
Darah dan daging manusia di inginkan oleh sosok jin pohon raksasa.
“Apakah tuan menyetujui sebagai tumbalnya?” tanya pria tua itu.
“Ya, aku setuju” ucapnya.
“Tuan, tolong pikirkan lagi” ucap pak Sen.
“Jangan ikut campur masalah ku. Cepat mulai ritualnya” kata tuan Admaja.
Persembahan dan sesajian kembali di siapkan. Tuan Admaja di baringkan di atas daun pisang yang besar. Kini posisi mereka berpindah di belakang gubuk. Obor-obor sudah di nyalakan, suara burung gagak berterbangan mengitari tubuh tuan Admaja. Pak Sen menghalangi para burung yang akan mendekati tubuhnya. Pria tua itu adalah dukun sakti yang terkenal di daerah pedalaman. Air yang sudah berisi mantra di siram ke tubuh tuan Admaja. Efek yang sangat cepat membuat tubuhnya kejang-kejang, dia berteriak kesakitan sambil membuka rahang begitu lebar.
“Arghh! Arghh!” teriak tuan Admaja.
Serangga hitam masuk menuju mulutnya, pak Sen yang berusaha mengusir itu di halangi oleh kekuatan ghaib. Tubuhnya terlempar membentuk dahan pohon besar. Saat melihat pak Sen sudah tidak sadarkan diri, pria tua itu memulai ritual kembali. Serangga-serangga hitam sudah masuk ke mulut tuan Admaja.
__ADS_1
Dia bergerak terduduk, gerakan tubuh kaku dengan tatapan kosong. Dia berjalan meninggalkan tempat tersebut hanya mengenakan celana pendek hitam menuju pohon raksasa yang berada di dalam jurang dekat rumah Transo. Secara instan tanpa memikirkan dirinya, tuan Admaja mengorbankan diri untuk menyelamatkan Wijaya. Nyawa Wijaya selamat pada malam itu sedangkan tuan Admaja sudah kerasukan iblis berlagat tidak wajar tanpa berhenti membenturkan kepalan di pohon.
“Ayah!” teriak Wijaya.
Transo menyaksikan dengan gelak tawa di samping pohon sambil melanjutkan ritualnya.
“Hentikan! Ayah sadarlah!” Wijaya mengguncang tubuh pak Admaja.
Dia banting ke tanah, kemudian kembali membenturkan kepalanya. Meskipun darah sudah bercucuran deras dan tulang tengkorak sudah terlihat, dia tetap melanjutkan benturan keras tersebut. Wijaya tidak bisa menghalanginya, dia melepas kepergian pak Admaja dengan air mata dan jeritan sekuat-kuatnya. Pak Admaja menghentikan gerakan ketika batok kepalanya sudah pecah dan isi kepalanya berhamburan.
Dalam sekejab Transo menghilang, yang tertinggal hanya gelak tawa yang menggema. Kepala tuan Admaja yang hancur, badannya yang dingin dan aroma mayat seolah sudah membusuk selama berhari-hari. Wijaya mencari pertolongan dan memanggil aparat kepolisian. Namun ketika mereka kembali, tidak ada sosok mayat yang di maksud oleh Wijaya.
“Pak Wijaya, kami tidak menemukan mayat tuan Admaja disini. Kami akan melakukan penyelidikan atas hilangnya beliau” ucap petugas kepolisian.
“Tapi, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Ayah ku terbunuh oleh iblis!”
__ADS_1
“Tolong tenangkan diri tuan. Kami undur diri.”
Wijaya masih tidak mempercayai bahwa mayat ayahnya sudah tidak berada di jurang. Di sana sampai sore hari, dia tetap mencari tanpa berhenti.
“Mas Wijaya!”
“Lisa?” ucap Wijaya.
Suara Lisa berkali-kali memanggil nama Transo. WIjaya menghentikan langkah, di menaiki tanah ke arah dataran tinggi melihat gadis yang selalu dia cintai itu menangis berlinang air mata. Ada bayi Jaka di dalam buaiannya, terlihat wajah wanita itu begitu tersiksa dan kesakitan.
“Lisa, apa yang terjadi pada mu?” tanya Wijaya.
“Mas Wijaya, kenapa engkau ada disini? Lalu, keadaan mu begitu berantakan” ucap Lisa.
“Aku baru saja kehilangan ayah ku” ucap Wijaya menunduk.
__ADS_1