
Segalanya hanya sebuah permainan yang di mainkan oleh peran masing-masing.Tapi pemain terjahat adalah Transo yang menjalankan kesyirikan demi kesenangannya belaka. Sekalipun dia sudah terluka bahkan kulit terkelupas, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk mencari tumbal baru demi mendapatkan keinginannya kembali.
“Bagaimana bisa aku mencari tumbal? Sedangkan tubuh ku penuh luka? Tuan ku, sembuhkan aku terlebih dahulu maka aku akan segera mencari mangsa untuk mu” ucap Transo.
“Pergilah ke rumah mu dan sebarkan bunga ini di sekelilingnya. Setelah itu kau kubur diri mu sendiri sampai batas pundak di depan pintu masuk pohon raksasa” gema jin dari balik pohon raksasa memberikan perintah.
Langkah kesakitan, telapak kaki mengeluarkan darah di sepanjang jalan. Transo menggenggam bunga pemberian jin bermata merah secepat mungkin sampai menuju rumahnya.
...----------------...
“Mas, perasaan ku tidak enak. Seperti ada hal buruk yang akan terjadi” ucap Lisa sambil menggendong bayinya.
"Aku hanya lembur, aku pasti segera pulang."
Kini dia di rawat di sebuah apartemen kelas VIP, di damping oleh seorang suster yang dia cari dari luar rumah sakit miliknya. Setelah mengetahui tindakan ayahnya, Wijaya mengambil langkah cepat agar menjaga keselamatan Lisa.
Malam itu pukul 21:00 WIB. Segala persiapan telah di lakukan tuan Sen dan beberapa body guard pak Admaja. Mereka memakai baju hitam dan topeng. Mereka mengamati segala gerak gerik siapa saja yang keluar masuk ke dalam apartemen Wijaya. Saat melihat Wijaya sudah keluar dan menjalan kan mesin mobi, tuan Sen memberikan aba-aba untuk memasuki tempat itu. Langkah terhenti, melihat ada seorang lelaki bersama seorang anak kecil memasuki apartemen.
__ADS_1
“Mundur!” perintah tuan Sen.
Yuno duduk di sofa bersama Denta, seorang suster menyediakan dua gelas minuman dan sepiring cemilan di atas nampan.
“Silahkan di nikmati tuan, nyonya besar masih di kamar mandi” ucapnya lalu meninggalkan mereka.
“Terimakasih.”
Lisa keluar dari kamar mandi merapikan rambut lalu melihat bayinya yang masih tertidur pulas.
“Non, ada tamu di depan” ucap suster sambil tersenyum.
“Tidak tau non.”
“Ya sudah, tolong jaga bayi ku.”
Lisa menunjukkan ekspresi bahagia, abangnya Yuno kini datang membawa keponakannya. Dia sudah berfikir pasti abang pertamanya itu mengetahui keberadaan dirinya memalui Wijaya.
__ADS_1
“Mas, kenapa tidak memberitahu aku? Lalu, mana mbak Miya?” tanya Lisa mengusap kepala Denta.
“Ibu sudah mati” jawab Denta.
“Mas, benar yang di bilang Denta?” ucap Lisa.
Air mata Yuno menetes, matanya berkaca-kaca. Perasaan yang mendalam berusaha dia tutupi. Namun, tetap saja dia tidak bisa disembunyikan.
“Maafkan aku” lirih Yuno menutup wajahnya.
“Mas, aku turut berduka. Semoga almarhumah tenang dan di tempatkan sebaik-baiknya di sisi Nya.”
“terimakasih dik.”
Setelah berbincang-bincang yang sangat lama, Yuno menimang keponakannya itu perlahan tersenyum dan tertawa melihat bayi mungil Lisa.
“Mas, sudah larut malam. Wijaya ada lembur, dia tidak tau pulang jam berapa. Mas tidur saja di kamar Wijaya” kata Lisa meraih bayi yang di pindahkan dari tangan Yuno.
__ADS_1
“Lisa, seharusnya kau sadar siapa lelaki yang bertanggung jawab dan membahagiakan mu! Wijaya adalah pria yang baik. Aku kenal siapa dia, begitu pula pria jahat yang tidak bertanggung jawab dan sudah menelantarkan mu!” ucap Yuno.
“Mas, aku tidak mau berpisah dari mas Transo. Walau bagiamanapun_” perkataan Lisa terputus menahan tangis yang akan pecah.