
“Sen, cepat bantu aku. Carikan aku satu tandan pisang emas dan seekor ayam cemani hitam” ucap Wijaya dari balik pintu kamar mandi.
Gemetar tubuhnya menahan rasa panas, dia berkali-kali mengguyur tubuh lalu membasuh wajah. Tapi tetap rasa panas tidak bisa hilang sedikitpun. Sen mempercepat langkah berlari mencari pesanan tersebut. Banyak berbagai penampakan yang di alami oleh para suster yang menjaga Lisa maupun bayinya. Di tengah malam yang gelap gulita, Sen menuju ke sebuah perkampungan yang jaraknya sangat jauh dari kota.
Dia mendapatkan informasi mengenai kebutuhan bahan klenik dari salah satu pegawai karyawan yang bekerja di Rumah sakit. Dia membayar harga seekor ayam cemani dan satu tandan pisang emas seharga lima juta rupiah. Transaksi jual beli berlangsung begitu cepat, dia tidak meminta penawaran harga sedikitpun mengingat kondisi Wijaya yang sangat membutuhkan bahan itu. Di tengah perjalanan kembali pulang, panggilan telepon dari bi Teti membuat dia memperlambat laju kendaraannya.
“Halo pak Sen, bibi bingung sekali. Den Jaka tidak mau berhenti menangis. Tubuhnya panas kembali” ucap bi Teti di dalam panggilan.
“Coba tangani tuan muda sebaik-baiknya mbok. Saya akan segera memberitahu tuan Wijaya” ucap Sen lalu menutup panggilan.
Sesajian sudah di lahap habis oleh Wijaya, begitupun darah ayam sebagai penawar rasa panas yang semula seperti akan membakar tubuhnya. Perlahan wajahnya yang terlihat gosong perlahan kembali normal seperti sedia kala. Hanya saja kulitnya sedikit lebih pucat, lingkar mata panda terurai jelas.
Dia menuju ke ruangan Lisa, dia tampak sedang tertidur pulas sampai tidak merasakan wijaya sedang merapikan selimut dan mengganti jarum infusnya. Sen hampir melupakan Jaka, dia menepuk jidatnya sendiri lalu menunduk mendekat ke arah Wijaya.
“Tuan, saya hampir melupakan tuan muda Jaka. Bi Teti beberapa jam lalu mengabarkan bahwa tuan muda kembali demam tinggi.”
“Apa? Kenapa kau baru sekarang mengatakannya? Cepat bawa Jaka dan bi Teti kesini” perintah Wijaya.
Di dalam rumah yang besar itu tangis suara melengking Jaka sejadi-jadinya. Ada Transo yang sudah berdiri di depan bi Teti dengan sebuah parang yang dia ayunkan tepat di leher bi Teti dengan sekuat tenaga. Kepala bi Teti terjatuh ke lantai, begitupun tubuhnya yang sudah terpisah. Transo mengambil bayi Jaka lalu berlari dari pintu belakang. Melihat Transo berlari membawa Jaka, pak Rian menarik tangannya dari samping sambil memukul kepalanya dengan gagang cangkul yang dia pegang.
__ADS_1
Dari arah yang berlawanan pak Anton berusaha merampas Jaka. Tangisan bayi itu kesakitan di sela pertengkaran mereka bertiga. Wajah Anton memerah, dia sangat membenci sosok pria pembunuh Dodon. Tanpa ragu lagi, Anton memukul menusuk perut Transo lalu segera berlari ke dalam rumah.
“Pak Rian! Cepat masuk sebelum dia mengejar kita!” jerit Anton.
Tubuh si dukun penyembah iblis telah kebal terhadap benda tajam sekalipun telah terluka. Transo mencabut paksa pisau itu lalu melemparkannya ke kaki Rian. Pria itu terjatuh saat akan masuk ke dalam rumah. Transo menarik Rian sambil tertawa terbahak-bahak, dia menyeret pria itu lalu mengikatnya di salah satu pohon belakang rumah. Anton menyaksikan hal gila yang di lakukan Transo kepada Rian dari balik jendela.
Transo mencangkul tubuh Rian menjadi beberapa bagian. Darah mancur mengenai tubuh dan wajahnya malah terlihat dia nikmati dan hisap secara rakus. Setengah tubuh di rasuki oleh jin iblis penunggu pohon raksasa. Anton ketakutan berlari menuju ruang tamu mencari telepon untuk meminta pertolongan.
Panggilan telepon sedang di alihkan, nomor Wijaya berkali-kali yang sedang sibuk membuat Anton panik. Pandangannya beralih mendengar suara tetesan darah pada ubin, alangkah terkejutnya dia melihat jasad bi Teti sangat mengenaskan.
“Bi! Arggghh!” jerit Anton.
“Anton! Aku tau kau sedang bersembunyi disini. Cepat kembalikan anak ku!” teriak Transo.
Tiba-tiba saja Transo menghilang, di bawah kolong meja makan rasa takut Anton menoleh ke sekitar perlahan keluar lalu menoleh ke ruangan lain. Tanpa sepengetahuannya, Transo mengayunkan cangkul tepat di kaki kanannya. Lebih tepatnya pada bagian pergelangan kaki bagian kanan terputus menimbulkan jeritan kesakitan Anton sangat kuat.
“Ahahah” tawa Transo.
Clap, krak (Suara cangkulan kedua)
__ADS_1
Sasaran benda itu mengenai tulang betis Anton. Pria kejam berhati setan itu menarik Anton menggunakan kawat berduri hingga Anton meraung-raung kesakitan.
“Cepat katakan dimana anak ku?” ucapnya melotot.
Cangkul sudah terangkat ke atas langit-langit ruangan. Di dalam benak Anton berpikir sekalipun jika dia memberikan bayi itu pasti dirinya juga akan terbunuh. Sampai dia mati pun dia tidak akan percaya pada si dukun. Tidak ada jawaban yang terlontar dari Anton, dia sudah pasrah jika harus itu di bunuh olehnya.
“Pak Transo lepaskan dia atau aku akan menembak mu!” ucap Sen menodong kan pistol di kepalanya.
Senjata itu sudah di berikan oleh Wijaya secara resmi agar bisa membantu menjaga dia dan keluarganya. Sen sedikit gemetar saat berada tepat di depan Transo yang berhawa dingin mencekam. Setu detik, dua detik hingga detik ketiga Sen di tendang olehnya hingga terbanting. Tenaga Transo sangat kuat di bantu oleh iblis penunggu.
Adegan saling merampas senjata, Sen berhasil meraih pistol miliknya meski salah satu jarinya telah terputus akibat serangan ganas si dukun.
Sebuah peluru mengenai sasaran, suara tembakan menerbangkan burung-burung yang bertengger di pepohonan. Peluru itu masuk pada bagian belakang tulang tengkorak kepalanya, darah hitam mengalir deras membuat Transo berlari meninggalkannya.
“Aku akan membunuh ku! Kau tidak akan aku lepaskan begitu saja karena sudah mencampuri urusan ku!” ucap Transo.
Sen membantu Anton berdiri,dia juga memanggil polisi dan dua mobil ambulan untuk mengangkat mayat Rian dan bi Teti serta satu mobil lagi untuk membawa Anton ke rumah sakit. Dia mengabarkan semua berita duka itu kepada Wijaya sambil membawa Jaka.
Wijaya meminta para tenaga medis memberikan pelayanan dan pengobatan yang terbaik untuk Anton. Operasi pada kakinya yang berlangsung selama berjam-jam. Kaki Anton hampir saja di amputasi karena pergelangan kaki kanan sudah terputus paksa menimbulkan luka yang membusuk.
__ADS_1
Luka busuk yang tidak wajar itu di abaikan oleh para dokter bedah. Mereka hanya menimbang kondisi pada tubuh pasien yang rentan pada alergi atau suatu benda tajam yang tidak steril melukai tubuh Anton. Para dokter bedah itu mengganti pergelangan kaki Anton dengan pergelangan kaki palsu. Selesai di operasi, dia di tempatkan di salah satu ruangan VIP yang di sediakan oleh Wijaya.