Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Ulah si dukun


__ADS_3

Di asrama Rumah Sakit.


Suster Keit sudah siuman terbangun mengusap wajahnya lalu menggenggam tangan suster Tika yang tertidur di sampingnya. Dia masih ingat insiden yang hampir membuat kehilangan akal sehatnya. Seumur hidup Keit tidak pernah membayangkan mendapatkan gangguan dari makhluk halus. Menyadari Keit telah sadar, Tika berlari mengambilkan segelas air untuknya.


“Bagaimana keadaan mu sus? Maafkan aku yang membiarkan mu sendirian masuk ke dalam ruangan bayi itu” ucap Tika penuh penyesalan tergambar wajahnya yang murung.


“Aku sudah baikan sus yang terpenting tidak terjadi apapun pada ku” jawab Keit.


“Sus, aku sarankan kita mengundurkan diri sebelum mati ketakutan di tempat ini” ucap Tika.


“Di jaman yang serba sulit ini, mendapatkan pekerjaan baru tidaklah mudah. Kita tidak bisa semudah itu pergi setelah dokter Wijaya mengetahui siapa saja yang melihat bayi Geni bertingkah aneh”


“Ya engkau benar, sejujurnya pak Sen sudah sudah memberiku ancaman agar tidak membocorkan rahasia tentang bayi Geni.”


...----------------...


Malam menjadi saksi bisu sosok bayi tersemat si keturunan pengabdi setan. Dasar jurang kini menjadi rumah mereka, tidak ada warga yang berani mendekati tempat itu kecuali orang-orang yang mempercayai sosok ilmu hitam untuk meminta bantuan.


Mendapatkan kekayaan yang instan, menyesali perbuatan bersifat sementara saat melihat harta yang menyilaukan mata. Nyatanya kematian anak kedua mereka hanya bagai beberapa serpihan air mata simbol pencitraan kepada para warga.


Rumah itu semakin terlihat megah, pada bagian depan terdapat kolam di tutupi dengan daun teratai dengan air mancur di dekatnya. Kasim mendirikan sebuah patung berbentuk makhluk aneh di depan pintu gerbang. Pemandangan rumah terkesan angker di tambah gantungan sangkar berisi burung hantu berjejer di sepanjang halaman.


“Bu, sakit! Tolong aku!”


Dana melayang di balik asap tebal mendekatinya, wajahnya mengerikan terlihat cekung lingkaran mata hitam meneteskan air mata darah. Ijah berlari ketakutan, di tengah lahan yang luas kegelapan malam dirinya mencari jalan pulang menghindari kejaran anaknya.

__ADS_1


“Argghh!” jeritnya ketakutan.


Dari arah depan tampak Dini berdiri mengenakan baju kumal menangis sambil mengulurkan tangan sepanjang tiga meter hingga menyentuh pundaknya. Ijah sangat ketakutan, dia membalas sentuhan tangan itu yang terasa sangat dingin dan kaku. Menyadari dia sedang di hantui arwah kedua anaknya sendiri, Ijah terduduk lemas menangis sekuatnya.


“Maafkan ibu! Hiks” tangis Ijah.


Kasim mengguncangkan tubuh membangunkannya sampai dia membuka mata. Bantal Ijah basah penuh air mata yang tumpah. Sejak saat itu, Ijah tidak pernah lagi berbicara. Tatapannya kosong, dia duduk di atas kursi roda sesekali menangis mengingat kedua anaknya yang telah tiada.


Kasim frustasi, dia melakukan berbagai pengobatan secara medis dan ghaib untuk menyembuhkan istrinya. Sementara di sisi lain, dia kewalahan mengurus Danu dan Dina sendirian. Meski dia memiliki seorang penjaga rumah, satu petugas kebersihan dan dua pembantu Rumah Tangga mereka tidak pernah berani untuk masuk ke dalam rumah mewah itu saat malam hari.


Kini sudah senja, seperti biasa para pekerja nya pulang ke rumah mereka masing-masing. Kecuali pak Erik yang berjaga di pos satpam. Setiap malam dia menahan rasa takut akan gangguan berbagai keanehan di rumah itu.


“Hei pak Erik, kenapa engkau tiba-tiba memanggilku? Jangan paksa aku untuk menemani mu bermalam disini sekalipun engkau memberikan ku uang” ucap Ujang.


“Mungkin saja dia akan menjadi tumbal berikutnya! Setan itu akan datang dan__” Ujang berhenti berbicara karena mulutnya di tutup oleh Erik.


“Jangan menambah suasana jadi kacau, pokoknya temani aku disini!” kata Erik memaksanya.


“Ngomong-ngomong, apa kau tidak mendengar kabar almarhumah Tumi? Kau sebaiknya menjauh dari dukun itu atau Ijah bernasib seperti dia?”


“Cukup! Di tengah malam begini jangan ceritakan hal buruk seperti itu!”


Suara jeritan seakan Ijah sedang kesakitan, dari luar semakin jelas terdengar hingga menerbangkan hewan bersayap malam yang bertengger di pepohonan. Danu dan Dina melihat ibu mereka dari balik pintu menangis ketakutan. Kasim malah mengangkat keduanya masuk ke kamar mereka lalu mengunci dari luar. Dia seolah seorang ayah yang tidak punya lagi rasa kasih sayang. Dia berlari menggendong Ijah ke dalam mobil menyalakan mesin memberi kode klakson agar Erik membuka gerbang untuknya.


"Cepat!" teriak Kasim.

__ADS_1


“Sebentar den!” jawab Erik berlari.


Setelah melihat mobil itu pergi, Ujang melotot melihat sosok baju hitam berada di dalam menatapnya. Dia langsung lari meninggalkan pos, suara panggilan Erik dia abaikan akibat sangking takutnya melihat penampakan tadi. Tanpa memikirkan kedua anaknya yang dia kunci di dalam kamar, Kasim melajukan kendaraan ke Rumah Sakit dengan kecepatan tinggi.


Sepanjang perjalanan dia merasa suhu semakin panas disamping suara jeritan Ijah yang tidak berhenti. Suaranya sampai serak, air mata sudah tidak terlihat lagi dengan gerakan tubuh menggeliat kuat hingga Kasim tidak bisa menyeimbangkan laju stirnya.


“Bu sadar bu! Hentikan atau kita akan kecelakaan!” bentak Kasim.


Kasim terkejut melihat ada seorang pria yang tiba-tiba berdiri di depan mereka. Dia membanting stir ke kiri sambil menginjak rem sekuat-kuatnya. Kecelakaan pun tidak bisa di hindari, mobil berasap menabrak pohon. Di sela sekarat, Kasim melihat sosok pria tadi adalah Transo dengan tawanya yang menyeringai membalas tatapannya.


“Transo, kau rupanya. Dasar kau manusia iblis!” ucap Kasim bersuara pelan lalu menutup mata.


Transo tertawa terbahak-bahak, dia memerintahkan pengikutnya untuk di bawa ke dasar jurang sedangkan Ijah di tinggalkan begitu saja. Jasad mayat yang baru meninggal itu di potong-potong lalu organnya di cincang oleh para pengikut Transo. Darah segar tersiram di wajah mereka penuh senyuman menikmati setelah selesai meletakkannya di atas daun pisang.


Santapan darah daging manusia terhidang sebagai makanan untuk Transo, Geni dan para pengikutnya. Kabar kecelakaan Kasim dan Ijah terdengar di sampaikan oleh pihak kepolisian. Jasad Kasim yang menghilang dan keadaan Ijah yang sedang di larikan di Rumah Sakit.


Matahari bersinar di ufuk timur, cahaya terik memancar di sela jendela kaca rumah. Para pekerja lain satu-persatu hadir melakukan tugas mereka masing-masing. Erik mendatangi mereka memberitahu kejadian yang menimpa Kasim dan Ijah. Merekapun menjadi panik dan saling bertatapan memikirkan nasib pekerjaan mereka selanjutnya.


“”Apa sebaiknya kami berhenti saja pak?” Kata mang Rom.


“Ya benar bi, aku akan pulang kampung saja hari ini” ucap Rina.


“Tahan dahulu sampai kita mendengar kabar dari nyonya” cegah Erik.


“Tolong pak! Kamar Danu dan Dina terkunci dari luar. Bibi panggil dari tadi tidak ada jawaban dari mereka” ucap bi Bi Kas berlari tergopong-gopoh dengan wajah panik.

__ADS_1


__ADS_2