Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Menepis mantra


__ADS_3

“Sudah jam berapa ini, kenapa nyonya Parsih dan Rume belum juga kembali?” ucap bi Iyem mondar mandir di depan pintu.


Semua para pekerja duduk berjejer menunggu di sela ketakutan mereka di dalam rumah yang angker itu. Angin berhembus semakin dingin, rintik hujan deras di sertai angin kencang. Pak Tomi berjalan menuju pos berjaga kembali di temani oleh pak Mamat. Begitu pula bi Iyem dan Tina kembali ke kamar mereka masing-masing.


Siapa menyangka malam ini sosok mayat hidup masih memiliki secuil hati nurani untuk menyelamatkan ibunya. Dia mengorbankan diri di balik hati kecil yang jiwanya di duduki setan menahan tusuk Transo serta para pengikutnya.


“Transo! kau adalah iblis! Terkutuk lah kau!” pekik Parsih.


Sebelum ajalnya tiba, dia mendorong Rume untuk pergi, suara amukan mayat hidup itu menggema di udara bersama tangisannya. Tangkapan mantra Transo terlepas, perlawanan sosok Rume itu sangat kuat bercampur amarah akibat kematian ibunya.


Rume terbang pulang ke rumah, suara ketukan pintu membangunkan bi Iyem. Karena hujan deras berkepanjangan mengakibatkan pemadaman listrik. Saat membuka pintu, petir menggelegar memperlihat kan wajah Rume yang menyeramkan.


Tatapannya kosong berjalan masuk berbunyi langkah retakan tulang. Bekas kakinya berlumpur terdapat darah yang menempel pada gaun putih yang di seretnya. Seluruh wajah penuh darah, bi Iyem ketakutan memperhatikan dengan membungkukkan tubuh.


“Non dari mana? Kenapa tidak pulang dengan nyonya besar?” tanya bi Iyem.


Rume terus berjalan menaiki anak tangga, tangisan darah berlinangan kembali menetes hingga terdengar suara bantingan pintu sangat keras. Bi Iyem hendak menutup namun terlihat Parsih berdiri dengan keadaan yang lebih mengerikan sedang menatapnya.


“Apa yang telah terjadi pada nyonya?” tanya bi Iyem Gelagapan.


“Saya ada urusan mendadak. Bi, tolong jaga Rume untuk saya apapun yang terjadi, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkannya sendiri” ucap Parsih.


“Baik nyonya, tunggu sebentar biar saya panggil non Rume di kamarnya.”

__ADS_1


“Tidak usah mbok, saya sangat buru-buru untuk pergi. Di dalam kamar saya ada sebuah lukisan, di baliknya terdapat sebuah kotak yang harus bibi jaga” ucap Parsih.


Saat bi Iyem membalikkan tubuhnya mendengar keributan di dapur, Parsih menghilang meninggalkan bekas yang sama seperti Rume. Iyem segera mengunci pintu kemudian berlari mengikuti petunjuk yang di katakan Parsih.


Pintu kamar itu tidak biasanya terbuka sendiri, bi Iyem masuk sambil membawa lilin di tangannya. Dia mencari lukisan yang di maksud oleh Parsih, ada banyak sekali lukisan yang tergantung memperlihatkan gambar-gambar wujud aneh seolah lukisan itu nyata. Satu-persatu dia menurunkan lukisan, pada lukisan ke tujuh terlihat di balik dinding ada sebuah tempat penyimpanan dengan putaran huruf sandi.


“Bagaimana aku bisa membuka ini? nyonya tidak memberitahu ku tadi” gumam bi Iyem.


Dia mengotak-atik huruf, memutar nama Rume, Parsih atau pun almarhum pak Ben. Tapi tetap saja tidak bisa terbuka hingga dia menyerah lalu meraih lukisan untuk di pasang kembali. Namun tiba-tiba saja putaran sandi bergerak terputar sendiri. Iyem memperhatikan dengan rasa takut, di mulai dengan huruf b-a-n-g-k-i-t-n-y-a-R-u-m-e.


Iyem mengeja kata sandi yang terputar, kotak di dalamnya terbuka memperlihatkan sebuah kertas usang yang di ikat dengan rambut di dalamnya. Gemetar tangannya meraih benda itu lalu membuka ikatan. Rambut terasa kaku sedikit berlendir, Iyem membaca isi di dalam kertas di terangi cahaya lilin yang dia pegang dengan sesekali menatap ke sekitar.


Mantra menduduki jiwa membangkitkan si jabang bayi Rume. Setiap ritual pasti ada persyaratan yang harus di sediakan. Pada malam jumat kliwon, agar mayat hidup itu tidak mengacau maka sediakan sesajian di sebuah kamar khusus. Tiga ekor ayam dan bunga lengkap, seluruh tempat di tutupi rapat tirai hitam.


“Bi Iyem!” panggilan suara Parsih.


Sosok Parsih kini berdiri tepat di belakang, dia menyentuh pundaknya mengeluarkan kuku tajam hingga kulitnya terluka. Iyem menjerit ketakutan berlari menaiki anak tangga, tanpa sadar dia masuk kembali ke dalam kamar Parsih. Di dalam sana, sosok Parsih kembali menampakkan wujud terbang mengulurkan tangan.


“Iyem, apakah kau sudah melupakan janji mu?”


“Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa melakukan hal itu. Hanya Allah sebaik-baiknya tempat berlindung dan berserah diri” ucap Iyem kemudian membacakan surah An-nas.


Parsih menjerit kepanasan, akan tetapi dia tetap menyerang Iyem dengan berbagai cara. Di balik lemari tampak Tina memperhatikan kejadian itu. Menyadari keadaan Tina, sosok Parsih masuk ke dalam tubuh Tina saat dia akan hangus terbakar oleh ayat yang di bacakan Iyem. Tina sudah di rasuki arwah Parsih, dia berdiri mengangkat tubuh Iyem hingga tertusuk masuk ke dalam ujung patung.

__ADS_1


Clap, clap (Suara tusukan bercucuran darah dari tubuhnya)


Jiwa-jiwa tidak tenang yang memaksa untuk tetap bersama, sekarang di satukan kembali meski harus menempati tubuh berbeda. Parsih di dalam tubuh Tina memeluk Rume dengan senyuman. Untuk menutupi jejak kematian Iyem, tubuhnya di kubur di area belakang rumah. Di tengah hujan deras membuat suara galian cangkul tidak terdengar oleh Mamat dan Tomi.


“Hei bangun pak Mat! Aku baru saja melihat bi Iyem berlari kesana” tunjuk Tomi ke arah belakang rumah.


“Ah mungkin itu hanya perasaan mu saja pak. Mana mungkin bi Iyem di tengah malam begini melakukan hal aneh. Dia adalah orang yang baik” jawab Mamat kembali meneruskan tidurnya.


Tomi yang masih penasaran berjalan kea rah belakang halaman rumah, dia menyorot senter melihat tidak ada hal ganjil disana. Saat dia akan berbalik, terdengar suara nyanyian yang sering di nyanyikan Rume. Nada lagu mengerikan bersuara meringis memekik telinga.


“Bintang kecil, di langit yang biru. Amat banyak menghias angkasa. Aku ingin, terbang dan menari jauh tinggi ke tempat kau berada.”


“Aargghh hantu!” jerit Tomi berlari kocar-kacir.


“Pak Mamat! Bangun!”


Mamat tidak memperdulikan panggilan Tomi, dia pun bersembunyi di bawah kolong meja sambil menutup wajahnya. Menjelang pagi, suara sandal teklek terdengar kuat di atas jalan setapak batako. Tina menepuk pundak Mamat dengan pandangan tajam, dia menyodorkan sebuah kertas berisi tulisan belanjaan dan beberapa lembar uang ke tangannya.


“Bangun pak, nyonya menyuruh anda untuk berbelanja” ucap Tina lalu meninggalkannya.


Melihat Tina sudah pergi, Tomi memperhatikan sikap wanita itu berbeda dari biasanya. Mamat masih setengah sadar dari kantuk mengusap wajah membaca isi belanjaan dan menghitung uang tersebut. Dia tidak curiga sedikitpun karena Tina mengatakan bahwa Parsih yang menyuruhnya.


“Pak Mamat, apakah kau tidak merasa ada yang aneh? Seharusnya bi Iyem atau Tina yang berbelanja” ucap Tomi.

__ADS_1


“Pak Tomi jangan berpikir yang tidak-tidak. Tunggu disini sampai aku kembali mengantarkan belanjaan.”


__ADS_2