
Wijaya menyuapkan beberapa sendok bubuk ke Lisa, dia juga memberikan air putih hangat dan sekapsul vitamin untuknya.
“Terimakasih” ucap Lisa.
Dia belum bisa leluasa menggerakkan tubuh, bahkan untuk menggendong bayinya sendiri. Dia hanya bisa memangku di atas kasur. Bayi mungil itu merengek, gerakan raut wajah bertambah lucu membuat Wijaya tersenyum. Dia mengangkat mengayunkan dengan lengannya yang terlihat kuat. Raut wajah semula kelihatan begitu letih seolah terganti ceria saat menimang anak yang kini dia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Lisa, walaupun anak ini bukan darah daging ku. Mulai sekarang, apapun kebutuhannya akan aku penuhi” kata wijaya memindahkan sang bayi ke sisi Lisa.
“Tidak, mas Transo adalah ayah kandung yang akan bertanggung jawab. Mas, sebaiknya kau pergi dari sini!” bentak Lisa.
“Baiklah, setelah aku mengurus mu dan bayi ini aku akan pergi sejauh” jawabnya.
Wijaya berjalan keluar dari kamar membawa sekotak susu bayi dan sebuah botol dot kosong. Di dapur, dia memanaskan air untuk mengisi susu di botol. Di ruangan lain, dia melihat sosok hitam bermata merah menatapnya. Makhluk yang hampir menyembunyikannya di pohon raksasa depan rumah kini dia jumpai kembali. Pintu-pintu terbanting, suara jeritan Lisa dari kamar keras bersama tangis bayinya.
“Lisa!” jerit Wijaya.
__ADS_1
Sosok menyeramkan menghilang lalu masuk ke tubuhnya, di setengah sadar memegang kuat bayi yang sudah menangis ketakutan.
“Lisa, sadarlah!” Wijaya meletakkan botol susu kemudian menepuk pundaknya.
Wijaya membacakan surah pendek ke telinganya, Lisa menangis kesakitan. Dia tidak sadarkan diri, sementara bayinya kembali di gendong oleh Wijaya. Pemuda itu sangat sabar memegang botol susu lalu di masukkan ke dalam mulut bayi mungil yang sudah berhenti menangis. Setelah beberapa menit berlarut, bayi itu pun tertidur di pangkuannya.
“Andai dia adalah anak kandungku” Kalimat itu berulang kali dia ucapkan tanpa bosan ketika menatap bayi itu dengan penuh rasa sayang.
“Aku akan memanggilmu Jaka” bisiknya tersenyum mengusap dan mengecup dahinya.
Situasi tampaknya kembali normal, Wijaya menidurkan bayi di samping Lisa. Dia memberikan minyak angin ke telapak kakinya sambil menyelimuti keduanya.
...----------------...
Siang terik Transo pulang ke rumah memakai pakaian compang camping. Dia melotot bergerak memukul Wijaya melihat pria berseragam itu berdiri di depan pintu rumah.
__ADS_1
“Mas, aku hanya membantu istri mu. Semalam dia melahirkan dan engkau tidak pulang sampai berhari-hari. Lisa menderita mas” kata Wijaya menyatukan kedua tangan.
“Diam kau, jangan ikut campur masalah rumah tangga ku! Pergi!” teriak Transo melempar batu ke arahnya
Kaca mobilnya pecah, namun Wijaya tetap bersabar mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah. Lelaki yang tidak tau berterima kasih dan pembunuh. Itulah hal yang sedang berputar-putar di pikiran Wijaya.
“Bagaimana nasib Lisa dan anaknya kelak?” gumamnya.
Di rumah, Transo melihat anak pertamanya lahir dengan selamat. Dia memeriksa semua anggota tubuh bayi tersebut.
“Jangan sampai anak ini menjadi tumbal, tuan ku yang berada di pohon raksasa harus aku berikan persembahan dengan bayi dari selir dan istri ku lainnya” ucap Transo.
Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Lisa. Pria gila itu mengangkat bayinya bersuara tinggi mengeluarkan tawa terbahak-bahak.
“Hahaha, penerus ilmu ku!”
__ADS_1
“Mas, lepaskan anak ku!” ucap Lisa.
Dia bangkit dari kasur menghalangi Transo membawanya keluar rumah.