Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Bersekutu dengan iblis


__ADS_3

“Sus, apa yang sedang engkau lakukan disitu?” tanya suster penjaga ruangan bayi.


“Engkau tidak lihat aku sedang sibuk mengurus bayi yang baru lahir ini sus?” ucap suster Ire.


Suster itu masih sibuk memperbaiki keranjang bayi, dia mengambil selimut baru perlahan tersenyum melihat isi box yang kosong. Suster penjaga ruangan menepuk pundaknya, memastikan lagi tidak ada bayi di dalam sana. Lampu padam, suara ketukan di jendela dan ramai tangisan suara bayi di seisi ruangan. Suster penjaga panik, dia menyalakan lampu emergency melihat suster Ire berdiri di depan tirai dengan gerakan mengayunkan tangan.


“Sus, suster Ire!” panggil suster Anya.


Suster Ire membalikkan tubuh, dia mengeluarkan hewan-hewan kecil berterbangan masuk ke dalam rongga mulut suster Anya dengan suara teriakan keduanya. Suara keributan di dalam ruangan bayi terdengar oleh para suster lain. Ketika mereka membuka pintu, para bayi di dalam ruangan itu berada di atas lantai dengan tangisan tersedu-sedu. Mereka juga melihat suster Anya dan Ire pingsan di dekat jendela. Kejadian itu menjadi desas-desus yang di layangkan oleh penghuni rumah sakit akan keangkeran rumah sakit milik Wijaya.


Banyak para tenaga medis mengalami gangguan ghaib, terutama kini yang di alami oleh suster Anya. Sudah tiga hari dia tidak bekerja, semenjak kejadian itu dirinya seperti sedang di teror oleh sesuatu dan terkadang menjadi sosok yang lain.


Suster Ire mendengar kabar suster penjaga ruangan itu, selesai bekerja dia menuju ke rumah suster Anya ke wilayah dusun jeruk utara. Letaknya yang jauh mengharuskan dia meminta cuti satu hari kepada pihak Rumah sakit. Bus berhenti tepat pukul 18:00 WIB, suster Ire mempercepat langkah menuju ke rumah suster Anya. Dia begitu tergesa-gesa hingga tanpa sadar telah menjatuhkan ponselnya.


Tok, tok ( Suara ketukan pintu)


Suster Anya membuka pintu, lingkar mata kuning cekung tubuh meringkik membungkuk berjalan pelan ke arahnya. Ire meneteskan air mata tidak tega dengan keadaan dirinya. Di dalam hati menyalahkan diri sendiri karena tidak percaya dengan apa yang orang katakan mengenai Lisa.


“Suster Anya mengapa engkau jadi seperti ini? hiks”


Ire memeluk di dalam tangisan, dia mengusap punggungnya merasakan tulang si suster yang menonjol begitu dingin. Teringat pertemuaan dengannya terakhir kali, sang suster tidak sadarkan diri ketika dia sedang menggendong bayi milik Lisa.


“Aku juga tidak tau sus, besok kakak ku akan datang menjemput ku pulang. Sepertinya aku akan mengundurkan diri dari Rumah Sakit untuk menjalani pengobatan kampung dalam jangka waktu yang sangat lama” kata suster Anya.

__ADS_1


“Aku akan membantu pengobatan suster, cepat segera berikan aku alamat kampung rumah suster” ucap Ire sambil memeluknya.


“Tidak terimakasih banyak. Saya tidak mau merepotkan suster, saya janji akan selalu memberi kabar” ucap Anya.


“Sus, katakan pada ku mengapa suster seperti orang kebingungan saat melihatku memasuki ruangan bayi tempo hari? Apa yang sudah suster lihat?” tanya Ire penasaran.


“Sejujurnya aku tidak berani mengatakan hal itu, karena setiap hari banyak sekali gangguan aneh yang membuat hidup ku tidak tenang. Sus, sebaiknya suster pindah kerja saja dari sana” ucap Anya.


“Tidak bisa segampang itu sus, kini tuan Admaja mempercayakan saya sebagai pengurus bayi keduanya.”


“Apa? Bayi mana yang suster maksud? Pada saat itu saya tidak melihat ada bayi yang suster bawa ke dalam ruangan” kata Anya dengan nafas tersengal-sengal.


Dia menekan dadanya yang terasa sangat sakit, pandangan beralih ke sudut ruangan melihat penampakan anak kecil menyeringai dan melambaikan tangan kepadanya. Anya berteriak histeris, dia memukul sendiri kepalanya. Ire berusaha menahan namun malah terbanting hingga tubuhnya mengenai pot bunga hias di dekat sofa.


Keadaan Anya yang kacau, dia berlari ke dalam kamar dengan suara bantingan pintu yang sangat keras. Dari luar, Ire mengetuk meminta Anya membukanya. Namun wanita yang itu sudah seperti orang gila kehilangan akal warasnya. Suara jeritan dan teriakan Anya yang sudah tidak terdengar lagi membuat Ire semakin panik.


“Suster Anya cepat buka pintu! Sus!” teriak Ire.


Di dalam kamar, Anya melihat sorot mata merah mendekat. Dia bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, semakin dekat sampai tubuhnya di tarik ke dalam lemari. Sosok yang bersembunyi di dalam kegelapan itu mematahkan lehernya. Hewan- hewan kecil yang bersemayam di dalam tubuhnya itu menghisap darahnya hingga habis lalu keluar berterbangan dari rongga mulutnya.


Dubrak (Suara dobrakan pintu)


“Arggh! Suster Anya!” teriak Ire.

__ADS_1


Pihak yang berwajib hadir memeriksa rumah Anya, tampak orang-orang berkerumun memadati sekitar rumah itu dengan bisikan perbincangan tentang Anya. Kematiannya yang mengerikan dan rumor yang beredar mengenai Rumah Sakit. Salah satu warga menimbrung ke tiga orang wanita yang masih membicarakan kematian Anya.


“Kalian harus tau kalau semua ini ulah si dukun yang berada di wilayah perkampungan itu. Menurut kabar, dia akan menumbalkan istrinya yang di selamatkan di rumah sakit tempat Anya bekerja” ucap Sarah.


...----------------...


Malam mencekam, nyanyian suara makhluk aneh mengibas dunia hitam. Di depan kuburan Ben dan Rume, para manusia penentang kematian sedang berdiri masing-masing memegang sesajian di tangan mereka. Dukun Aes menggelengkan kepala, selesai mengucapkan mantra terakhir di depan kedua papan nisan itu.


“Parsih, kau harus memilih salah satu dari kedua mayat ini” ucap dukun Aes.


“Apa maksud mu pak? Bukan kah kau mengatakan sudah mempersiapkan semua yang aku ingin kan? Aku mau keluarga ku utuh kembali! Apapun caranya!” bentak Parsih seperti orang kesetanan.


“Kau saja yang membangunkan keduanya sekarang! Apakah kau tidak tau bahwa kematian mereka akibat ulah makhluk jin penunggu pohon raksasa? Jika kau tidak bisa memilih sebaiknya kau saja yang mati dan keduanya hidup kembali!” ucap dukun Aes mengeluarkan kerisnya.


“Cepat Parsih pilih salah satu dari mereka!” ucap si dukun kembali.


Memilih suami atau anak, batin Parsih berkecamuk di sela keinginannya yang lain mengorbankan dirinya sendiri agar keduanya hidup kembali. Dia tidak memilih salah satunya, dia sudah memutuskan yang terbaik untuk keluarganya.


“Pak, biar aku saja yang mati. Hidupkanlah mereka kembali, jika aku memilih salah satunya maka aku takut menjadi penyesalan di kemudian hari” ucap Parsih.


“Kalau itu sudah menjadi keputusan mu maka jangan salah kan aku jika ritual ini berhasil atau tidak. Aku hanya berusaha semampu ku. Menghidupkan mayat yang sudah pergi selama empat puluh hari harus di bayar dengan tetesan darah dan nyawa yang lain sementara kau tau kalau makhluk penghuni pohon raksasa itu pasti meminta bayaran nyawa atas penukaran jiwa yang di ambil kembali.”


Memikirkan kembali penjelasan dari dukun Aes, langkah Parsih menuju ke makam Ben sambil memeluk erat papan nisannya.

__ADS_1


__ADS_2