
Gejolak perasaan itu tiba-tiba saja menggebu, di balik layar seorang dukun maniak **** meminta hasrat liar setan kepada wanita muda yang dia tuju. Setelah insiden penolakan di sungai tempo lalu, dia mengirimkan sihir pada Tumi. Kali ini, pelet pemikat lebih ampuh sehingga wanita itu bertekuk lutut di hadapannya.
Tumi yang semula sedang tidur terlelap, merasakan ada sosok yang mengganggu. Dia membuka mata melihat bayangan hitam besar berdiri di depan jendela. Wujud sangat menyeramkan, ada ular yang menggeliat ketika dia membuka rahangnya. Tumi menjerit ketakutan membangunkan Partim, akan tetapi suaminya itu seolah masih terlelap di dalam tidur.
“Mas bangun! Mas!” panggil Tumi.
Sosok itu kini berada tepat di depannya, dia menekan tubuh Tumi, posisi telentang sehingga membuat badan menjadi kaku. Ular kecil berwarna hitam berhasil masuk dalam rongga mulutnya dan bersemayam di tubuhnya. Seketika Tumi tidak sadarkan diri hingga fajar datang.
Suara angin yang berhembus kencang menerbangkan ranting dan dedaunan, sayu-sayup Partim terbangun melihat Tumi masih tertidur. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tidak biasanya istrinya itu belum bangun. Partim mengusap pelan pundaknya, seketika Tumi membuka mata meliriknya dengan tatapan sinis.
“Jangan sentuh aku!” bentak Tumi lalu mendorong tubuhnya.
“Kenapa dik? Ada masalah apa? Apakah engkau habis bermimpi buruk?” tanya Partim.
“Bukan urusan mu!”
Tumi melengos bergerak berdiri lalu mencampakkan selimut ke wajah Partim. Dia mempercepat gerakan untuk segera mandi dan berhias diri. Memilih baju seksi berwarna hitam, Tumi duduk di depan kaca rias tampak sibuk mempoles wajahnya menggunakan make up tebal. Partim tercengang melihat tingkahnya. Dia mendekatinya lalu menanyakan lagi dengan nada sedikit lebih keras.
“Dik, engkau mau kemana menggunakan baju seperti ini? jawab aku!”
“Diam! Aku akan ke tempat kekasih ku!”
“Siapa dia? Dik! Engkau tidak boleh pergi kemanapun!” ucap Partim.
Tumi melotot mengacuhkan Partim, dia berjalan mencari sepatu tumit hitam lalu membuka pintu. Partim menarik tangannya akan tetapi Tumi menepis kuat lalu berlari keluar. Gerakannya yang cepat membuat dia kehilangan jejaknya. Dia berlari menjadi ke sekitar kampung, raut wajah panik bercampur gelisah. Saat melewati pos siskamling, ujang memperhatikannya lalu memberi kode pada Mamang melihat Partim seperti orang kebingungan.
“Partim! Ada apa? Pandanganmu seperti sedang mencari sesuatu!” seru Ujang.
__ADS_1
“Apakah kalian melihat istri ku lewat sini?”
“Tumi? Kami melihatnya tadi berlari ke arah sana” jawab Ujang.
“Arah itu bukan kah menuju bekas rumah Transo?” bisik Mamang.
“Hussh! Kita tidak boleh ikut campur urusan rumah tangga mereka” bisik Ujang.
“Tapi benar juga yang di katakan orang kampung, sepertinya Tumi terkena pelet Transo!”
Partim berlari menuju ke arah rumah yang sudah menjadi abu, lalu dia mencari ke tepi jurang memanggil nama Tumi. Tampak dari atas, jurang itu di selimuti kabut hitam. Banyak burung gagak berterbangan mengitarinya. Namun, Partim bertekad turun hingga ke dasar jurang pohon raksasa demi mencari istrinya. Usia pernikahan mereka terhitung baru memasuki setengah tahun, kecantikan dan kulit mulusnya membuat Transo telah lama mengincarnya.
“Ahahah! Hari ini adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan Tumi seutuhnya!” ucap Transo dengan gelak tawanya.
Kini wanita itu berdiri di hadapannya, dia buru-buru melepaskan baju dan meminta Transo untuk segera menikmati tubuhnya. Seketika mata iblis itu menarik ke sisi pohon yang sudah di tutupi dengan dedaunan beralas tikar.
“Tumi! Tumi!” panggil Partim.
Dia sampai di depan pohon raksasa memeriksa di sekeliling pohon dengan wajah sedikit ketakutan. Banyak tulang tengkorak yang berhamburan di dekat akar raksasa. Bunga-bunga yang masih segar bertebaran dan aroma amis dari bekas darah pada batang pohon. Sayup-sayup Partim mendengar suara tawa Tumi dan Transo. Saat dia mencari sumber suara itu, Partim di tarik paksa oleh salah satu pengikut Transo menjauh dari tempat itu.
“Lepaskan aku!” teriak Partim.
Dia di hajar oleh pria berfostur tubuh besar hingga babak belur. Dua orang pengikut lainnya datang menarik kerah bajunya lalu menyeret paksa hingga mengangkatnya ke atas permukaan. Partim berlari meninggalkan mereka. Dia mencari pertolongan menuju pos siskamling, orang-orang yang berada disana terkejut melihat keadaannya.
“Siapa yang membuat mu sampai luka-luka seperti itu?” tanya Mamang.
“Aku di serbu oleh para pengikut Transo saat memasuki jurang. Tolong bantu aku, istri ku ada disana” ucap Partim.
__ADS_1
“Tidak, kita tidak bisa sembarangan masuk kesana!” bantah Ujang sambil melotot.
“Ayo cepat! Tunggu apalagi?”
“Sebaiknya kita terlebih dahulu menemui pak ustadz. Karena jika kita gegabah maka akan mengantarkan nyawa sendiri kesana” ucap Mamang menyarankan.
Mereka bersama-sama menuju surau, namun pagi ini tidak tampak ustadz Ali yang biasanya mengajar anak-anak mengaji. Penjaga surau yang sedang membersihkan halaman mengerutkan dahi melihat Partim dan lainnya.
“Pak, apakah ustadz Ali belum datang ke surau?” tanya Mamang.
“Sudah tiga hari pak ustadz sakit. Surau semakin sepi tanpa kehadirannya, banyak para warga kampung lebih memilih berdiam diri di rumah akibat teror ilmu hitam. Oh ya maaf kalau saya boleh tau, kenapa bapak ini terluka begitu?” ucap si penjaga Surau menunjuk Partim.
“Ceritanya panjang pak. Kami pamit pergi” kata Mamang.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
...----------------...
Setiap malam, Tumi menjerit memanggil nama Transo. Menjelang petang dia kembali pulang dengan keadaan yang membuat Partim ingin memberontak dan memukulnya. Hari ini dia berhasil di temukan atas bantuan para warga kampung. Tepat setelah dua puluh orang warga kampung membawa obor menuju pohon raksasa, para pengikut Transo melemparkan Tumi kepada Partim meski harus di ganti dengan Sembilan warga yang kesurupan.
Setelah kejadian itu, sisa para warga yang selamat dari kerasukan berjanji tidak akan kembali lagi kesana. Partim berpikir sejenak, jika dia membiarkan istrinya hari esok kembali lagi menemui Transo maka akan menjadi aib besar dan omongan buruk para warga. Dia mencari tali dan menunggu Tumi tertidur, perlahan Partim mengikat kedua kaki dan tangan Tumi erat hingga wanita itu tersadar lalu menjerit sekuat-kuatnya.
“Partim lepaskan aku!” teriaknya.
“Maafkan aku Tumi. Ini semua demi kebaikan kita, aku akan segera mencari cara untuk mengobati mu dari sihir pria iblis itu. Aku tau ini di luar dari kesadaran mu” ucap Partim berusaha menahan air mata.
__ADS_1