
Tanah ini tandus, warnanya mencolok berwarna darah tanpa tanaman yang enggan menerima takdir kehidupan. Kesetiaan masih terbaca di segala letak perjuangan menemukan waktu untuk bertemu. Sekalipun tubuh dan kaki sudah tidak sanggup menopang hujan api di bumi dunia ghaib. Api tergantikan oleh kobaran cinta mempertahankan rasa yang tidak pernah padam.
Kejang tubuh badan Lisa merasakan benda asing masuk ke dalam perutnya. Air ketubannya telah lama pecah, pendarahan dan lemas pada tubuh kini berganti terasa sehat dan segar bugar kembali. Wijaya datang berlari membawa gunting, ember dua kain panjang yang dia temukan di dalam lemari.
“Lisa! Lisa!” teriak Wijaya melihat meta wanita itu berubah memutih.
Tubuh dari dalamnya seolah sedang berkelahi dengan dirinya sendiri. Lisa berhenti menangis, terdiam menyeringai menatapnya.
“Lisa! Cepat dorong bayi mu!” teriak wijaya sekali lagi.
“Lisa, engkau ingat yang sudah pernah si mbah ajarkan pada mu?” gumam suara asing berbisik di telinga Lisa yang sudah tidak terkendali.
Tiba-tiba asap putih keluar dari tubuhnya. Hal itu membuat Lisa tersadar melihat Wijaya sudah menggunting jalan tempat dia buang air kecil untuk mengeluarkan bayinya.
__ADS_1
“Arghh!” jerit Lisa.
Proses kelahiran anak pertama di iringi dengan makhluk ghaib, hujan deras dan petir menggelegar, Wijaya membersihkan bayi itu dengan air yang sudah dia sediakan, dia juga membungkus tubuh sang bayi menggunakan kain panjang lalu mengecup dahinya. Tangisan seorang anak bayi laki-laki berhasil mengeluarkan rintik hujan di sudut matanya.
“Andai dia adalah anak kandung ku” gumam WIjaya meletakkan bayi tersebut di sebelah Lisa.
Dengan cekatan Wijaya mengurus dan merawat Lisa. Air yang penuh darah itu dia buang ke dalam selokan, mengakibatkan suara tawa melengking kuntilanak dan burung-burung gagak berterbangan. Sementara itu, ari-ari sang bayi yang masih bergerak dia letakkan ke dalam kendi yang dia temukan di dalam dapur.
“Aku harus segera mengubur ari-ari ini” gumam Wijaya.
“Lisa, engkau urus terlebih dahulu anak mu. Aku akan meninggalkan mu sebentar untuk mengubur ari-ari ini” ucap Wijaya.
Dia mencari di setiap sudut ruangan untuk mencari lilin, pematik dan sekop. Setelah menemukan semua benda yang dia cari, Wijaya menggali lubang kecil di belakang rumah untuk mengubur ari-ari sang bayi.
__ADS_1
“Hihihi” suara tawa sangat keras dari sosok kuntilanak di belakangnya.
Air liur berwarna darah sudah mengalir deras, dia sudah tidak sabar menikmati ari-ari yang berada di dalam kendi itu.
“Pergi!” ucap Wijaya.
Tubuhnya terbanting dan terlempar ke atas tanah. Namun, Wijaya tetap memegang erat benda yang di tangannya. Kakinya menyeret ke tanah melangkah menuju galian lubang.
“Aku tidak akan kalah!” gumamnya kemudian memasukkan kendi ke dalam tanah.
Ari-ari itu berhasil di tanam ke dalam tanah. Cahaya lilin sebagai penerangan sebagai penerangan. Wijaya berlari ke dalam rumah, dia mengunci pintu rapat-rapat lalu menemui Lisa membawa segelas air.
“Terimakasih mas” ucap Lisa.
__ADS_1
“Engkau baru saja melahirkan dan kehilangan banyak darah. Besok aku akan membawakan mu banyak vitamin dan makanan yang bergizi. Malam ini bertahanlah, cuaca di luar tidak mendukung untuk ku mengemudi mencari keperluan mu” kata Wijaya memperhatikan raut wajah Lisa.