
Tangisan bayi Geni melengking menembus ruangan setiap lorong Rumah sakit. Dua orang suster yang berjaga di dekat beberapa ruangan bayi yang terpisah itu menutup telinga penuh rasa takut. Mereka bersembunyi di bawah kolong meja. Bayi Geni menjadi perbincangan hangat para tenaga medis akan keanehannya.
“Sus, sepertinya bayi itu membutuhkan sesuatu” ucap suster Keit.
“Jangan sus, abaikan saja dia. Aku tidak mau berurusan dengan bayi dukun” kata suster Tika menahan gerakan Keit.
“Tapi sus, dia sudah berjam-jam tidak berhenti menangis. Aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengannya. Biar aku saja yang memeriksanya.”
Suster Keit memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan bayi Geni. Di dalam ruangan yang gelap, cahaya lampu padam dan tidak bisa di hidupkan walau di sisi ruangan lain tampak listrik menyala. Dia meraih ponsel di dalam saku, menghidupkan senter ponselnya lalu menyorot tempat tidur. Bayi itu menghilang, pintu jendela terbuka lebar dengan tirai yang melambai tertiup angin terangkat ke atas.
Dia berpikir mustahil jika bayi itu di curi ke luar jendela atau keluar melewati pintu karena sedari tadi dia tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Ketika suster Keit akan keluar, pintu terkunci dari luar. Suara tangisan bayi Geni kembali terdengar keras di dalam ruangan itu.
Langkah gerakan sosok anak kecil merangkak di dalam kegelapan dengan sorot mata merah. Suster Keit menyalakan senter ponselnya melihat bayi Geni tanpa popok bergerak semakin mendekatinya. Sekujur tubuhnya berlendir berwarna merah dengan air liur yang menetes kental.
“Argghh! Tolong!” jeritnya ketakutan.
“Sus! Buka pintunya sus!” teriak suster Tika dari luar.
Karena mendengar suara teriakan suster Keit, Tika berlari memanggil petugas keamanan yang berjaga di pos untuk mendobrak pintu. Sebelum pintu itu terbuka, bayi Geni berbalik arah lalu melompat keluar jendela. Alangkah terkejutnya suster Keit sampai dia jatuh tidak sadarkan diri.
“Sus bangun!”
...----------------...
Di dalam detik dan waktu tidak pernah tenang. Selalu saja mendapatkan teror dari makhluk tak kasat mata. Wijaya baru mulai terlelap beberapa menit yang lalu setelah melakukan ritual persembahan sesajian untuk siluman Kera hitam. Dia di kejutkan oleh suara Sen yang mengetuk pintu begitu kuat. Sambungan bunyi ponsel panggilan terbaca nama Sen itu pun seolah tertanda ada sesuatu yang mendesak.
“Ada apa Pak Sen, tidak biasanya engkau memanggilku seperti orang kesetanan” ucap Wijaya.
__ADS_1
“Maaf tuan, saya ingin memberitahu bahwa bayi Geni telah menghilang” ucap Sen.
“Apa? Cepat panggil polisi!” perintah Wijaya.
“Tapi tuan, menurut informasi dari suster Keit bahwa bayi Geni melompat sendiri ke luar jendela.”
“Apa? kalau begitu suruh orang-orang yang mengetahui kejadian ini untuk menutup mulut mereka rapat-rapat."
“Baik tuan.”
Wijaya kembali masuk ke dalam ruangan rahasianya. Dia membaca mantra meminta petunjuk pada si kera hitam. Saat menggunakan mata setannya, dia melihat jejak si anak ghaib itu menuju ke dasar jurang dengan bentuk tubuhnya yang mengerikan. Bayang samar melihat Jaka di ikuti sosok makhluk hitam yang melingkarkan jemari panjang di bagian belakang tubuhnya. Keringat dingin Wijaya membuka mata kembali.
“Tidak bisa di pungkiri bahwa anak-anak itu terkena ilmu dari Transo. Terutama Geni, sekujur tubuhnya sudah total dirasuki sosok lain. Kini aku harus memastikan Jaka, aku tidak mau dia mengikuti jejak Transo” gumam WIjaya.
...----------------...
Yuno kini duduk di samping Lisa, dia tampak pucat menahan rasa kantuk. Mimpi buruk bersama segala penampakan yang mengganggu membuat dia tidak tenang. Di sisi lain pikirannya kini mengenai kesehatan Denta setiap hari semakin menurun.
Suara Lirih kesakitan menahan bekas jahitan operasi. Ikatan tali Kaki dan tangannya sudah di buka, dia tampak sudah kembali stabil dari amukannya yang hampir membunuh dirinya sendiri. Yuno menghela nafas memperhatikan raut wajah adiknya itu.
“Dik, sebaiknya engkau menentukan pilihan untuk yang terbaik bagi Jaka dan Geni. Mas tidak mau engkau menderita seumur hidup. Kini jaga sudah di jaga sebaik-baiknya oleh Wijaya, malah si bayi Geni yang sudah kesurupan melompat dari jendela dan menghilang” ucap Yuno kembali menghela nafas panjang.
“Aku tidak pernah menganggap bayi kedua itu pernah lahir di dunia ini” Lisa cemberut memalingkan wajahnya.
“Tolong engkau pikirkan lagi.”
Kring, kring (Dering suara ponsel)
__ADS_1
“Halo mbok, ada apa?”
“Bagaimana ini pak. Den Denta pingsan, suhu tubuhnya juga sangat tinggi” ucap si mbok di dalam panggilan.
“Saya akan segera kembali. Cepat panggil ambulan mbok!” ucap Yuno mengakhiri pembicaraan.
Yuno berpamitan pulang kepada adiknya yang terlihat begitu memprihatikan itu. Di dalam benaknya, dia sangat berharap Lisa bahagia dan terlepas dari jeratan Transo. Setelah melihat Yuno pergi, wanita itu mencoba untuk bergerak duduk. Terasa perut dan sekujur tubuhnya bagai tersayat pisau sehingga dia memutuskan untuk merebahkan tubuh kembali.
“Lisa!” gema suara asing memanggilnya.
Lisa membolangkan mata menatap ke sekitar lalu pandangannya berhenti pada jendela yang tiba-tiba saja terbuka. Sosok bayi merangkak melompat tepat di depannya. Dia tertawa menyorot mata marah dan menumpahkan cairan kental mengenai wajah Lisa.
“Arggh!” jerit Lisa sambil menahan rasa sakit.
Perutnya bagai di timpa batu besar, sosok makhluk itu memutar kepala putaran tiga ratus enam puluh derajat sebanyak dua kali dengan gelak tawanya. Bayi yang terlahir dari sosok iblis yang di sembah suaminya.
“Ibu kenapa aku berbeda?” ucapnya bernada mengerikan.
Setelah menyelesaikan tugas dari Wijaya, Sen menuju ruangannya untuk memeriksa CCTV meihat keadaan rumah sakit terutama Lisa dan Jaka. Dia baru saja ingin duduk santai beristirahat dengan secangkir kopi yang berada di tangannya. Tapi setelah melihat Lisa dan penampakan sosok makhluk pada layar. Dia terkejut sampai menjatuhkan cangkir lalu berlari ke ruangannya.
“Tolong!” jeritan suara Lisa.
“Nyonya Lisa!” panggil Sen membuka pintu.
Sosok makhluk itu pun menghilang, Lisa menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Sen bergegas memanggil dokter di sela pikirannya yang masih gusar melihat penampakan bayi Geni yang menyeramkan.
Sosok raja iblis yang berada di dalam tubuh Transo kini menggendong Geni. Di depan pohon raksasa bayi itu di beri pakaian kain kafan hitam. Dia meniup sihir lalu mengusap kepalanya, perlahan dua taring tumbuh pada bagian atas kepala. Geni menangis menahan keanehan pada tubuhnya, jauh di dalam jiwanya ada darah manusia dari ibunya yang tertinggal. Transo memberi minumnya dengan darah, pada wadah berukuran kecil lalu menempatkannya di atas meja ritual.
__ADS_1
“Transo dia adalah pewaris ku, sosok penguasa yang abadi di dunia. Ahahah!” ucap si raja iblis.
“Semula kami berpikir anak ini akan engkau minta sebagai persembahan. Lantas bagaimana dengan Jaka?” tanya salah satu pengikutnya.