
“Sialan! Para warga kampung itu harus aku balas!” ucap Transo penuh amarah.
Kini dia sedang menunggu Kasim, pria itu mondar-mandir di depan pohon dengan raut wajah marah. Karena sudah terlalu lama menunggu, dia memutuskan untuk pergi sendiri ke pasar dengan merubah sedikit penampilannya. Wajah di usap dengan arang dan kepalanya di tutupi kain berwarna hitam. Sesampainya di pasar, tujuan pertamanya adalah membeli seekor kambing jantan untuk memperkuat bahan ritual. Dia menukarnya dengan emas batangan, senyuman lebar si penjual memberikan beberapa ekor kambing jantan lagi untuknya.
“Terimakasih banyak tuan. Tapi saya tidak mempunyai uang kembalian sebanyak itu” ucap si penjual.
“Setiap hari kamis, kau letakkan saja seekor kambing jantan di ujung jalan itu. Seorang pekerja ku akan pasti akan mengambilnya” ucap Transo.
“Baik Tuan.”
Melihat Transo telah pergi, salah satu pria memukul tubuh si penjual sangat keras. Dia melotot, menarik kerah bajunya lalu berbisik kepadanya. Sebuah hal yang sangat menakutkan seolah kedatangan si pria tadi akan menjadi sumber musibah di tempat itu.
“Kau tau siapa pria tadi? Dia adalah si dukun ilmu hitam penyembah jin pohon raksasa di kampung ini! sebaiknya engkau segera hengkang atau hidup mu akan menderita di buatnya” ucap si pria itu lalu berlari meninggalkannya.
Tanpa pikir panjang atau mendengar perkataan pria tadi, si penjual merasa rugi jika harus membuang emas batangan yang sudah dia terima. Kambing-kambingnya sudah di beli, dia akan mengalami kerugian besar jika harus membuang emas tersebut.
“Dia tidak terlihat seperti dukun yang di katakana pria tadi. Ah sudahlah! Yang penting aku untung besar mendapatkan emas ini” gumam si penjual.
...----------------...
“Transo!” gema suara itu semakin kuat di telinganya.
“Hei siapa kau?” teriak Transo.
Kepala kambing jantan yang sudah siap dia tebas kini di ikat kembali pada salah satu pohon di jurang. Sosok Rume terbang mencekiknya, dia mengingat kelakuan bejat si dukun gila itu kepada dirinya. Kukunya berhasil menembus kulit Transo, dia menggigit lehernya lalu mengunyah kulit dengan suara decapan cepat. Transo menarik keris dari balik tubuhnya, dia menusuk punggung Rume hingga hampir mengenai paku yang tertancap di punggungnya. Seketika Rume menghilang, kukunya meninggalkan dua sayatan pada pipi si dukun.
__ADS_1
“Wanita sialan! Kenapa dia bisa bangkit kembali? Aku harus mencari tau penyebabnya!” gumam Transo.
Meja ritual, mantra dan segala persembahan di sajikan untuk jin iblis penunggu pohon raksasa. Wadah beberapa batok kelapa di isi darah di tengah-tengah terdapat kendi berisi air bunga mantra. Dia menyebutkan nama Rume lalu memejamkan mata. Tubuh wanita itu sudah di korban kan, ternyata dia berhasil di lepaskan oleh si dukun Aes yang kekuatannya tidak kalah hebat dengannya.
“Aes kau sudah berani mencuri korban ku! Terimalah akibatnya!” pekik Transo mengirimkan sihir teluh.
Pria itu sudah menerima segala konsekuensi jika harus di serang oleh si dukun ilmu hitam yang kehebatannya sudah terdengar di masyarakat luas. Dukun Aes melakukan penyerangan kembali hingga tubuhnya tidak terkendali. Kekuatannya hampir habis setelah berhasil menghidupkan mayat dari dalam kubur dan melepaskan ikatan korban tumbal dari iblis pohon penunggu.
“Hiya!” jerit Transo meremas boneka jerami.
Pertahanan dukun Aes hampir goyah, sisa energinya terkuras habis. Dia memerintahkan para pengikutnya untuk berkumpul mengucapkan mantra membentuk lingkaran. Dukun Aes kini menyerap seluruh energi para pengikutnya, dia sekuat tenaga agar jangan sampai kalah.
“Aku harus bertahan atau akan mati di tangannya!” gumam dukun Aes.
Petir menyambar, hujan badai di iringi angin kencang menerbangkan atap rumah warga. Perang ilmu hitam pada hari itu mengakibatkan banyak kekacauan. Percikan sinar yang mengenai para warga menimbulkan kesurupan masal kembali.
“Uhuk! Arghh!” suara dukun Aes kesakitan hingga mengeluarkan darah.
Dia memotong ujung jari telunjuknya sendiri kemudian meneteskannya di atas dupa sambil menabur kemenyan.
...Madhep jin setan njaga raga jiwa. Slamming ilmu teluh lan ilmu sihir. Bali menyang asal kanggo mlebu ing awak panyebar. Madhep pangabekti....
Kedua dukun itu saling mengeluarkan muntahan darah hitam. Dukun Aes bangkit menekan dadanya lalu mengeluarkan kerisnya. Salah satu dari pengikutnya menghalanginya untuk kembali meneruskan mantra. Sementara para pengikutnya yang lain sudah lemas tidak berdaya, hingga salah satu dari mereka telah meregang nyawa.
“Cukup tuan ku, jika engkau meneruskannya maka engkau akan terbunuh” ucap pengikutnya.
__ADS_1
“Semua harus di tuntaskan, hidup atau mati harus di selesaikan sampai akhir. Hal ini akan terus berlanjut karena kita sudah menyelamatkan mayat yang di rantai di dalam pohon raksasa itu” ucap dukun Aes.
Di surau tampak sangat ramai dengan suara amukan para warga yang kesurupan. Ustadz Ali berusaha kembali menyadarkan mereka satu persatu. Hujan masih mengguyur wilayah perkampungan yang kini kental di selimuti ilmu ghaib. Setelah pengobatan warga ke empat puluh, ustadz Ali jatuh pingsan dengan wajah yang sangat pucat.
“Ustadz!”
...----------------...
Suara ketukan pintu dan bel berbunyi, seorang wanita membawa sebuah tas di tangan kanannya sedang menunggu pemilik rumah untuk membuka pintu. Dia adalah pekerja baru di rumah Parsih, tidak lama kemudian Rume mempersilahkan dia masuk dengan sorot mata tajam. Wanita itu sangat sungkan untuk duduk di sofa, dia memilih untuk duduk di lantai sambil menunggu bu Parsih datang. Pandangan mata membelalak melihat sebuah cermin besar yang berada di dekat jendela. Dari dalam cermin terlihat seperti ada wanita yang berdiri menatapnya.
“Astagfirullah, astagfirullah al’adzim” ucapnya berkali-kali sambil memejamkan mata.
“Eh, mbak Tina? Saya pikir mbak tidak datang karena cuaca di luar sangat buruk. Lihatlah, mbak sampai basah kuyup seperti itu” ucap Parsih yang sudah berdiri di depannya.
“Saya membutuhkan pekerjaan ini bu” jawab Tina menunduk.
“Oh iya bagaimana bisa anak ku masuk ke dalam rumah? Saya baru saja pulang belanja bersama anak saya, para pekerja lainnya hari ini sedang libur” tanyanya sedikit kebingungan.
“Tadi ada anak perempuan yang membuka pintu bu. Anak itu__” ucap Tina memutuskan perkataan.
“Apakah Rume yang mbak maksud? Akan tetapi dia baru saja tiba bersama saya” kata Parsih.
“Sudah lah, kalau begitu mbak sudah bisa mulai bekerja ya, di ujung sana ada kamar kosong. Mbak bisa menempatinya, cepat keringkan badan mbak nanti bisa masuk angin” sambung Parsih dengan senyuman.
Semula ketika melihat wanita itu sudah berada di dalam rumahnya, Parsih ingin menuduhnya sebagai maling. Akan tetapi melihat penampilan dan sikap wanita itu membuatnya mengurungkan niat itu dan menyelidik dengan lontaran pertanyaan.
__ADS_1
Mendengar jawaban dan raut ketakutan Tina saat melihat Rume membuat Parsih menjadi khawatir. Dia menyadari keanehan anaknya, namun Parsih selalu menepis kejanggalan di benaknya karena tidak ingin kehilangan anaknya kedua kalinya.