
Kamar suster Fan bersebelahan dengan kamar otopsi rahasia. Tangan kanan Admaja memeriksa seluruh benda yang ada di kamarnya akan tetapi tidak menemukan benda mencurigakan. Saat dia akan menemui Admaja di kantornya, langkahnya di hentikan oleh kehadiran Wijaya.
“Pak Sen, cepat beritahu aku dimana jasad suster Fan berada!”
Lemparan mata tajam Wijaya beradu pandang dengannya.
“Maafkan saya tuan. Saya hanya menjalankan perintah dari tuan Admaja. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh jasad suster Fan kecuali para dokter bedah pribadi” jawabnya.
“Apakah kini kau sudah berani melawan ku?” tanya Wijaya begitu kesal.
“Tidak tuan, tapi jika tuan terus mendesak maka saya seutuhnya menyerahkan nyawa saya untuk tuan bunuh” ucap pak Sen.
“Kau!”
Wijaya mengurungkan niat untuk memukulnya. Dia teringat dengan keadaan Lisa yang sangat rentan akan gangguan makhluk tidak kasat mata dan kejahatan Transo.
“Bayi ku!” gumamnya sambil berlari.
Tanpa dia sadari, tuan Sen mengikuti sampai ke ruangan Lisa. Dia mengambil foto Wijaya dan Lisa yang sedang menggendong seorang bayi.
...----------------...
__ADS_1
Di kantor tuan Admaja, pak Sen menyerahkan tiga lembar foto kepada tuan Admaja. Mendadak mata pak Admaja berwarna merah, dia mengoyak foto tersebut lalu bergegas pergi mencari Wijaya.
“Anak tidak tahu diri! Aku sudah berkali-kali menasehatinya agar jangan mendekati wanita itu!” ucap tuan Admaja di dalam mobil.
Cuaca dingin di sore hari, angin bertiup sangat kencang sekalipun hujan belum juga tiba. Teriakan di dalam jurang, seorang lelaki terlah kerasukan tertawa menyeringai melahap bangkai ayam mentah dengan riang tawa.
“Akulah penguasa ilmu yang tidak tertandingi! Hahahh” ucapnya kemudian memeluk emas batangan yang sudah dia gali.
Transo setengah gila, bagiamana pun dia sudah kehilangan akal sehat setelah menumbalkan belasan orang dan bayi tidak berdosa.
“Aku kaya!” teriakannya sampai menerbangkan burung-burung yang hinggap di ranting pohon.
Sementara di ruangan Lisa, seorang pria sudah berdiri menarik sudut bibir memasang tangan di lipat. Langkah demi langkah kakinya menuju Lisa menoleh di arah bayi merah di sampingnya.
“Anak siapa ini?” tanya tuan Admaja.
“Tuan, dia adalah darah daging mas Transo” jawab Lisa pelan.
Tampang ekspresi tuan Admaja semakin memasang wajah murka, dia mencabut paksa jarum infus di tangan Lisa lalu melemparkan ke lantai.
“Lantas kenapa jadi anak ku yang harus bertanggung jawab? Apakah kau ingin memperalat anak ku yang polos dan bodoh itu?” kata tuan Admaja.
__ADS_1
Lisa menangis ketakutan, dia memeluk erat bayinya tanpa menjawab separah kata pun. Dia sama sekali tidak berani membantah. Perlahan dia turun dari kasur lalu berdiri membungkuk di depan tuan Admaja.
“Keluar! Pergi!” teriak tuan Admaja.
Pak Sen mendorongnya keluar ruangan. Tangisan Lisa berusaha berjalan menuruni anak tangga, dia tidak ingin di lihat orang-orang dengan keadaan kacau saat menggunakan lift. Seratus anak tangga dia lalui perlahan, pikirannya sangat kacau. Bayinya juga ikut menangis seolah merasakan apa yang ibunya rasa.
“Putra ku sayang, jangan menangis. Kita akan pulang mencari ayah” bisik Lisa.
Wanita yang malang, nasib buruk belum bisa lepas darinya. Sosok penunggu pohon raksasa kini melayang di sudut dinding mendekatinya.
“Arghhh!”
...----------------...
“Suster Haki, kemana perginya ibu Lisa?” tanya Wijaya.
“Saya tidak tau tuan, tapi beberapa jam yang lalu tuan Admaja menemui beliau.”
Wijaya pergi mencari di seluruh ruangan, sampai pada akhirnya dia bisa menemukan Lisa sedang pingsan di dekat anak tangga darurat.
“Lisa!”
__ADS_1