Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Jasad yang lain


__ADS_3

Wijaya dengan telaten merawat Lisa, dia memastikan wanita itu tidak melakukan percobaan bunuh diri kembali atau menyakiti dirinya lagi. Suster Sese dan Ara di tugaskan berjaga selama dua puluh empat jam di sampingnya. Ketika Wijaya memegang jarum suntik, tangannya tiba-tiba terasa sangat kaku. Benda itu terjatuh bersama tubuhnya sempoyongan tidak seimbang menabrak jarum infus. Dua suster yang berada di dekatnya membantunya berdiri.


“Dokter tidak apa-apa?” tanya Sese.


“Saya tidak apa-apa. Jaga dan terus pantau saja Lisa, beritahu saya jika dia sudah siuman.”


“Baik dok.”


Wijaya berjalan menuju lorong rumah sakit, lampu berkedip terdengar suara Kera semakin mendekat dan sangat keras. Dia berhenti tepat di depan Wijaya, sosok berbulu hitam besar itu menarik tangan WIjaya menghilang menembus dinding.


Dia membawanya ke gubuk kera, menyadari dirinya berdiri di kelilingi oleh para pria yang pernah dia temui maka dia pun mendekati salah satu pria bertopi blangkon. Tangannya yang dingin menyentuh kepala Wijaya, dia kini di masuki oleh iblis kera hitam.


“Tuan, kini setengah jiwa mu bersatu dengan kera hitam. Apakah tuan siap melakukan penyatuan ini?” tanya si pria bertopi blangkon mengelilinginya dengan dupa.


“Wijaya, cepat setujui perjanjian ini dan selamatkan wanita itu” bisik iblis kera hitam.


Wijaya mengangguk setuju namun lidahnya masih terasa keluh mengatakan sepatah kata. Karena dia belum seutuhnya melakukan transaksi ghaib. Sosok kera iblis menghilang, Wijaya lemas terduduk di atas tanah sambil memegang kepalanya. Beberapa pria berbaju hitam membawanya ke salah satu gubuk. Pria bertopi blangkon menggelengkan kepala lalu melakukan acara ritual mantra kembali ke patung raksasa kera hitam.


“Dimana aku?” gumam Wijaya.


Ketika membuka mata, dia sudah berbaring beralas tikar. Di sekitarnya terdapat lampu teplok, tirai hitam dan di setiap sudut terletak tanda pisang di bungkus setengah kain hitam. Wijaya keluar tanpa alas kaki, mengamati setiap gubuk lalu memutar haluan ke arah belakang. Banyak tanaman pisang di sana, setiap bagian tengah batang di ikat kain hitam. Salah satu pria berbaju hitam membungkuk saat melihatnya, dia tidak berani menatap mata Wijaya.


“Pak, tolong antar saya menemui bapak yang memakai topi blangkon” ucap Wijaya.


“Tuan baru saja pergi. Katakan saja pada ku jika ada yang ingin di sampaikan.”


“Tidak, saya hanya ingin berpamitan. Saya harus memeriksa pasien hari ini” kata Wijaya.

__ADS_1


“Tapi, tuan sudah berpesan pada kami bahwa nanti malam aka nada ritual untuk bapak, saya permisi dahulu ” kata si pria berbaju hitam membalikkan tubuh dengan pandangan tanpa membalas tatapan mata Wijaya.


Wijaya merogoh saku, dia ingat terakhir kali ponselnya berada di tangan Sen. Dia pun kembali ke dalam gubuk menunggu petang dan berharap bisa segera kembali pulang. Hal aneh yang dia rasakan pada tubuhnya terkadang terasa keringan dingin bercampur hawa panas. Rasa lapar, keinginan menikmati pisang yang berada di dalam gubuk. Wijaya kembali keluar mencari satu tandan pisang mata sambil membawa pisau yang selalu dia bawa.


“Jangan pak, kita tidak boleh sembarangan mengambil pisang di area ini”ucap pria berbaju hitam lain.


“Pak, tuan memanggil anda di depan patung raksasa” kata pria berbaju hitam lain mengajaknya.


...----------------...


“Pak Sen bagaimana ini? bahkan den Jaka baru saja sembuh tapi kita tidak memberitahu tuan besar” ucap bi Teti.


“Biar saya nanti yang menjelaskan jika tuan mengetahuinya bi. Tuan sedang kesulitan mengurus nyonya Lisa, kita tidak boleh menambah beban pikirannya. Bibi jaga rumah ya, hubungi saya jika terjadi sesuatu. Minata tolong pada pak Rian dan pak Anton jika sangat mendesak.”


“Ya pak Sen” jawab bi Teti mengerutkan dahinya.


“Kemana perginya tuan besar?” gumam Sen.


Pintu ruangan Wijaya terbanting, Sen terkejut menoleh ada sosok hitam melayang dengan gigi taring melihatnya. Sen berlari bersembunyi di balik rak buku, pria itu menutup wajahnya berusaha mengatur nafas memburu karena kaget melihat sosok tadi.


“Sekarang hidup ku semakin tidak tenang” gumamnya.


Setelah beberapa menit, Sen memastikan sosok tadi menghilang. Tapi di sampingnya, nafas mendengus terasa pada bagian leher dengan hawa panas mencekam. Sosok itu masih mengincar Sen, di menahan tubuhnya lalu mencengkram sangat kuat.


“Tolong! Tolong aku!” teriak Sen.


Salah satu staf khusus mendengar teriakannya berlari menghampiri arah suara pada ruangan pribadi almarhum Admaja. Dia mengetuk pintu bahkan berusaha mendobrak, setelah berhasil perawat pria itu menepuk dan mengguncangkan tubuh Sen berharap dia tenang.

__ADS_1


“Pak Sen, istighfar pak!” ucap perawat tersebut.


...----------------...


Geram amarah dan sumpah serapah yang di layangkan nyatanya karma buruk belum berpengaruh pada Transo. Dia sudah puas mencicipi darah perawan bahkan sampai saat ini pria iblis itu mendapatkan tambahan ilmu dan kesembuhan dari jin penunggu pohon raksasa. Rume sudah menjadi mayat, darahnya habis di hisab oleh jin penunggu dan kini jasadnya berada di dalam pohon dengan di rantai akar setan.


“Bersiaplah kau Wijaya, malam ini kau akan mati! Ahahahah” ucap Transo dengan gelak tawa.


Rume telah tiada, begitu pula pak RT sudah menutup mata di dalam jurang. Siapa yang menyadari nasib tragis mereka hari ini? semua orang masih sibuk mencari Transo dan lainnya di dalam jurang. Di sisi lain, ustadz Ali sedang berjuang menyelamatkan Pirem, dia melakukan sholat hajat di dekat pohon kemudian berdzikir menggunakan tasbih miliknya. Di dalam alam lain, ustadz Ali menggelengkan kepala, dia melihat Pirem terperangkap di dalam pohon raksasa. Banyak sekali setan dan iblis disana, pria itu terlihat sudah menjadi mayat.


“Astagfirullah al’adzim” ucap ustadz Ali.


“Ada apa ustadz? Jadi kemana lagi kita harus mencari Pirem?” tanya salah satu warga.


“Ustadz, hari sudah petang. Saya harus segera kembali, aku sangat mengkhawatirkan anak dan istri ku di rumah” kata Dodon.


“Engkau pulang lah, saya sudah melihat keberadaan Pirem berada” ucap ustadz Ali.


“Dimana dia ustadz?” tanya Dodon melingak-linguk.


Ustadz Ali menunjuk ke arah pohon raksasa, dia melempar tasbih miliknya sambil berdzikir tanpa henti. Angin kencang mulai tertiup menerbangkan dedaunan, ranting dan dahan pohon. Api menyala di salah satu dahan pohon, terlihat Pirem keluar dari dalam pohon raksasa di iringi suara jeritan menggelegar.


“Hahhhh.”


Berbagai mahkluk iblis dan setan menyerang ustadz Ali, pria itu kewalahan hampir tidak bisa mempertahankan posisinya. Berhasil menyelamatkan Pirem dari cengkraman setan, tapi hanya jasadnya saja yang bisa pulang karena nyawanya sudah tiada.


“Pirem!” teriak Dodon histeris.

__ADS_1


“Innalillahi wa’innailaihi rojiun” ucap ustadz Ali.


__ADS_2