Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Jin kafir, iblis dan setan terkutuk


__ADS_3

Dunia semakin menghitam karena banyak manusia tersesat di dalam bujuk rayu iblis.


“Wijaya cepat singkirkan anak setan ini dari ruangan ku atau aku akan membunuhnya!” ucap Lisa mendengus kesal memalingkan wajah.


Bayi kedua Lisa yang enggan dia sentuh itu sedang menangis di pelukan Wijaya. Pria itu hanya menghela nafas lalu memberikannya kepada suster Ara. Keadaan tubuhnya yang tidak stabil pada hari itu membuat pertahanan kakinya tumbang terbentur pintu saat dia akan keluar ruangan. Lisa terkejut bergerak ingin membantu namun jahitannya di perutnya terasa begitu sakit.


“Wijaya!” panggilnya.


Suster Ara memanggil para perawat untuk membantu Wijaya berdiri. Dia pun Sebelum dia pergi meninggalkan ruangan, pandangannya menoleh ke arah Lisa. Hidup pria itu terombang-ambing tidak tenang. Lisa menangis memikirkan semua hal terutama orang-orang yang andil berusaha menyelamatkan dirinya. Terutama para saudara dan Wijaya yang tidak pernah berhenti memperjuangkannya agar tetap hidup.


“Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini?” gumam Lisa di dalam tangisan.


Dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sampai saat ini meskipun telah berhasil keluar dari perkampungan itu, dia tidak sempat melihat makam keduanya. Di sela angin yang berhembus menerbangkan tirai, dari luar kaca jendela terlihat bayangan hitam terbang mengagetkannya.


“Jangan ganggu aku!” ucap Lisa.


Kreekk (Bunyi pintu)


“Nyonya tidak apa-apa?” tanya suster Ara masuk mendekatinya.


“sus, cepat tutup tirai itu!” ucap Lisa.


“Sebentar nyonya.”


Dia merapikan tirai sebelumnya melihat suasana di luar. Kini dia berdiri di samping Lisa sambil memijat kedua kakinya. Dia ingin menyampaikan sebuah kabar buruk mengenai Jaka, akan tetapi setelah melihat kondisi wanita itu membuat mulutnya bungkam tidak berani menyampaikannya.

__ADS_1


“Apakah suster tidak melihat sesuatu di luar jendela?” tanya Lisa.


“Tidak ada apa-apa disana. Nyonya mungkin salah melihat saja” jawabnya.


Langkah cepat Sen masuk ke dalam ruangan, wajahnya penuh keringat sesekali dia seka dengan tangannya sendiri. Pria itu kewalahan mengurus segala hal dan mengatur apapun keperluan Wijaya sesuai yang di amanat kan oleh almarhum tuan Admaja.


“Sus, segera temui tuan besar sekarang” ucap Sen.


...----------------...


Kematian Dana masih menjadi misteri warga kampung yang ikut melayat sampai membantu proses pemakamannya. Mereka kini membicarakan leher Dana melingkar membiru seperti sebuah bekas cekikan. Kekayaan Kasim yang mendadak bersama kematian anaknya, keluarga mereka menjadi sorotan umum. Seharusnya di rumah itu diadakan acara doa bersama. Namun tidak ada satupun warga yang berani ke rumah itu ataupun menanyakannya kepada Ijah.


“Ustadz, bukan kah seharusnya Kasim dan istrinya melaksanakan takziah di rumahnya?” tanya Mamang.


“Sesuai dari yang aku dengar, mereka tidak berani melakukan acara do’a di rumah pesugihan itu. Ustadz, si Dana meninggal secara tidak wajar. Bahkan aroma si mayat pekat bunga kantil” ucap Ujang.


“Astagfirullah, engkau tidak boleh su'udzon sebelum mempunyai bukti-bukti atas perkataan mu itu. Kemungkinan saja esok atau luka beliau baru sempat


mengadakannya. Perlu kalian semua ingat di dalam risalah Imam Al Ghazali tentang empat adab orang bertakziah yaitu menghindari sebanyak mungkin hal-hal yang tidak pantas atau tabu, menampakkan rasa duka, tidak banyak berbicara, tidak mengumbar senyum sebab bisa menimbulkan rasa tidak suka” kata ustadz Ali menerangkan secara terperinci.


Semua orang yang duduk disana mendengarkan dengan penuh hikmat. Mereka kembali masuk ke dalam surau untuk melaksanakan ibadah bersama-sama. Surau sederhana itu kini semakin berisi dan terawat, beberapa dari warga yang sangat ketakutan akan ilmu hitam Transo kini berbondong-bondong menuju kesana. Sementara setengah warga yang lain masih sibuk mencari Transo ke dalam dasar jurang.


Transo menggunakan ilmu kehebatannya, dia mengucapkan mantra berkomat-kamit menusuk keris ke bumi lalu menghilang masuk ke dalam pohon. Sayup suara warga semakin mendekati pohon itu, mereka berteriak memanggil namanya. Masing-masing di tangan kanan memegang kuat obor dan di tangan kiri membawa minyak bensin.


“Transo keluar kau!”

__ADS_1


Sesampainya di depan pohon raksasa, mereka menyirami pohon lalu melemparkan api sampai menimbulkan kobaran yang sangat besar. Angin bertiup kencang, penghuni ghaib dan para iblis yang bersemayam tinggal di setiap dahan pohon perlahan menampakkan wujudnya. Bentuk mengerikan, suara seram dan gangguan ke beberapa warga. Salah satunya merasuki tubuh pria berbadan gemuk, dia kesurupan mengerang menyerang warga. Hampir saja Pendi membunuh Tumin, dia di tahan oleh beberapa orang namun karena tubuh besar dan tenaga lebih kuat membuat orang-orang yang melawannya terbanting ke tanah.


“Arggh! Tolong!” rintih Tumin merangkak kesakitan.


“ Oi Pendi! Sadarkan diri mu!” teriak para warga.


“Pendi, kemarilah. Masuk ke dalam tempat yang nyaman ini, kau akan mendapatkan segalanya. Cepat sebelum mereka membunuh mu” bisik iblis penunggu pohon.


Pendi melompat ke dalam api, orang-orang yang menyaksikannya menjerit histeris bahkan salah satu kerabat yang mengenalinya bergerak ingin berlari ikut masuk ke dalam api. Suasana menegangkan, semula mereka berniat menangkap Transo malah menjadi makanan daging panggang untuk pohon raksasa. Tidak ada angin ataupun air hujan yang memadamkan api, keanehan muncul melihat api padam dengan sendirinya dan para warga kesurupan melahap bekas bara api tersebut.


Karjo berlari naik ke permukaan, dia secepat mungkin mencari pertolongan menuju surau. Kakinya sudah penuh dengan luka dan darah. Pria itu memberitahu semua kejadian mengerikan itu dengan nafas yang memburu.


“Ustadz, tolong ustadz” ucapnya memelas.


Kesurupan masal di dasar pohon raksasa, ustadz Ali sekuat tenaga menyadarkan para warga satu persatu hingga tubuhnya terbanting ke salah satu pohon berduri. Ustadz Ali melemparkan sajadah ke bekas bakaran api, seketika Pendi keluar dari sana dengan tubuh hangus terbakar.


“Dasar warga kampung bodoh! Lihatlah! Kalian tidak bisa mengalahkan tuan ku! Cepat tinggalkan tempat ini!” gema suara Transo.


“Transo! Terkutuk lah kau!” jerit Partim.


“Hahahah.”


Kelelawar hitam dan burung gagak menyerbu mereka, setelah semua warga terbebas dari kerasukan. Serangan hewan bersayap tanpa henti sampai mengakibatkan tubuh mereka terluka terkena gigitannya. Ustadz Ali menyarankan agar segera meninggalkan dasar jurang. Sang ustadz dan para warga kini menuju ke surau untuk melaksanakan sholat hajat dan doa bersama berharap terbebas dari ilmu hitam Transo dan makhluk iblis penunggu pohon raksasa.


Ilmu hitam dan putih sampai saat ini masih bertentangan di muka bumi. Seolah gelap dan terang yang tidak berdampingan di sela takdir menuju pilihan garis hidup surge atau neraka. Tidak bisa di pungkiri iblis dan setan selalu mencari celah menyesatkan manusia. Mereka menebarkan kejahatan di balik wajah dusta menggoda untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang melawan Tuhan Yang Maha Esa.

__ADS_1


__ADS_2