Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Luka batin


__ADS_3

“Bi, bagaimana keadaan Jaka?” tanya Sen.


“Tubuh den Jaka terasa sangat panas pak, bagaimana ini?” tanya bi Teti.


“Sebentar lagi kita akan sampai bi.”


Tanpa mengetahui penyebab yang sebenarnya, di depan ruang gawat darurat pria itu mondar-mandir sambil mengusap kepala. Dia menahan diri untuk tidak memberi kabar Jaka kepada Wijaya. Mengingat sang majikan sedang berjuang melawan sosok ghaib.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamnya.


...----------------...


“Ustadz, pria itu sudah banyak menimbulkan keonaran. Ilmu yang dia miliki membuat para warga ketakutan bahkan dia akan menumbalkan istrinya sendiri” ucap salah satu warga kampung.


“Ustadz, menurut saya sebaiknya kita selesaikan saja masalah ini secara kekeluargaan setelah menemukan pak Transo” ucap pak RT.


“Tidak, kita harus mengambil tegas dalam masalah besar ini. Sadar lah semuanya, kampung kita sedang di landa musibah besar akibat ilmu hitam Transo” ucap pak Pirem menghentakkan tangan di atas meja.


“Ya, saya sangat setuju dengan pendapat pak Pirem. Sebaiknya kita usir saja Transo dari kampung ini” kata Karjo menimpali.


Perdebatan mereka berlangsung sangat lama, karena tidak bisa meredakan amarah para warga. Beberapa dari mereka berlari menyalakan obor berbondong-bondong ke rumah Transo. Mereka membakar rumahnya dengan penuh murka. Kelelawar hitam dan burung gagak beterbangan di salah satu pohon membentuk sosok hitam. Para warga yang menatapnya kesurupan sampai ada pria yang melompat ke dalam api yang menyala.


“Karmidi!” teriak Karjo dan warga lainnya.


Keributan tidak terelakkan, Ustadz Ali kewalahan menenangkan mereka. Amarah Pirem begitu geram berlari ke jurang di ikuti empat warga. Hujan telah reda, gundukan tanah miring menuju kesana sangat licin di kelilingi hewan melata dan semak belukar.


“Hati-hati! Tetap berpegang pada salah satu akar besar sampai kalian menuju dasar jurang” ucap Pirem.


...----------------...


Di rumah sakit, Sen tampak kebingungan setelah mendengar kabar kritis dari Jaka. Bi Teti perlahan berbisik mendekatinya, pembicaraan mereka yang serius terhenti melihat kedatangan pak Rian. Dia membawa sebuah bungkusan hitam menyerahkannya kepada bi Teti.


“Jadi ini yang bibi maksud?” tanya Sen.


Bi Teti mengangguk, Sen menyodorkan beberapa lembar uang pada pak Rian. Mereka menuju ke sudut ruangan rumah sakit yang sepi, manik mata menatap ke sekitar. Ada sebungkus air berwarna keruh dan sepincuk daun pisang berisi bunga beraroma air mawar.


“Dukun mana yang kau datangi ini pak?” tanya bi Teti.

__ADS_1


“Saya menemui dukun Aes di wilayah Barat, pak tua itu berpesan bahwa khasiat benda yang saya bawa ini hanya berlaku sampai empat puluh hari saja.”


Menyadari Jaka sedang kerasukan, Sen meminta bi Teti segera menjalankan misi mereka. Bi Teti mengusap air dan menabur bunga di atas kepala Jaka. Setelah itu dia buru-buru membersihkan bekas taburan bunga. Setelah itu Sen berpamitan lalu memberikan ponsel miliknya, dia membimbing cara memakai tombol panggilan, penutup dan cara menerima atau menulis pesan.


“Pak Sen, bantu bibi sekali lagi cara menggunakan benda ini” ucap bi Teti.


Sen dengan sabar mengarahkan kembali, dia juga memberikan catatan mengenai tombol-tombol penting agar dia bisa mengingatnya.


...----------------...


“Wijaya, Wijaya” suara makhluk siluman Kera menggema.


Sosok iblis yang kini menjadi peliharaannya sedang duduk di atas meja sambil melahap pisang emas sangat rakus. Setelah habis, dia meninggalkan banyak sampah bekas pisang bersama bekas kaki lumpur. Wijaya hanya memperhatikannya sambil memikirkan semua hal yang dia lakukan adalah demi Lisa walau kini dia menyadari telah menjadi manusia yang sesat.


“Pak Rian” panggil Wijaya.


Dia memanggil berkali-kali, membuka pintu rumah hingga panggilannya terdengar oleh Anton. Pekerja yang suka tertidur di pos satpam itu lari langsung berlari menghampiri Wijaya. Mengingat tadi pak Rian berpesan agar jangan mengatakan ke sang majikan bahwa dia akan pergi ke rumah sakit. Pikiran Anton kacau mencari alasan yang tepat kalau tuannya itu menanyakannya.


“Bapak tau dimana pak Rian?” tanya Wijaya.


“Saya tidak tau tuan” jawabnya.


“Kemana perginya dia?” Sen juga tidak terlihat kata Wijaya.


“Kemungkinan mereka sedang keluar tuan” ucap Anton menunduk.


Dia tidak berani menatap mata sang majikan. Melihat Wijaya sudah kembali masuk ke dalam rumah, pria itu melakukan panggilan ke nomor Anton. Nomornya yang sibuk membuat Anton panik, dia pun mengirim pesan ke Sen berharap mereka segera membalasnya.


Kepada tuan Sen:


Tuan Wijaya sudah keluar dari ruangannya dan mencari tuan serta pak Rian


...----------------...


Di dalam perut berdetak jantung berirama cepat sesekali menonjolkan gerakan seperti sebutir telur yang menonjol. Begitu pula perutnya terkadang terasa seperti tangan bayi yang memiliki kuku tajam sedang merobek isi di dalamnya. Hari ini Lisa sangat kesakitan, dia menahan perih rasa sakit sampai menekan kuat perutnya.


“Bayi ini seharusnya tidak ada, aku tidak pernah menganggap ada anak yang lain selain Jaka” gumam Lisa.

__ADS_1


Dia mencari benda tajam di sekitar kamar, akan tetapi hanya ada sebuah sisir di atas nakas. Bagian pegangan sisir berbentuk runcing. Lisa yang sudah tidak tahan merasakan keanehan dan sakit di dalam perutnya dengan nekad menusuk perutnya sendiri dengan ujung sisir yang lancip tersebut.


Syat, syat (Suara tusukan dan sayatan kuat)


“Argghh!” jerit Lisa di dalam kain yang dia gigit kuat.


Tusukan itu semakin dalam, berkali-kali Lisa berusaha merobek perutnya sendiri agar bisa mengeluarkan bayi setan di dalamnya. Tanpa memikirkan resikonya, Lisa menahan rasa sakit yang tidak tertahankan. Darah yang keluar sudah membanjiri lantai, Lisa setengah mati kesakitan sampai wajahnya membiru.


Prangg (Gelas pecah)


Rume menjatuhkan piring yang berisi nasi dan lauk-pauk yang sengaja dia antar untu Lisa. Setelah membuka pintu kamar, dia terkejut melihat keadaan Lisa. Ada penampakan makhluk mengerikan berdiri di belakang Lisa sambil tersenyum menatapnya.


“Setan! Argggh!” jerit Rume.


Suaranya terdengar oleh Parsih, dia yang tidak kuat melihat Lisa sampai tidak sadarkan diri terjatuh di depan pintu.


“Ibu bangun! Bu.”


...----------------...


Lisa membuka mata, dia mengingat terakhir kalinya akan melakukan percobaan pembunuhan pada diri dan bayinya. Dia melirik ke sisi kiri, ada Wijaya di sampingnya sedang duduk tertidur sambil memegang tangannya.


“Wijaya” panggilnya.


Pria itu terbangun mengusap wajahnya yang pucat, dia tersenyum lalu merapikan selimut Lisa. Suara langkah sepatu Sen mendekati Lisa, dia membalas sapaannya lalu kembali menoleh ke arah Wijaya.


“Sen, kemana perginya Wijaya tadi?” tanya Lisa.


“Saya tidak melihat tuan dari tadi non. Tuan baru saja menelpon akan datang kesini” jawab Sen.


“Jadi siapa sosok yang bersama ku tadi?” gumam Lisa.


“Non Lisa!” seru bi Teti.


Dia menggendong bayi Jaka, tangisan bi Teti melihatnya. Dia meletakkan Jaka ke sisi kanan ibunya, air mata Lisa tumpah setelah sekian lama bisa bertemu kembali dengan sang buah hati.


“Anakku.”

__ADS_1


__ADS_2