
Surat tuntutan kepada pihak rumah sakit di layangkan, para reporter dan petugas wawancara sudah mengantri di depan lobi dan dan pintu masuk. Mereka berdesak-desakan untuk mencari tau kabar mengenai kelalaian para petugas medis yang mengakibatkan operasi besar pada pasien yang tidak mengalami penyakit dalam. Wijaya membenturkan tangannya ke tembok, dia sangat panik mengetahui kecerobohan dari para staf dan pekerjanya.
“Dok, tolong maafkan saja dok. Saya tidak tau siapa yang menukar berkas untuk pasien yang seharusnya menjalani operasi” ucap suster Haki berlutut.
Air matanya berlinangan, dia sudah pasrah jika hari ini kan di pecat dan di penjarakan oleh pasien yang menuntutnya. Mata Wijaya memerah, dia tidak percaya bahwa suster kepercayaannya akan melakukan hal yang fatal. Wijaya meninggalkannya begitu saja di ruangannya, dia meminta para petugas keamanan untuk membatalkan semua pertemuan pers dan wartawan yang hadir.
“Dok, dokter harus memecat suster Haki untuk menjaga nama baik rumah sakit kita” ucap suster Kela.
“Dok, saya sudah memperingatkan suster Haki sebelumnya agar tidak keliru dalam penanganan operasi. Tapi sepertinya suster itu tidak mau mendengarkan” kata suster Dini.
“Aku tau mana yang terbaik untuk rumah sakit ini” kata Wijaya.
...----------------...
Ada lagi kah yang masih utuh? Cinta sudah tidak melekat di hati mereka. Rasa sakit, siksaan dan hari yang buruk. Transo hadir tepat di hadapannya dengan memasang wajah kepura-puraan untuk mengelabui Fredi. Dia memeluk Lisa dengan erat lalu membisikkan sesuatu yang teramat menyakitkan.
__ADS_1
“Lisa, jangan harap kau bisa pergi dari ku atau aku akan membunuh mereka semua.
Sekarang bersikap manis lah di depan abang mu, suruh dia pergi” bisik Transo.
Fredi melirik dari balik pintu, Lisa yang mengetahui Fredi yang sedang memperhatikan mereka membuat dia langsung menekan perasaannya untuk membalas pelukan Transo. Hal itu membuat Fredi meninggalkan mereka menuju ke luar.
“Sepertinya aku harus meninggalkan Lisa, mudah-mudahan pria gila itu tidak berubah. Tapi aku harus tetap waspada” gumam Fredi.
“Mas harus segera pulang. Aku sudah baik-baik saja dan mas Transo sudah pulang ke rumah” ucap Lisa.
“Dasar kau pria jahanam” umpat Fredi.
“Sebenarnya mas mau ke rumah sakit. Mas Yuno, mbak rara, Denta dan Dika mengalami kecelakaan lalu lintas. Mas harus segera melihat keadaan mereka” kata Fredi.
“Apa mas? Mereka kecelakaan? Aku ikut melihatnya” Lisa panik melempar pandangan ke arah Transo berharap pria kejam itu memberikan ijin dia untuk pergi.
__ADS_1
“Tidak boleh, kondisi mu sangat lemah. Suster pribadi akan datang kesini untuk merawat mu” ucap Fredi.
Dia tidak mengatakan bahwa itu adalah seorang perawat yang di utus dari rumah sakit Wijaya. Tapi tampaknya sampai sekarang, perawat itu tidka kunjung datang. Dia mengingat pesan Wijaya untuk menunggu utusan perawat itu sampai datang ke rumah Lisa.
“Aku harus bagaimana? Wijaya sudah memberi pesan agar meminta ku menunggunya sementara Transo sudah mendesak ku untuk pergi” gumam Fredi.
Pesan singkat
Fredi: Wijaya, kenapa perawat belum tiba?
Wijaya: Maaf mas, aku sedang mengurus urusan mendadak disini. Perawat pribadi yang ku maksud sedang tidak ada di tempat, jadi aku menggantikan dengan suster Kela kesana.
Fredi: Aku akan meninggalkan Lisa sekarang, aku harap dia segera datang.
...----------------...
__ADS_1
Fredi berpamitan kepada Lisa dan memberi nasehat agar adiknya menjaga diri dengan baik selama dia tidak ada. Sangat berat dia melangkah setelah melepaskan tangannya.