Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Sulit dan derita


__ADS_3

Cuaca yang mendung, mata sembab dan suara yang serak. Wijaya yang semula enggan menggerakkan tubuh, kini berusaha bangkit dan tegar di depan anak angkat yang sedang dia timang sepanjang hari itu.


“Tuan Sen, cepat kemas pakaian dan keperluan ku. Kita akan mengantarkan nyonya Lisa pulang” ucap Wijaya.


“Baik tuan.”


“Tunggu, kenapa pelipis mu di perban? Apakah engkau mengalami kecelakaan?” tanya Wijaya sambil memperhatikan darah yang masih keluar di perban putih itu.


“Tidak apa-apa tuan, saya akan pergi mengemas barang-barang sekarang” jawabnya.


“Wijaya, aku bisa pulang menaiki Grab atau angkutan lainnya” ucap Lisa sambil mengerutkan dahi.


Bagaimana bisa dia menjadi beban pria yang sedang terpukul atas kehilangan sang ayah yang dia miliki satu-satunya di dunia ini? Lisa menjadi merasa serba salah akan posisinya.


“Jika saja aku tidak kesini setelah mengetahui kepergian tuan Admaja maka aku akan mejadi sosok wanita paling kejam di dunia. Tapi, jika aku menemuinya sekarang, Wijaya menjadi sangat kerepotan dan terbebani oleh ku. Aku melihatnya langkahnya yang masih terbata-bata” gumam Lisa.


Sampai saat ini, bayi Jaka masih berada di dalam lengan Wijaya. Tidurnya begitu pulas meskipun ramai suara dan kendaraan di sepanjang perjalanan tetap tidak membangunkannya.

__ADS_1


“Wijaya, kembalikan anak ku” ucap Lisa.


“Tidak, aku sudah beberapa hari tidak menggendongnya” ucap Wijaya.


Pak Sen yang memperhatikan dari balik kaca mobil sesekali menghela nafas panjang.


Sesampainya di depan rumah Lisa, mereka turun dari mobil sambil memperhatikan nyala obor di setiap rumah warga.


“Syukurlah tempat ini sekarang menjadi terang dengan nyala obor, dengan begitu jika ada maling sekalipun pasti dengan mudah tertangkap” ucap Wijaya.


“Pak Sen, kenapa engkau mengetahui semua informasi disini?” tanya Wijaya penuh curiga.


“Apakah tuan lupa di jurang sana tuan besar telah pergi” jawabnya sambil menunduk.


Wijaya ingin memukul atau mengeluarkan kata-kata kasar. Namun, di tangannya sedang ada bayi tidak berdosa yang penuh dengan penderitaan dengan wajah polos yang membuat hatinya tersentuh.


“Kau harus menjelaskan semuanya kepada ku setelah pulang nanti” bisik WIjaya.

__ADS_1


“Lisa, aku akan berpamitan, jaga diri baik-baik” ucap Wijaya.


“Terimakasih mas, terimakasih pak Sen” ucap Lisa sambil meraih bayi Jaka.


“Sama-sama non.”


Wijaya memutuskan untuk menginap di dalam mobil. Sementara pak Sen dia tugaskan untuk berjaga di depan pintu rumah Lisa setelah wanita pujaannya itu menutup pintu. Segala perjuangan dan pengorbanan terbesar ini hanya untuk sekuntum bunga yang tidak pernah dia campakkan.


Sosok wanita yang pertama dan terakhir untuk dia lindungi dan cintai. Mereka menunggu fajar tiba untuk menuruni jurang. Setelah kematian dan penukaran jiwa yang di layangkan oleh tuan Admaja, Wijaya terhindar oleh sosok penunggu jin raksasa. Tapi, saat waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi, di depan pintu rumah Lisa telah berdiri sosok hitam besar dengan mata merah menyala.


“Hantu!” teriak Sen lalu tidak sadarkan diri.


Wijaya keluar dari mobil melihat sosok hitam besar berubah menjadi Transo.


“Hei, bagaimana kalau kita melakukan pesta untuk perayaan ayah mu? Hahah” ucap Transo.


Wijaya kembali menaik turunkan perasaan. Dia enggan melayani di dukun gila di tengah dukanya atas kematian sang ayah. Di samping itu, sangat sulit untuk membedakan mana sosok Transo atau sosok jin hitam yang mengikuti rupanya.

__ADS_1


__ADS_2