Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Penderitaan setiap hari


__ADS_3

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Lisa berserta saudaranya. Setelah kedua orang tua mereka mengetahui kejadian yang menimpa anak-anak mereka. Hery dan Hani memutuskan untuk pergi ke rumah Lisa. Mereka menuju ke rumahnya tanpa pemberitahuan, mereka mengendarai angkutan umum. Ketika bu Hani mengamati pemandangan sekitar. Tanpa berkedip dia melihat sosok wujud tinggi besar berada di depan pintu rumah. Bu Hani mengucapkan lafaz dan ayat-ayat suci, matanya melotot lalu mengetuk pintu sedangkan pak Hery masih sibuk memindahkan barang-barang dari dalam bus.


“Ibu, bapak..” peluk Lisa.


Mereka saling menangis, terutama bu Hani yang sangat prihatin melihat keadaan anaknya.


“Nduk, tubuh mu semakin kurus dan layu. Lihatlah wajah mu juga tidak berhias lagi” ucap bu Hani.


Bayi Jaka menangis, hal itu mengubah suasana sedih menjadi haru dan isak bahagia. Pak Hery meraih bayi Jaka dari dari gendongan Lisa. Cucu ketiga mereka yang paling mereka tunggu. Bu Hani dan pak Hery menimang bayi Jaka memasuki rumah. Sementara Dino yang telah bersiap untuk membantu Lisa tanpa sungkan mengangkut seluruh barang ke dalam ruang tamu lalu memasuki dapur membantu Lisa menyiapkan minuman.


“Pak, untuk apa bapak membantu saya? Siapa yang menyuruh bapak ke sini?” tanya Lisa mengerutkan dahi.


“Perkenalkan bu, saya Dino. Pak Wijaya yang mengutus untuk membantu ibu selagi pak wijaya sedang bertugas” jawabnya santun.


“Tidak terimakasih. Saya masih bisa melakukannya sendiri. Bapak di ruang tamu saja biar saya yang menghidangkan minuman” ucap Lisa.

__ADS_1


“Kalau begitu saya pamit saja, jika ibu membutuhkan sesuatu segera panggil saja. Saya tinggal rumah nomor tiga urutan sebelah kanan dari rumah ini” ucap Dino.


“Ya terimakasih.”


Lisa masih tidak percaya bahwa Wijaya terlalu memikirkannya. Dia menuju ke ruang tamu, meletakkan gelas-gelas dan cemilan di atas meja.


“Tidak usah repot-repot nak. Oh iya dimana suami mu? Apakah dia sedang bekerja?” tanya bu Hani.


“Mas Transo sedang keluar sebentar bu”


Lisa duduk di dekat mereka, pandangan mata bu Hani menatap rumah anaknya yang tampak seperti rumah yang tidak terurus. Dia menghela nafas, berselang sore hari dia membersihkan rumah dan menabur garam di sekelilingnya.


“Agar menghindari hewan melata tidak masuk rumah, berhubung di depan rumah mu ada jurang dan pepohonan rimbun. Ibu juga memasang pagar agar penghuni makhluk di sekitar sini tidak memasuki rumah” ucap bu Hani.


Menjelang malam tiba, suara ketukan pintu membisukan seisi rumah yang sedang tertawa mengganggu bayi Jaka. Transo mengenakan pakaian hitam berbau aroma anyir begitu kaget melihat bu Hani dan pak Hery berada di dalam rumahnya.

__ADS_1


“Bapak, ibu” ucapnya menunduk.


“Transo, dari mana saja kau? Anak mu baru lahir dan istrimu membutuhkan mu” ucap bu Hani.


“Masuk” ucap Pak Hery.


Pak Hery berbisik ke bu Hani, dia menggelengkan kepala lalu mengusap punggung tangannya.


“Kita harus bersabar, semua pilihan ada di tangan Lisa. Bayi Jaka tidak boleh menjadi anak korban broken home. Dia adalah darah daging mereka” ucap pak Hery.


Waktu menunjukkan pukul 21;00 WIB. Pak Hery bersama Transo duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi hangat.


“Transo, apakah engkau bisa menjaga Lisa?” ucap pak Hery.


“Ya, aku akan menjaganya. Segalanya akan aku berikan” ucap Transo.

__ADS_1


Dia menyodorkan sebatang emas untuk pak Hery. Akan tetapi tangan pak Hery mendorong emas batangan itu ke arah Transo kembali.


“Bapak tidak membutuhkan ini. Tolong kau jaga Lisa jika tidak bapak akan membawanya pulang” ucap pak Hery.


__ADS_2