sampingnya itu berwujud hitam besar bermata merah menyala. Tangan panjang menjulur, tubuh berbau kemenyan bercampur anyir.


“Arghh!” jeritnya.


Dia terbangun melihat Denta masih tertidur. “Ternyata aku hanya mimpi” ucapnya merapikan selimut untuk anaknya.


Menjelang pagi hari, Yuno menemukan mbok Darsih tidak sadarkan diri di depan pintu belakang rumah. Yuno Nampak panik menggendong tubuhnya menuju sofa cepat-cepat memanggil dokter. Badan mbok Darsih basah kuyup. Sambil menunggu kedatangan dokter untuk memeriksanya, Yuno menuju rumah tetangga meminta salah satu warga membantunya menggantikan pakaiannya sementara Yuno menunggu di luar rumah.


“Pak Yuno, saya sudah mengganti pakaiannya, beberapa hari sebelum kepulangan ibu dan bapak. Saya melihat si mbok berlari membawa Denta keluar rumah. Di kala itu sedang terjadi hujan deras, jadi saya hanya memperhatikan lewat kaca jendela” ucap bu Titin.


“Terimakasih bu, besok acara tiga hari istri ku. Saya berharap keringanan langkah ibu untuk hadir di rumah ku” kata Yuno.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu saya pamit pak.”


__ADS_2