
Sen mencari pertolongan, dia berlari menuju tepi jalan. Melingak-linguk menggerakkan langkah rapuh menahan rasa sakit, darah sudah mengalir deras. Ketika suster Kela sudah tidak terlihat lagi, Sen meneruskan langkah melambaikan tangan ke sebuah mobil yang melintas. Hari itu masih terbilang hari keberuntungan, dia mendapatkan tumpangan kembali ke kediaman Wijaya.
Pandangan sudah tidak bisa melihat dengan jelas, Sen merengkuh kan tubuh di depan pintu. Belum sempat dia menekan tombol bel masuk, Sen sudah tumbang tidak sadarkan diri. Dia hampir kaku disana, seorang pekerja yang menemukan langsung mengangkat dan meminta pertolongan ke yang lain.
Di sisi lain, tangisan bayi Jaka meraung tidak terkendali meski para suster sudah menimang dan menjaganya. Wajah bayi itu sudah membiru, karena sangking paniknya mereka memutuskan menghubungi Wijaya.
Di dalam panggilan.
"Dok, bayi Jaka tidak bisa berhenti menangis sejak satu jam yang lalu" ucap salah satu suster.
"Tolong terus tenangkan, saya akan pulang lima belas menit lagi" jawab Wijaya.
"Suster! pak Sen di temukan pingsan di depan pintu. Tubuhnya terluka parah, cepat obati dia" ucap salah satu pekerja.
Kedua suster saling berbagi tugas untuk mengurus Jaka dan Sen. Kapas berkali-kali di ganti, obat betadine yang di teteskan sebelum membungkus luka serta suntikan antibiotik di berikan padanya. Lima belas menit pun berlalu, Wijaya sangat terkejut melihat keadaan Sen. Pandangan beralih mencari bayi Jaka, dia mengambil anak kesayangannya itu lalu menimang di buaian nya.
__ADS_1
"Anak ku sayang, kenapa engkau tidak berhenti menangis? apakah engkau merindukan ibu mu?" bisik Wijaya.
Bayi yang sudah dekat dengan pria yang pertama kali menimangnya, perlahan bisa menenangkan hingga dia tertidur dalam pangkuan.
"Suster, apa yang terjadi dengan pak Sen?" tanya Wijaya.
"Dok, pak Sen mengalami luka robekan pada kulit. Seperti luka yang di akibatkan oleh gigitan hewan" jawab salah satu suster.
...----------------...
Denta berdiri samping Yuno, dia menangis memeluk menyembunyikan wajahnya yang menyeringai.
Denta tidak menjawab, dia hanya mengusap Kepalanya di balik tubuh ayahnya.
"Ibu, aku takut."
__ADS_1
Saci menarik tangan Rara, persiapan kepulangan mereka hari ini telah maksimal. Mereka masih bertanya-tanya, mengapa Denta terlihat baik-baik saja sementara kecelakaan besar membuat kematian pada suster Haki.
"Mas, sepertinya Denta baik-baik saja. Kita harus melihat keadaan Lisa sekarang" ucap Fredi.
"Tidak, kita semua baru saja pulih mas. Perjalanan kesana bukanlah berjarak dekat. Aku tidak setuju jika kau tidak memikirkan kesehatan Dika" ucap Rara.
"Kalau begitu biar aku dan mas Yuno saja yang pergi" kata Fredi.
"Tidak, aku menitipkan Denta pada kalian. Biar aku saja yang pergi."
Yuno pun memutuskan untuk menuju perkampungan itu seorang diri.
Di malam yang larut, Yuno mengemudikan kendaraan begitu cepat hingga sampai di perbatasan wilayah hutan. Dia merasakan hawa dingin menyebar hingga menusuk tulang. Tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita, rasa cemas menghampiri memikirkan apakah wanita yang barusan dia tabrak terluka parah.
Yuno keluar dari mobil, hanya bekas darah berwarna hitam mengenai mobil bagian depannya.
__ADS_1
"Dimana wanita yang aku tabrak tadi?" gumamnya.
Dia pun kembali meneruskan perjalanan. Akan tetapi, dia terus berputar di satu titik lokasi yang sama. Bahkan, tanpa dia sadari bahwa kendaraan nya memasuki area hutan yang terdalam.