
Hari semakin suram, dunia ini terlalu banyak kepiluan dan penderitaan. Menunggu kabar bahagia hanya fatamorgana kesia-siaan saja di dalam cerita mistis para pemercaya ilmu ghaib. Mengukir benda tajam yang ada di pelupuk hati, sayatan, tetesan perasan air jeruk semakin membuka luka batin. Menenggelamkan raga, hidup tapi bagai mayat sengsara di muka bumi. Dia benar-benar menjadi anak yang durhaka.
Yuno menangis menyaksikan jasad kedua orang tuanya, semula dia hanya mendengar sang ayah yang tiada sampai akhirnya keduanya ikut menutup mata. Ramai para pelayat yang hadir, ibu Hany dan pak Hery semasa hidup sangat baik dan selalu ramah dengan para warga sekitar. Proses pemakaman yang di segerakan, bunga mawar dan daun pandan bertaburan di atas tanah merah.
Tangisan anak cucu mereka masih terdengar sayup-sayup di udara. Terutama Lisa duduk di pinggir jalan seperti orang gila. Dia telah kehilangan segalanya, berkali-kali ingin keluar dari perkampungan ini tetap saja dia kembali ke titik semula. Transo telah menguncinya dengan berbagai ilmu pelet yang sudah terbenam mendarah daging sampai ke tulang sum-sumnya.
“Ayah, ibu maafkan lah anak mu yang durhaka ini” tangis Lisa di dalam rintihan panjangnya.
...----------------...
“Tuan, nyonya Lisa seolah sedang tertahan makhluk halus sehingga dia tidak bisa keluar dari perkampungan itu” ucap Sen.
“Lisa, engkau sungguh malang. Apa yang kini harus aku lakukan?” gumamnya.
Rengekan bayi Jaka, bayi itu tampak tidak tenang meski sudah di buai oleh sang ayah angkat. Sebisa mungkin Wijaya kembali menenangkan. Dia tidak ingin anaknya itu bersedih atau serba kekurangan. Sen tetap berdiri menunggu perintah selanjutnya sambil memperhatikan sang majikan.
“Aku tidak bisa berbuat apapun, jika aku kesana maka Jaka akan kehilangan ku. Begitupun sebaliknya, kini kita harus mempersiapkan rencana yang matang. Kau pergi ke alamat yang tertulis di atas nakas itu. Katakan padanya bahwa aku yang mengutus mu” ucap Wijaya.
“Baik tuan, saya ijin pamit.”
Mengemudikan mobil selama berjam-jam untuk mencari alamat yang di tuju, Sen kebingungan melihat dua cabang jalan di lintas sepi. Tidak ada yang bisa dia tanya, bahkan sampai lima belas menit berlalu tidak ada satu kendaraan pun yang lewat.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Sen.
__ADS_1
Dia memutuskan mengambil sisi jalur kiri, kecepatan mengemudi sedikit kencang sampai dia melihat sebuah pura berdiri dua patung monyet berukuran besar. Sen menghentikan kendaraan, keluar dari mobil sambil melingak-linguk ke arah sekitar. Dari arah belakang, tepukan ringan mendarat di pundaknya.
“Siapa kau? mau apa kau kesini?”
“Maaf pak, saya ingin menuju ke alamat ini.
Apakah bapak tau tempatnya?” tanya Sen menyodorkan selembar kertas.
Si pria itu menaikkan sedikit bibirnya lalu menghela nafas. Dia letakkan kembali kertas itu ke tangan Sen lalu melotot mengeluarkan nada keras.
“Sebaiknya kau segera pergi!”
“Kenapa pak? Saya datang kesini secara baik-baik dan tidak memiliki niat buruk sedikitpun” ucap Sen.
“Kau akan mengambil resiko besar jika meneruskan langkah ini. Baiklah, setelah kau melewati dua patung ini maka kau tidak akan bisa menyesali keputusan mu.”
Cepat sekali pria tua tadi pergi, langkah kaki Sen perlahan memasuki pintu masuk. Dia berhenti melihat barisan pria berbaju hitam dengan keris di pinggang mereka masing-masing berdiri menghadang. Aroma kemenyan sangat menusuk rongga hidung di sela suara keributan dari dalam gubuk-gubuk yang berjejer rapi.
“Cepat pergi atau aku akan mematahkan leher mu!” usir salah salu pria tersebut.
Sen mengangkat kedua tangannya sambil menekuk lutut. Kali ini sempat dia berpikir dirinya akan mati secara mengenaskan atau di bunuh tragis oleh mereka. Sen bergetar memberikan kertas kepada salah satu pria pemarah tadi.
“Saya adalah utusan tuan Wijaya” ucap Sen dengan nada ketakutan.
__ADS_1
Para pria itu langsung membuka jalan, salah satunya yang memakai topi blankon mempersilahkan dia masuk ke dalam sebuah joglo berukuran raksasa. Sen melepaskan alas kaki, perlahan dia duduk berhadapan sampai dia tersadar ada sosok lain yang mengintainya. Sorot mata merah di balik pepohonan, Sen mengucapkan istighfar di dalam hati menunggu si pria tadi memulai pembicaraan.
Seorang pria memberikan sebuah nampan di lapisi daun pisang, di atasnya ada beberapa wadah kecil dan bunga kantil. Dia meletakkan di tengah meja lalu kembali lagi membawa patung monyet kecil dengan kalung hitam berbandul mata hitam. Si pria bertopi blankon mulai berkomat-kamit, kedua tangan membaca mantra menghembus kea rah patung kemudian memandikan cairan merah dan bunga di atasnya.
“Apakah cairan itu adalah darah?” gumam Sen.
Sekujur bulu kuduknya merinding, dia merasakan sesuatu yang sedang menyentuh tangannya. Sen berinisitif bergeser posisi duduk mendekati si pria tua, namun dua pria di belakangnya menahan tubuhnya sangat kuat. Semakin kencang tubuhnya tertahan maka semakin kuat pula sosok halus itu menekan kulit tangannya hingga menimbulkan luka. Darah yang keluar berwarna hitam legam, Sen berteriak kesakitan namun mulutnya di tutup rapat oleh pria berbaju hitam lainnya.
Setiap yang datang harus menanggung resiko, aliran darah dan jantung yang berdetak di incar oleh para penunggu maupun pemuja aliran sesat. Menuju jalan yang kelam, keputusan akhir Wijaya demi melindungi Lisa tidak lain adalah mengorbankan dirinya.
“Kau tenang saja, semua hal yang kau alami atau rasa sakit ini akan kembali oleh orang yang menyuruh mu kesini” bisik salah satu pria berbaju hitam.
Sen hanya mengangguk lalu berusaha untuk tenang. Selesai membaca mantra, Sen di minta menyiramkan darah hitam ke patung monyet tersebut. Gemetar tangannya menuruti perintah si pria itu. Keanehan muncul pada bekas lukanya yang menghilang sesuai perkataan pria tadi.
“Apakah luka ku benar-benar berpindah ke tuan Wijaya?” gumam Sen sedikit tidak percaya.
“Hei anak muda, Bawa bungkusan patung ini dengan hati-hati. Jangan kau buka sampai tuan mu sendiri yang membukanya. Ingat, apapun kejadian yang kau alami, kau jangan membuang patung ini” ucap si pria bertopi blankon bernada tinggi.
“Baik pak, saya akan mengingatnya.”
Meninggalkan area angker dengan rasa masih was-was, Sen melihat sosok manusia kera seperti mengikutinya. Kini sosok mengerikan itu duduk tepat di sampingnya, Sen hanya bisa pasrah lalu menjalankan kendaraannya secepat mungkin.
Di dalam mobil, aroma kemenyan sangat menyengat walau kaca mobil di buka begitu lebar. Suara mengerang dan ramai suara monyet membuat gendang telinganya seperti mau pecah. Hari itu hampir saja Sen mengalami kecelakaan. Sedikit lagi dia laga kambing dengan angkutan mini bus, sosok ghaib berwujud kera seperti menyelamatkan dirinya sehingga bisa melewati maut.
__ADS_1
“Argghh!” jeritnya.
Terdetak di depannya mini bus tadi menghilang tanpa jejak.