
Di situasi rumit seperti ini, pertolongan yang paling utama adalah meredakan tangisan dan rasa lapar pada bayi Lisa yang dari tadi menangis hingga tubuhnya memucat. Jarum jam sudah menunjukkan waktu sepertiga malam Hati Lisa gusar karena Transo masih belum pulang. Terlebih lagi Wijaya kini berjuang seorang diri menolongnya. Tangan kanan bekas gigitan setan itu terasa perih. Sebelum Wijaya pergi, dia sudah mengobati lukanya.
Perlahan Lisa bergerak turun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi. Dia ingin sekali membawa anaknya masuk akan tetapi kondisi fisik tubuh terasa sangat lemah. Selangkah demi selangkah hingga di sampai di depan pintu kamar mandi lalu menoleh melihat bayinya.
“Sayang, sebentar saja ibu akan meninggalkan mu” ucap Lisa meneruskan langkahnya.
Tangisan bayi mungil itu meraung bercampur rengekan sehingga Lisa kembali menuju bayinya. Dia menggendong bayinya, posisi duduk meluruskan kaki. Dia sangat lemah sampai tubuh gemetar menahan rasa haus dan lapar.
“Mas Wijaya, dimana kau? Aku sangat membutuhkan mu” gumamnya.
Suara seretan pintu, bantingan jendela yang keras menahan Lisa untuk menunda kembali menuju kamar mandi dan dapur. Dia tidak bisa melakukan apapun. Ramai suara dan bayangan anak-anak kecil berlarian keluar masuk ruangan. Berselang waktu, suara klakson mobil Wijaya memasuki pekarangan rumah.
“Lisa, apakah engkau baik-baik aja?" ucap Wijaya membawa beberapa kantung plastik besar.
__ADS_1
“Maafkan aku leluasa keluar masuk kamar pribadi mu. Hal ini terpaksa aku lakukan, aku sudah memanggil seorang perawat untuk menjaga dan merawat mu serta bayi mu.”
Mendengar ucapan Lisa, dia menjadi merasa bersalah dan menduduki peran posisi wanita terjahat di muka bumi.
Sungguh, ini semua salah ku! Tapi aku tidak bisa lepas dari suami ku sekarang” batin Lisa terkoyak mendapat perlakukan baik dan sopan dari Wijaya.
“Berbicara tentang suster, aku teringat akan sosok suster hantu yang pernah mengikuti” bisik Wijaya pelan.
“Mas, sudahlah. Terimakasih engkau untuk semuanya. Tapi aku benar-benar tidak ingin engkau terlihat oleh mas Transo” jawab Lisa.
...----------------...
Kematian yang mengenaskan, kepergian orang yang sangat di cinta seakan masih bisa menjalani hidup tapi tidak bis abernafas lagi. Yuno memeluk jasad Miya, dia mengangkatnya dari dalam bak mandi.
__ADS_1
Tubuhnya sangat berat, kaku dan terus menerus mengeluarkan darah.
“Miya!” teriak Yuno.
Dua orang warga yang mendengar teriakan histeris itu langsung masuk ke dalam rumah melihat kejadian yang mengenaskan. Kedua ibu-ibu itu saling berbisik, mereka melihat jasad Miya sampai mengeluarkan suara jeritan.
“Pak Yuno maaf kami harus pergi” ucap mereka gelagapan.
Kematian yang tidak wajar, para pelayat yang hadir di rumah Yuno melakukan jaga jarak dari mayat. Aroma amis masih melekat anyir menyebar menusuk rongga hidung. Proses pemakaman itu segera di lakukan mengingat darah masih keluar dari lubang hidung dan telinga mayat.
“Mas, apakah mas udah menghubungi Lisa? Tanya Fredi di dekatnya.
Yuno menggelengkan kepala, dia mencengkram tangan Fredi menatap dengan netra berkaca-kaca.
__ADS_1
“Jangan kau katakan hal ini kepada adik kita. Dia sedang hamil tua, tekanan dan deritanya lebih besar. Aku tidak mau dia menyalahkan dirinya sendiri dan terjadi sesuatu pada sang bayi jika mengetahui hal ini” kata Yuno.
“Tapi mas, kabar kematian tidak bisa di tutupi”