
Terlalu lama masalah ini berlarut-larut sehingga banyak warga memilih untuk pindah dari kampung itu. Daerah itu terlihat semakin sepi penghuni, orang-orang yang bertahan tinggal disana karena hanya memiliki rumah satu-satunya yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Terlebih lagi mereka harus tetap meneruskan hidup dan bekerja sebagai petani atau menjadi pekerja di perkebunan agar bisa menghidupi keluarga.
Insiden yang menimpa Miftah menjadi pembicaraan hangat serta ketakutan warga melepaskan anak mereka keluar rumah. Di sisi lain banyak warga berbondong-bondong menjenguk Miftah ke rumah sakit, mereka membawa hasil panen lalu mendo’akan agar Miftah segera cepat sembuh. Para warga juga berharap Surau kembali ramai dengan orang-orang yang melaksanakan ibadah.
Ustadz Ali dan bu Halimah mengucapkan banyak terimakasih pada mereka, di balik senyumannya sang ustadz yang hangat tersimpan menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Setelah tragedi penyerangan Transo di dasar jurang, kesehatannya menurun menampakkan wajah pucat yang tidak bisa di tutupinya.
Siang ini Ustadz Ali dan Halimah berkemas untuk membawa Miftah pulang. Tangannya masih di perban, terlihat mata membengkak setiap malam masih menangis merasakan trauma. Semenjak kejadian itu, dia enggan banyak berbicara. Halimah tanpa lelah selalu memberi semangat, menasehati dan membimbingnya agar tetap kuat juga jangan pernah melupakan sholat.
“Assalamualaikum” ucap Ustadz Ali dan Halimah.
“Walaikumsalam” jawab mbok Win membuka pintu.
“ Ayah, ibu, kakak!” jawab Hasyah berlari kecil memeluk ibunya.
...----------------...
“Bagaimana keadaan tuan Wijaya dok? Apakah kita harus membawanya ke luar negeri agar cepat pulih?” tanya Sen.
“Ya, sepertinya luka bakar ini cukup serius. Sebaiknya dokter Wijaya di tangani oleh para medis dan peralatan yang lebih canggih” ucap dokter Prama.
Sen memutuskan untuk membawa Wijaya ke Negara Singa. Sebelum keberangkatannya yang mendadak itu, dia memberikan amanat dan tanggung jawab besar pada Toni. Untuk memperketat penjagaan Lisa dan Jaka, Sen membayar sepuluh algojo dan beberapa petugas keamanan. Pria itu benar-benar menjadi kaki tangan yang paling setia bagi Wijaya. Sen tidak sempat berpamitan pada Lisa, dia hanya menitipkan sebuah pesan berharap Lisa membacanya setelah siuman.
Di dalam ketakutan, wanita itu berusaha bangkit dari alam bawah sadarnya. Mimpi-mimi buruk, penampakan, gangguan dan berbagai hal aneh menghantui hingga membuat dia menjadi orang gila. Hampir saja dia membunuh dirinya kembali, kali ini tubuhnya terasa seperti sedang tertindih oleh sesuatu.
__ADS_1
Kreekk (Pintu terbuka)
Sosok bayi bertaring merangkak tertawa menyeringai mendekatinya. Dia mirip bayi Geni, sosok bayi setan yang lahir akibat ilmu Transo. Suara tetesan lendir terdengar di lantai, Lisa yang masih tidak bisa menggerakkan tubuh tampak gelisah melotot melihatnya. Bayi setan itu menumpahkan cairan darah tepat masuk ke dalam rongga tenggorokannya. Di dalam batin dia menjerit kesakitan, suaranya yang tidak bisa di keluarkan bersama tubuhnya kaku.
Dari balik pintu, suster Yara masuk terkejut menjatuhkan semangkuk bubur di atas nampan. Melihat kedatangan si suster, sosok Geni menghilang meninggalkan tawa yang nyaring. Yara perlahan mengguncangkan tubuh Lisa, dia menepuk pipinya lalu mengoles minyak angin di sekitar hidung.
“Nyonya Lisa! Bangun nyonya!” panggil suster Yara.
Suster itu memasang kembali jarum infusnya yang terlepas dan merapikan kembali kasurnya yang berantakan. Lisa masih depresi merasakan keanehan pada dirinya langsung menjerit histeris kembali sambil menjambak rambutnya sendiri. Suster Yara memberikan suntikan penenang, dia pun perlahan tertidur tergurat wajah lelah derita.
Semua hal mengenai Lisa sudah di ceritakan oleh Sen sebelum menitipkan pada suster Yara dan Toni. Suster terpercaya itu pun kini semakin lebih fokus untuk menjaga Lisa.
Hari yang di lalui gelap tidak ada tawa atau penghibur lara, kesehatan yang tidak stabil terkadang dia suka menangis dan tertawa sendiri. Pagi ini suster Yara membawanya berkeliling halaman bagian samping rumah sakit. Udara segar, embun bagi yang basah menetes dari sela dedaunan tempat dia duduk melamun.
Lisa hanya menggelengkan kepala, gerakan bentuk leher sedikit miring menatap kosong. Dari balik salah satu bangunan ada tatapan yang sedang mengintai. Seorang anggota kaki tangan dokter Pram yang melihat segala gerak-gerik mereka.
Dokter Pram berencana menghabisi Lisa maupun bayinya Jaka. Terlebih lagi mengetahui kabar Wijaya, dia berencana menguasai Rumah Sakit yang ternama itu. Suster Yura meminta ijin pada Lisa untuk pergi beberapa menit. Sebelumnya dia memberikan selimut ke bagian paha sampai kaki lalu memintanya untuk tidak pergi kemanapun.
“Halo dok, target sudah terlihat sendiri” ucap seroang pria mengenakan baju perawat.
“Jalankan rencana.”
Kursi roda Lisa di dorong menjauh dari para pasien lain yang sedang ikut berjemur di sekitar halaman. Pria itu membawanya sampai ke arah belakang gedung. Laju kursi roda semakin cepat sampai keluar gerbang, bunyi alarm sinyal yang di pasang Sen pada kursi roda tersadap oleh para body guard. Mengetahui ada lima orang pria yang mengejar perawat itu, dia mendorong kencang kursi roda hingga Lisa jatuh terbanting.
__ADS_1
“Nyonya Lisa!”
“Hei tunggu! Jangan kabur kau penjahat!”
Mereka melaporkan kejadian itu pada Toni. Mendengar insiden itu pun mereka di perintahkan untuk mencari informasi terkait orang-orang yang berusaha melenyapkannya. Toni tidak mau kejadian itu terdengar oleh Sen, dia bergerak cepat memanggil aparat kepolisian agar cepat menyelidiki dan menangkap para pelaku.
“Maafkan atas kekhilafan saya tuan” ucap suster Yara menunduk.
“Saya harap suster lebih ketat lagi mengawasi nyonya” kata Toni.
Beruntungnya Lisa hanya mengalami luka pada bagian pelipisnya. Lisa di tempatkan kembali di ruangan, ada dua algojo berjaga di depan ruangan itu. Banyak hal yang harus di pikirkan Toni, terlebih lagi dia masih terbilang baru bekerja bersama Sen. Sekarang Pria itu mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan Jaka, tanpa ijin dia langsung masuk ke ruangan menanyakan bagaimana kondisi bayi tersebut.
Jaka yang mengalami diare, mual serta menangis sepanjang hari. Dokter yang menangani masih tampak sibuk mengobatinya. Salah satu suster meminta Toni kembali menunggu di luar. Dia pun keluar dengan menghela nafas panjang.
“Bagaimana ini? aku tidak akan berani menjawab jika pak Sen menanyakan kabar nyonya Lisa dan Jaka” gumam Toni.
Selesai memeriksa Jaka, Toni di minta untuk masuk ke ruangan dokter Prama. Jaka yang di fonis mengalami keracunan pada susu formula membuat Toni menggelengkan kepala. Dia ingat betul menyiapkan segala kebutuhan Jaka sangat hati-hati. Terlintas di pikirannya akan pesan Sen harus waspada terhadap dokter Pram dan para kaki tangan terdekatnya.
“Tidak salah lagi, pasti ini ulah suster Cindi” gumam Toni.
“Dok, tolong berikan penanganan yang terbaik untuk Jaka."
“Saya akan mengusahakan, karena Jaka sudah banyak terkontaminasi susu basi beracun sehingga sekujur tubuhnya masih membiru.”
__ADS_1