
Lisa memberikan handuk dan sebuah ember kecil yang berisi peralatan mandi, dia juga memberikan sebuah kaos berwarna hitam untuk Fredi. Bagaimana bisa dia mengatakan akan berjaga di depan sementara sekujur tubuhnya kotor dan sangat berantakan. Lisa menyodorkan ke arah Fredi lalu menuju dapur. Dia menuruti keinginan sang adik yang sangat dia sayang. Tapi, tidak dengan mengenakan kaos hitam yang dia amati adalah pasti kepunyaan Transo.
“Lisa, mas tidak suka memakai baju milik suami mu” ucap Fredi.
“Kaos itu belum pernah di pakai mas Transo. Ganti lah pakaian mu yang penuh darah itu mas, aku akan memanggil dokter untuk mengobati luka mu” ucap Lisa.
Di situasi seperti ini Lisa harus berpura-pura tegar, bertahan hidup untuk orang yang di sayang. Di dapur, air mata itu kembali menetes. Bergetar tubuhnya, sesak dada dan kepala terasa sangat pusing. Dia memikirkan Jaka, aroma tubuh bayinya dan segala gerakan manja pelipur lara yang menjadi pengobat luka. Lamunan Lisa buyar mendengar suara teriakan Fredi.
“Argghhh!”
Sosok yang mirip dengan Fredi berdiri di balik kaca, dia tersenyum melambaikan tangan. Fredi terkejut mengusap mata berkali-kali untuk memastikan penglihatan tersebut. Dari belakang dirinya yang di cermin di dekati oleh sosok makhluk hitam besar mengarahkan cekikan di lehernya.
“Hati-hati! Awas! Dia di belakang mu!” teriak Fredi memukul kaca.
__ADS_1
Tanpa sadar tangannya sudah penuh luka, dia segera menyalakan air lalu membasuh luka itu. Sosok yang mirip dengannya menghilang, hanya ada makhluk hitam yang sekarang mendekatinya.
“Argghh!”
“Mas Fredi, kau kenapa mas?” tanya Lisa dari luar.
Fredi membuka pintu lalu berlari menarik Lisa keluar, tapi ketika kaki mereka sampai tepat di pertengahan pintu luar terlihat sosok mengerikan dengan bola mata terlepas mengalirkan darah mendekatinya.
...----------------...
“Denta dengarkan ayah, kau harus bersikap baik kepada Saci atau ayah tidak akan membawa mu ke rumah tante Lisa hari ini” tegas Fredi.
Makhluk ghaib telah merasuki anak kecil itu, pupil memutih, lengkungan cekung hitam dan urat wajah berwarna hitam. Rara dan Saci menjerit ketakutan, keributan di dalam mobil membuat Yuno tidak fokus menyetir sehingga dia tidak melihat ada motor yang berada di sisi kiri jalan yang berhenti.
__ADS_1
“Awas mas!” teriak Rara.
Praghh.
Kecelakaaan terjadi di jalan lintas yang jaraknya mendekati perbatasan perkampungan. Orang-orang yang berkendara membantu mereka keluar dari mobil. Kaca jendela di pecahkan untuk mengeluarkan mereka, sampai beberapa menit berlalu ledakan mobil Yuno hampir membunuh orang-orang yang berdiri di dekatnya.
Mereka berempat di larikan di rumah sakit, salah satu pasien yang di kenal oleh suster Haki mengenal Yuno yang berada di dalam UGD. Dia langsung memberitahu Wijaya yang baru saja menyelesaikan operasi di lantai dua. Melihat kedekatan suster Haki bersama Wijaya membuat perawat lain merasa cemburu dan berniat melakukan hal buruk agar Haki di pecat dari rumah sakit.
“Kita harus melakukan sesuatu agar dokter WIjaya tidak menempatkan posisinya menjadi tangan kananya” ucap suster Dini.
“Benar, kita harus segera bertindak” ucap suster Kela.
Mereka masuk ke ruang suster Haki, menukar nama pasien yang seharusnya tidak menjalani operasi menjadi pasien yang di jadwalkan untuk di operasi.
__ADS_1
“Dengan begini maka suster Haki akan di tuntut oleh pasien” bisik suster Dini tertawa menyeringai.