Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Fatal


__ADS_3

Hidup susah, ekonomi yang sempit dan pengeluaran yang mendesak. Orang-orang memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya. Adi menuju pohon besar, dia mendapat kabar angin mengenai pesugihan dari makhluk astral melalui kuncen seorang nenek tua yang tinggal di perkampungan jin. Adi mengemasi barang berpindah tugas membawa keluarga besarnya menuju wilayah perkampungan untuk memulai niat jahat demi mendapatkan uang. Di perusahaan sebelumnya dia telah terlilit hutang, rumahnya telah di sita dan terpaksa dia melarikan diri meminta bantuan kepada Transo untuk mendapatkan harta berlimpah.


“Disini adalah juru kunci yang harus engkau temui” bisik Transo.


Sosok pria gila itu memberikan arahan setelah tertawa menyeringai. Adi dengan penuh harapan memasuki rumah nenek tua. Setelah beberapa menit berlalu, Adi keluar mengikuti nenek tua membawa obor yang membawa menuju pohon.


"Di bawah bulan purnama yang berwarna merah engkau harus mengorbankan kedua anakmu sebagai sesembahan. Dengan begitu harta mu tidak akan pernah habis dan kekal abadi” ucap nenek tua.


Didi dan Dodo di bawa oleh Adi menuju pohon raksasa. Suasana yang semula hening itu kini mencekam sangat dingin. Rintik hujan dan derasnya air mengguyur, hal itu tidak mengurungkan niat Adi untuk membatalkannya.


Nenek tua itu mengucap mantra melirik Didi dan Dodo yang ketakutan. Adi menurunkan mereka dari gendongan mengajaknya berdiri di dekat papan besar. Benda itu adalah penutup lubang besar yang terdapat sosok ghaib di dalamnya.


“Didi, Dodo, ayah akan mencari ibu. Kalian tunggu disini ya” ucap Adi meninggalkan kedua balitanya bersama langkah tergesa-gesa.

__ADS_1


Nenek tua itu memukul bumi dengan hentakan tongkat yang ada di tangan kanannya. Seketika makhluk mengerikan keluar dari dalam papan mengambil Didi dan Dodo. Jeritan bercampur rasa sakit dan rintihan terdengar sangat kuat.


Kejadian itu di saksikan oleh Adi yang bersembunyi di balik pohon sedang Dita yang sudah tidak bisa berbuat apapun saat melihatnya membuat suaranya seketika hilang. Setelah keduanya sudah tidak sadarkan diri, makhluk itu menghilang bersama papan tua berukuran persegi panjang.


Wajah pucat fasih keduanya seperti mayat yang sudah berhari-hari. Si nenek tua menyodorkan sebuah parang dan memberi isyarat agar Adi memenggal kepala anaknya.


Praghh. Clap. (Bunyi suara patahan leher secara sadis)


Alangkah marah dan kecewa Dita melihat Adi ketikan mengetahui telah mengorbankan anaknya sendiri. Dia mengambil batu besar lalu memukul kepala Adi dari arah belakang. Pukulan amarah, semakin kuat sampai kepalanya pecah dan menghembuskan nafas terakhir.


Tidak ada ibu di dunia ini yang rela anaknya di sakiti sekalipun yang menyakitinya adalah suami sendiri. Dita berlari mengejar nenek tua itu sambil membawa batu besar tadi.


“Arghh!”

__ADS_1


"Terkutuk kau wanita keji!"


Suara jeritan mereka menerbangkan hewan-hewan malam.


Kaki yang sudah berdarah akibat berpijak pada duri dan akar tidak di hiraukan lagi. Nenek tua itu sudah tersudut terduduk di dekat semak belukar. Dia mengarahkan tongkat ke arah Dita kemudian mengucap mantra.


“Akan aku panggil sosok lain yang mirip dengan mu untuk mengasuh anak mu di alam lain. Selamanya kau tidak akan pernah mengetahui keberadaan mereka. Hihihhh” ucap nenek tua.


Dita melempar batu besar dan memukul kepalanya. Suara pecahan tulang tengkorak mengecap, jiwa Dita berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Dia menoleh ke arah kayu yang tebal lalu menusuk mata nenek tau itu hingga mengeluarkan biji mata keduanya. Dia menusuk jantung nenek tua lalu menangis menekuk lututnya.


“Didi, dodo! Kembalikan anak ku! Hiks.”


Hingga saat itu Dita masih mengingat semuanya, sekalipun kini dia mempunyai segala harta dari hasil tumbal yang di lakukan oleh Adi melalui kedua anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2