
Bayi merah itu baru berumur tiga hari sejak keluar dari kandungan, bayi laki-laki yang belum sempat di beri nama olehnya. Wajah yang tidak berdosa masih tampak tenang meskipun sudah di letakkan oleh sang ayah di atas tanah berlapis selembar kain hitam. Transo tampaknya sudah kesurupan, ada sosok lain yang sudah mengendalikan tubuhnya sendiri.
“Bagus, bawa lebih dekat bayinya!” ucap suara kerang dari balik pohon raksasa.
Ketika dia akan mendorong menuju akar besar, dari arah belakang kepalanya di pukul dengan batu oleh Wijaya.
Brugh. Transo tidak sadarkan diri.
Batok kepalanya mengeluarkan darah. Wijaya cepat-cepat mengangkat bayi itu lalu berlari kencang meninggalkan jurang. Sosok mengerikan mengerang, pohon raksasa bergerak mengakibatkan guncangan tanah. Dahan dan ranting berjatuhan, tidak ada angin yang mengguncang. Gerakan seakan memaksa mencabut akarnya seperti akan mencabut paksa dari dalam tanah. Punggung Transo terkena dahan pohon yang terjatuh, hampir saya dia tidak tegak seimbang.
Tangisan bayi Lisa pecah, bayi mungil yang sedang di dalam dekapan Wijaya sangat gelisah. Dia sangat haus dan kedinginan. Di malam yang gelap gulita, Wijaya memasang posisi waspada agar tidak terjadi apapun. Dia mengeluarkan ponsel dari saku, menyalakan senter handphone untuk menerangi jalan. Akan tetapi, sudah tiga kali dia berjalan di tempat yang sama. Seolah sosok penunggu pohon raksasa telah menyesatkan. Wijaya meletakkan ponsel, dia menimang dan membelai bayi tersebut. Setelah bayi itu berhenti menangis, dia kembali melanjutkan mencari jalan keluar.
__ADS_1
“Aneh! ketika di siang hari, aku melihat jurang ini sangat sempit. Kenapa rasanya kakiku ini sudah berjalan beratus kilometer jauhnya.
“Wijaya! Kembalikan anak ku!” teriak Transo.
Senter penerangan mendapatkan mata iblis Transo dari kejauhan melihatnya. Wijaya bergegas mematikan cahaya, tangan lurus ke depan meraba setiap pohon agar tidak terbentuk olehnya.
“Hahaha, aku tau kau masih disitu” ucap Transo.
“Anak baik, sesampainya di rumah nanti akan ayah berikan susu hangat” kata Wijaya.
...----------------...
__ADS_1
Darah mengalir tiada henti, Lisa memaksa kan diri turun dari ranjang dan berlari mencari bayinya yang di bawa oleh Transo.
“Mas Transo!” jeritnya.
Dia sudah membaca kebiasaan Transo yang suka pergi menuju jurang. Lisa pun bertekad masuk kesana tanpa memperdulikan banyak darah yang dia keluarkan. Tanpa alas kaki, bagian paha sampai ke lutut sudah banyak darah yang masih saja keluar. Sampai akhirnya tiba di pertengahan jurang Lisa bertemu dengan Wijaya. Pandangan mata Lisa tiba-tiba menjadi buram. Perutnya sangat sakit, dia pingsan tepat ketika tangannya akan meraih bayinya.
“Lisa! Bangun!”
Wijaya berlari keluar dari jurang, dia membuka pintu mobil segera meletakkan bayi di kursi bagian depan.
“Sayang, jadi anak yang baik ya. Ayah akan datang lagi” pesan suara lembut Wijaya melabuhkan kecupan di dahi bayi itu.
__ADS_1
Wijaya kembali lagi memasuki hutan, dia berharap Lisa tidak akan bertemu dengan Transo atau makhluk bermata merah lainnya. Nafasnya memburu, langkah melemah sampai pada akhirnya dia bisa membawa Lisa dan bayinya meninggalkan perkampungan jin yang penuh dengan iblis dan setan.