Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Bidik ghaib


__ADS_3

Kaki mungil itu di beri sarung berwarna biru yang memiliki tali ujung bulat pompom yang di rajut begitu menarik. Aroma bayi yang harum di usap dengan baby powder membuat harum semerbak menenangkan pikiran. Lisa mengecup kening bayi Jaka dengan senandung bubui bulan begitu merdu membangunkan Transo dari tidurnya.


Bubuy bulan bubuy bulan sangray bentang


Panon poe panon poe disasate


Unggal bulan unggal bulan abdi teang


Unggal poe unggal poe oge hade


Situ Ciburuy laukna hese dipancing


Nyeredet hate ninggali ngeplak caina


Tuh itu saha nu ngalangkung unggal enjing


Nyeredet hate ninggali sorot socana

__ADS_1


Sudah sangat lama Lisa enggan mengeluarkan suaranya. Setelah kehadiran Jaka, seolah sinar mentari kini semakin hangat membungkus tubuhnya yang membeku.


“Lisa! Buatkan aku secangkir teh!” bentak Transo.


Kamar tidur mereka terpisah, Transo yang lebih memilih menghabiskan waktu sendiri dan tidur di kamar pribadinya. Lisa menarik kain panjang untuk menggendong bayi Jaka, dia tetap membawa anak bayinya kemanapun dia melangkah. Setelah memberikan teh dan sepiring makanan kepada Transo, dia mencuci piring dan menyapu rumah. Bayi Jaka yang gelisah membuat Lisa menghentikan pekerjaannya lalu memberikannya susu dan duduk di dekat Transo.


“Mas, aku ingin bicara” ucap Lisa.


“Kau butuh apa? Tinggal ambil saja emas batangan dan uang-uang itu” ucap Transo.


“Berisik!” bentak Transo membanting makanan dan minumannya.


“Mas!”


“Ah sudahlah, aku akan bersiap ke kantor. Biar keluarga mu tau bahwa aku juga bisa disebut pria berdasi! ” kata Transo masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.


Lisa menyusulnya sambil melepas botol dot susu Jaka. Dia meraih beberapa lembar popok bayi dan keperluan bayi Jaka untuk dia bawa.

__ADS_1


“Rumah tangga kita sampai disini” ucap Lisa.


“Apa? Kau sekarang sudah berani melawan ku?” Transo menarik tas yang berada di tangannya lalu memukul Lisa sampai dia terjatuh di lantai. Hampir saja bayi mungil itu terlepas dari gendongan. Pipi merah tergambar lima jari milik Transo. Kini lelaki itu semakin tidak terkendali dan kasar.Transo segera meninggalkan Lisa sambil membanting pintu.


Dubraghh. Bunyi bantingan pintu sangat keras terdengar sampai mengagetkan dia dan anaknya. Tangisan Jaka pecah, hati dan pikiran Lisa yang kacau menimang dan mengayun anaknya berharap memiliki masa depan dan nasib yang baik.


“Apa yang harus ibu lakukan? Ibu hanya seorang wanita yang bergantung pada suami” gumam Lisa.


...----------------...


Disisi lain, Wijaya dan Sen tiba di depan gubuk milik lelaki tua. Pintu rumah itu terbuka dengan sendirinya tanpa ada angin atau siapapun yang membukanya. Sen melangkah di depan Wijaya, mereka masuk ke dalam gubuk sambil mengetuk pintu dan mengucap salam. Wijaya memperhatikan tempat itu di penulis dengan kepala tengkorak dan benda-benda yang mirip di dekat pohon raksasa. Aroma anyir bercampur kemenyan sangat menyengat, pandangannya tertuju pada sebuah foto yang berada di atas meja.


“Kenapa ada foto ayah ku disini?” tanya Wijaya.


“Tuan besar pergi menemui pria pemilik gubuk ini beberapa hari yang lalu. Semua dia pertaruhkan demi keselamatan tuan muda” jawabnya.


“Keselamatan apa yang kau maksud? Ayah ku meninggal dengan cara yang tidak wajar!” kata Wijaya histeris.

__ADS_1


__ADS_2