Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Penghujung tanpa batas


__ADS_3

Sepuluh hari sebelum menuju rumah Lisa dan Transo.


Pak Hery dan bu Hani menuju salah satu orang pintar di desanya untuk mempertanyakan segala penyebab yang menimpa anak cucu mereka. ALur ini di mulai dari sosok lelaki yang ciri-cirinya di katakan oleh mbah Mijan. Dia menabur kemenyan di atas bunga sesajian tanpa henti mengucap mantra. Meskipun pak Hery dan bu Hani terbilang taat dalam beribadah, akan tetapi mereka masih mempercayai hal-hal mistis sehingga itu memberatkan segala amal ibadah dan menjadi sesuatu yang menduakan yang Maha Kuasa. Bukan kah seyogianya di dunia ini kita harus berpasrah dan mengingat sang illahi? Menuju ke sesama manusia untuk meminta bantuan sama hal dengan mendustakan-Nya.


Lika-Liku hidup ini masih membingungkan, setelah tadi malam mimi bu Hani melihat Lisa menangis di bawa pohon raksasa membuat dia terpaksa memberanikan diri menuju rumah mbah Mijan.


“Bagaimana mbah?” tanya bu Hani.


“Anak mu sudah terkena sihir dari lelaki yang pernah menawarkan segelas air untuknya” ucap mbah Mijan.


Dia memberikan sebuah bungkusan hitam kepada mereka. Garam sebagai penangkal rumah dan sebuah kalung yang harus di lingkarkan sebagai jimat untuk anak bayi Lisa.


“Semua ini hanya berlaku empat puluh hari saja, selebihnya aku akan mencoba menjaga mereka dari sini” ucap mbah Mijan.


“Apa yang sudah di lakukan mantu ku terhadap anak kami Lisa?” tanya bu Hani.

__ADS_1


Mbah Mijan menggelengkan kepala lalu melipat kedua tangan di depan dada.


“Dia memiliki sosok penjaga badan sehingga tidak bisa melepaskan Lisa begitu saja.”


Mendengar ucapannya, bu Hani meneteskan air mata.


...----------------...


“Lisa, apakah engkau tidak menyesal dengan pilihan mu?” tanya bu Hani sambil duduk di tepi kasur.


Dia sibuk melipat kain milik bayi Jaka. Sementara Lisa memberikan susu untuk bayi Jaka, botol dot bayi yang berisi susu hangat. Wanita itu seolah sangat matang dengan pilihannya.


Lisa tidur bersama bu Hani dan bayi Jaka. Semalam suntuk pak Hery berjaga di ruang tamu tanpa memejamkan mata, banyak sekali gangguan yang dia alami. Berbagai suara aneh dan kursi yang bergerak sendiri mengganggunya. Lampu ruangan di matikan, pak Hery melihat Transo berjalan mengendap-endap di balik kegelapan kemudian membuka pintu depan membawa sebatang lilin besar.


“Transo, maju kemana kau malam-malam begini?” tanya pak Hery kembali dengan nada keras.

__ADS_1


Transo memutar badan menutup pintu kembali.


“Aku hanya memastikan tidak ada orang di depan rumah” ucap Transo ketus.


“Transo, seperti itu cara mu memperlakukan mertua mu sendiri?” pak Hery meninggikan suara.


“Lihatlah apakah kau sudah pantas menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi Jaka?” ucap pak Hery lagi.


Dia sudah tidak kuat mengontrol emosi. Bu Hani mendengar suara gaduh langsung terbangun dan berjalan mendatangi sumber suara itu.


“Ada apa pak?” tanya bu Hani.


“Uhuk, uhuk! Mantu durhaka! Uhuk!” pak Heri terbatuk-batuk.


Kakinya tidak bisa berdiri tegak, dia segera mencari pegangan untuk menyenderkan tubuh.

__ADS_1


“Bapak, sudahlah kalau begini penyakit bapak bisa kambuh lagi” ucap bu Hani.


Keributan itu sama sekali tidak terdengar oleh Lisa, rasa lelah dan letih seharian berperang melawan hati sendiri dan tubuh yang selalu mendapat hantaman serangan ghaib. Bu Hani kembali menuju kamar mendekatkan bayi Jaka di sampingnya.


__ADS_2