
Senja tidak bersinar, cahaya telah gelap gulita. Netra menangkap kilatan cahaya merah di dalam pusara perut yang sedikit membesar. Dia terjaga semalaman dari tidurnya, ada sesuatu yang bergerak di dalam dan terasa begitu panas.
“Apakah aku hamil? Baru terhitung minggu lalu tragedi itu” gumam Lisa.
Dia meraih telepon genggam dan mencari kontak nama keluarga. Tapi semua nomor telepon terhapus bersih bersama bekas panggilan dan riwayatnya. Saat masih melihat layar, suster Kela datang dan menyodorkan segelas air.
“Ini minuman anda bu, jangan lupa minum obatnya” ucap suster Kela nyengir lalu pergi berlalu.
Setelah semua perlakuannya yang keji, seharusnya wanita itu sudah dia usir. Geram dan kacau pikiran Lisa, dia memegang gelas dan menyiramkan air ke wajahnya. Sontak jeritan suster Kela mengerang dengan kekesalan.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyiram ku?” tanya si suster.
“Pergi kau sekarang dari rumah ku!” bentak Lisa.
__ADS_1
“Akan aku adukan kau pada mas Transo ketika dia pulang nanti!” jeritnya begitu kesal.
“Pergi kau!” Teriak Lisa mendorong nya keluar.
Lisa mencampakkan semua barang-barang suster Kela di luar dan membanting pintu. “Pergi!” teriak Lisa sekali lagi.
Dia menangis di balik pintu, apapun yang dia lakukan sekarang adalah hal terbaik untuk menghindari hal lain yang akan membahayakan nyawanya. Sebelumnya dia melihat suster Kela memasukkan serbuk larutan di minumannya. Lisa yang tidak pernah berkata kasar kepada orang lain kini telah berubah untuk melindungi dirinya sendiri.
“Aku kuat demi Jaka” gumamnya.
Di depan rumah, suster Kela di sambut oleh tuan Sen. Dia menodongkan pistol di kepala wanita itu lalu menggiringnya masuk ke dalam mobil.
“Cepat kemasi semua barang mu dan masuk!” bentak Sen.
__ADS_1
Semula wanita licik itu ingin membalas dendam atas perlakukan Lisa dan menunggu kepulangan Transo. Tapi setelah tertangkap basah oleh tangan kanan Wijaya, dia sama sekali tidak bisa berkutik.
“Suster Kela, saya turut kecewa dengan kinerja dan kualitas anda sebagai suster yang di andalkan dokter Wijaya” ucap Sen.
“Tuan Sen, jika kau mengatakan hal yang membuatku di pecat maka aku tidak akan memaafkan mu!” bentak suster Kela.
Wanita itu tampak seperti sudah kesetanan, sesekali dia tertawa terbahak-bahak dan menangis tersedu-sedu. Penampilannya tidak menunjukkan keprofesian dan sikap yang tidak teratur kini menatapnya. Suara retakan tulang dan tubuh kaku, pupil mata seutuhnya memutih mendekati posisi duduk dan mendengus mencium aroma tubuh Sen.
“Suster Kela, apa yang kau lakukan!” bentaknya menghentakkan tubuh.
Gerakan cepat mencekik Sen, dia memuntahkan darah, hampir saja darah muntahan hampir masuk di mulut Sen yang sedang menyetir. Cekikan yang kuat, wajah merah padam dan tidak kuat menahan kuatnya serangan suster tersebut. Sen menghentikan kendaraan di tepi jalan lalu menampar wajahnya hingga terbentur kaca mobil.
Kepalanya pecah mengeluarkan darah hitam, suster yang kerasukan itu menggigit pergelangan tangan Sen hingga kulitnya terkoyak. Dia mengunyah secuil daging Sen, mata memangsa dan nafsu membunuh. Sen keluar dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya.
__ADS_1
“Tolong!” teriak Sen ketakutan.