
Ferdi mengamati keanehan pada daerah yang sedang dia datangi. Akan tingkah laku para warga yang sesekali terlihat sedang berjalan melewatinya dengan memasang wajah aneh dan mencurigakan. Saci menenggelamkan wajahnya di pundak Ferdi. Seorang nenek-nenek memakai sarung membungkuk mendekati dengan rambut berantakan.
“Cu..” ucapnya seolah meletakkan wajah tepat di depan Ferdi.
Ferdi berjalan mundur tiga langkah, dia memeluk anaknya dengan erat.
‘”Nenek, apa yang sedang kau lakukan?” katanya.
Nenek tua itu mengangguk tersenyum, dia melipat tangannya ke arah belakang. Mengamati Saci begitu senang sampai mimik wajahnya menggambarkan ekspresi bahagia.
“Anakmu ini memiliki keberuntungan sehingga bukan dia yang hilang waktu itu. Hihihhh tapi jangan sangka terlebih dahulu karena bisa jadi terlalu banyak memiliki anugrah itu membuat orang di sekelilingnya menjadi mengorbankan diri.”
Setelah mendengar perkataannya, nenek itu bagai menghilang di bawa oleh kabut putih. Ferdi enggan beradu otot atau menanyakan apa maksud dari perkataannya. Dia memilih masuk ke dalam rumah dengan nafas yang terengah-engah.
“Ayah, ayo kita pulang” ucap Saci.
Ferdi mengangguk setuju, dia pun meminta Rara untuk bersiap-siap. Mereka bertiga duduk di ruang tamu.
__ADS_1
“Kalian mau pergi kemana?” tanya Yuno.
“Mas, maaf kami harus pulang. Saci harus hidup dengan tenang mas. Kami juga harus melanjutkan hidup dan pekerjaan yang tertinggal” kata Ferdi.
Di depan pintu kamar, Lisa hanya terdiam melihat kedua saudaranya itu. Mas Yuno dan Ferdi telah memberikan segala perhatian dan kasih sayang untuknya.
“Hati-hati di jalan mas, mbak dan keponakan ibu yang paling cantik” kata Lisa saling merangkul mereka.
“Wijaya, aku titipkan Lisa untuk selalu engkau jaga” kata Ferdi.
“Terimakasih.”
Ketika mobil mereka melewati perbatasan perkampungan, Ferdi melihat nenek yang tadi di temuinya melambaikan tangan sambil membungkuk. Saci ikut membalas lambaian tangannya.
“Saci hentikan, jangan melambaikan tangan ke arah orang asing” ucap rara.
Belum sempat Ferdi menimang keponakannya setelah semua peristiwa datang silih berganti.
__ADS_1
...----------------...
Sore hari di ruang tamu, tampak Wijaya, Lisa, Yuno berkumpul menikmati teh hangat sambil memperhatikan tingkah pola bayi Jaka di dalam ranjang bayi. Tidak ada waktu sedetikpun bagi Lisa untuk melepaskan bayi Jaka sendirian. Dia selalu membawanya kemanapun, apabila dia sedang melakukan aktivitas mendesak maka Lisa menitipkan pada sang suster.
Plak, plak. (Suara langkah aneh berdiri di tengah-tengah mereka. Matanya merah, wajah pucat melempar pandangan tajam. Ada banyak kebencian di mata Transo, dia menarik tangan Lisa dengan kasar memposisikan tubuhnya tepat di depan. Yuno mengepal tangan kanan, melayangkan pukulan pipi kanan Transo.
Brugh. Transo terjatuh di atas ubin. Pukulan selanjutnya tepat di pipi kanan, Wijaya memegangi tubuh Yuno sementara Lisa membantu memisahkan. Keributan itu di saksikan oleh Denta membuatnya menangis. Susulan sambungan tangis bayi Jaka, dua orang suster kebingungan harus menenangkan yang mana. Saat suster akan mengangkat bayi Jaka, Transo bergerak mengambilnya lalu mengangkat ke arah langit-langit rumah dengan kedua tangannya.
“Hahah..” tawa Transo.
“Laki-laki gila! Lepaskan! Itu anak kamu!” ucap Yuno.
“Tidak mungkin Lisa selamat melahirkan, pasti tuanku sudah mengambil anak ku” gumam Transo.
Wijaya merampas bayi Jaka hingga pelipis banyak mengeluarkan darah karena terbentur di sudut meja.
“Arghhh!”
__ADS_1